Judul Buku: Gajah Mada, Hamukti Palapa (Buku Ke 3) | Penulis: Langit Kresna Hariadi | Penerbit: Tiga Serangkai, 2006 | Tebal: 694 Halaman

Siapa yang tidak kenal Gajah Mada. Siapa yang tidak tau Sumpah Palapa. Pada buku ketiga ini Langit Kresna Hariadi menceritakan secara detail perjuangan Gajah Mada dalam mempersatukan wilayah Majapahit.

“Untuk mewujudkan keinginanku atas Majapahit yang besar,” ucap Gajah Mada dengan suara yang amat lantang, dan

Untuk mewujudkan mimpi kita semua, aku bersumpah akan menjauhi Hamukti Wiwaha, sebelum cita cita ku terwujud. Aku tidak akan bersenang senang dahulu. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung semata mata demi kebesaran Majapahit. Aku bersumpah untuk tidak beristirahat. Lamun huwus kalah Nusantara ingsun Amukti Palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, ring pahang, ring bali, dompo, sunda, palembang, tumasek, samana ingsun Amukti Palapa….

Itulah Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada di depan raja dan seluruh kerabat istana. Bumi bergoyang, senyap bale mangguntur menyaksikan sumpah yang disaksikan matahari yang menggila. Semua tidak ada yang percaya. Tak satupun yang yakin bahwa Gajah Mada akan bisa menyatukan Nusantara. Gajah Mada tak ragu sedikitpun. Dengan beringas dia menantang tanding siapapun yang meragukan sumpahnya. Dua perwira terpenggal kepalanya oleh amarah Gajah Mada.

Tiga tahun berlalu. Majapahit berhasil menyatukan seluruh wilayah dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Dari suku onin sampai india. Demi sumpah palapa Gajah Mada rela menjadi wadah untuk tumbal ilmu lenyap rogo dan cleret tahun.

Perjuangan Gajah Mada yang berdarah darah diceritakan dengan apik oleh pak Langit sehingga novel sejarah ini dapat disajikan dengan sangat menarik. Pak Langit menuturkan tidak hanya terpaku pada biografi tokohnya tetapi secara komprehensif juga menggambarkan situasi yang berkembang pada zaman Majapahit

Apa pesan moral yang mampu diambil dari novel ini. Siapa yang sungguhsungguh akan berhasil. Setiap perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. Terutama mengenai ilmu rogo dan lesus. Pembaca akan terbuai ketika membaca sesi kisa mengenai ilmu hilang rogo dan lesus serta mendatangkan kabut. Kita akan terpesona mendapati kenyataan bahwa ada hal hal diluar nalar.

Para pembaca buku ini akan disuguhnya cacatatan sejarah yang berhubungan dengan salah satu simbol kenegaraan Indonesia, yakni bendera bangsa Indonesia. Ternyata Bendera Merah Putih yang sekarang kita pakai adalah warisan dari kerajaan majapahit. Bendera Gula Kelapa, sebuah nama yang unik pada masa itu yang sangat mengakar dan merepresentasikan simbol kekayaan alam nusantara. Jika kita boleh berandai-andai, jika sekarang mas ada Mahapatih Gajah Mada, mungkin nusantara ini tetap jaya. Namun, pada akhirnya Majapahit mengalami kegonjangan yang kejayaannya mulai tidak lagi otoritatif. Peristiwa itu diawali dari kisruh perebutan kekuasaan.  Perebutan kekuasaan Majapahit makin menggila seiring hilangnya tiga benda pusaka Cihna Negara, Songsong Udan Riwis, dan Mahkota Raja.

Bonus Saduran Negara Kertagama semakin menambah wawasan kita akan sejarah nusantara. Ada 98 pupuh negara Kertagama yang disuguhkan oleh Langit Kresna Hariadi, si penulis buku ini. Jika anda ingin mengetahui secara meluas seputar kerajaan Majapahit, termasuk perjuangan Mahapatih Gajah Mada yang sangat tersohor tersebut, likaliku Sumpah Palapa, maka membaca buku ini sangat pas untuk mengobati rasa penasaran anda.

Suer, membaca buku ini seperti menonton serial Lord of the Ring. Walau capek, namun mata enggan terpejam sebelum halaman terakhir. Apa alasannya?  Di sembilan pulu delapan Hamukti Palapa, si penulis, yakni Langit Kresna Hariadi telah mampu menciptakan sebuah aliran fiksi-sejarah-budaya sehingga belajar sejarah tidak terlalu berat dibebani oleh hafalan di sana sini. Cara belajar sejarah yang mengalir, bak mendengar sebuah cerita sehingga membikin pembaca jauh lebih enjoy menikmati dunia masa lalu tanpa harus repot-repot menghafal seperti buku pelajaran sejarah.

Saya bisa mengibaratkan dengan membaca buku ini, kita akan berada di dunia antah berantah dan enggan pulang. Lebih top dari Twilight, sebanding dengan Inferno, namun tidak bisa mengungguli Atlantis.

Ditulis Oleh Eko Cahyono. Penggerak Literasi di Perpustakaan Anak Bangsa Desa Sukopuro Jabung Kab. Malang.