Guru hari ini harus segera menyadari bahaya laten ini. Bersegera sadar akan peran pentingnya sebagai ujung tombak perubahan pendidikan. Guru tidak boleh terlena dengan kegiatan administratif yang menurut saya tidak merangsang kreatifitas guru. Guru tidak boleh hanya berpangku pada kurikulum yang paten, namun guru harus peka terhadap kebutuhan anak sehingga kegiatan di kelas seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kurikulum sebaiknya hanya dijadikan sebagai pelengkap dalam mengajar. Kita sebagai guru tidak perlu kaku menjadikan pedoman kurikulum sebagai satu-satunya alat untuk mengajar.

Guru hari ini juga harus peka terhadap perubahan zaman. Guru hari ini dituntut untuk kreatif mengelola kelas. Kreatif merangsang rasa ingin tahu anak sehingga mampu memfasilitasi rasa ingin tahu anak. Kreatif membuat kegiatan yang dapat menumbuhkan karakter anak dan membangun budi pekertinya.

Guru juga harus inovatif mengolah kurikulum. Jika ternyata kurikulum pemerintah terlalu kaku dan terlalu terstandarisasi maka guru harus segera peka untuk melakukan pengembangan kurikulum. Kurikulum boleh dikembangkan sesuai kebutuhan lembaga. Kurikulum bahkan boleh ditambahkan sesuai kebutuhan belajar anak. Kita, para guru, tidak perlu lagi mendewakan kurikulum atau kita seperti tidak bisa mengajar tanpa kurikulum. Bagi saya, justru kurikulum hanyalah sebuah gambaran umumnya saja. Guru dapat menambahkan detail-detail pencapaian perkembangan anak berdasarkan apa yang sudah dikaji oleh sesama guru.

Nah itu baru cerita gurunya kan…. Sekarang saya akan menjelaskan bagaimana kurikulum hari ini benar-benar sangat academic achievement-oriented (berorientasi pencapaian prestasi akademik). Bahkan, gejala ini merambah sejak PAUD yang notabene bukan sekolah tetapi wadah yang disediakan anak untuk merangsang optimalisasi tumbuh kembang anak.

Saya bekerja di An-Naafi tiga tahun lebih. Selama dua tahun terakhir ini saya diberi amanah mengelola kurikulum. Saya akan jelaskan sedikit sejarah kurikulum PAUD (berdasarkan ingantan dan hasil dari berbagai diskusi dengan narasumber). Dulu, pemerintah mengeluarkan kurikulum yang disebut sebagai kurikulum generik. Sebelumnya, tidak ada kurikulum yang terstandarisasi seperti sekarang ini.

Pemerintah kemudian meluncurkan sebuah bangun kurikulum generik. Berdasarkan hal itu, pemerintah lantas merevisi kurikulum melalui penerbitan Permen 158 yang berisi mengatur jenjang PAUD. Dengan adanya perubahan kurikulum besar-besaran, akhirnya pemerintah mengeluarkan kurikulum PAUD 2013 yang berisi tentang standar PAUD dan kurikulum PAUD. Kali ini lebih detail isinya. Karena di situ diisi dengan standar mendirikan PAUD, seperti rasio guru, ukuran ruangan, dan standar isi ruangan sebagaimana ketentuan dari pemerintah. Intinya, kalau akan mendirikan PAUD, itulah aturan bakunya. Di Permen tersebut juga mencakup kurikulum PAUD. Termasuk cakupan perkembangan anak usia 4-5 tahun meliputi indikator pencapaian perkembangannya seperti aspek agama dan moral, kognitif, psikomotorik, bahasa, serta sosial emosi. Permen ini menjadi terasa lebih lengkap.

Sebagai wakil kurikulum, saya memiliki kesempatan untuk mengamati pelaksanaan kurikulum tersebut selama dua tahunan. Saya menemukan di dalam kurikulum ternyata memuat indikator pencapaian kognitif lebih banyak dibanding dengan indikator sosial emosi, nilai agama dan moral. Padahal salah satu tujuan diantara output anak PAUD sendiri adalah menjadikan insan berbudi pekerti.  Faktanya, kurikulum yang ada didominasi oleh konten kognitif dibanding dengan konten nilai agama dan moral itu sendiri.

Suatu contoh, di usia 5-6 tahun, kurikulum PAUD menjunjukkan jika indikator kognitif ditemukan lebih dari 50 indikator, sedangkan untuk aspek sosial emosional dan nilai agama moral hanya sekitar ¼ dari indikator kognitif. Saya juga mengkritik bahwa indikator sosial emosi terlalu sedikit sehingga memicu guru hanya mendesain pembelajaran sosial emosionalnya sebatas itu-itu saja.

Guru secara tidak sadar juga membatasi aspek sosem dalam memfasilitasi anak-anak di sekolah oleh karena indikator sosem di kurikulum juga dibatasi. Padahal tujuan kurikulum yang menjadi kebijakan pemerintah adalah menjadikan output anak PAUD sebagai insan yang berbudi pekerti. Seharusnya guru peka dengan ketimpangan ini. Melihat kenyataan itu semestinya guru mampu bergerak kreatif agar aspek sosem anak-anak bisa mengimbangi dominasi indikator kognitif yang tercakup di kurikulum PAUD. Dengan begitu anak-anak mampu berinteraksi dengan teman sebayanya sehingga indikator perkembangan sosial emosi bisa sangat jauh melampaui cakupan indikator yang ditentukan pada kebijakan kurikulum PAUD dari pemerintah.

Kalau seperti itu mau dinamai apa? Antara keinginan ideal dan konten kebijakan berbanding terbalik. Jadi, tidak salah kalau guru pun masuk dalam perangkap salah kaprah menerjemahkan kurikulum. Lah wong gak mathuk. Keadaan inilah yang menjadikan saya geram. Konten tersebut sama saja membuat guru terjebak pada narasi teks kurikulum yang mengondisikan secara tidak disadari para guru dalam kegiatan pembelajaran jatuh pada fokus pencapaian kognitif saja sebagaimana amanat kurikulum. Sedangkan sosial-emosional anak terbengkalai.

Ada lagi yang lebih parah. Pemerintah menerapkan jargon revolusi mental, namun pada praktiknya, materi pendidikan dibuat justru jauh dari membangun budi pekerti anak bangsa. Betapa tidak. Tema yang diberikan pemerintah cenderung hanya tema-tema yang memberikan pengetahuan saja bukan pada pengetahuan yang dapat menumbuhkan budi pekerti. Contohnya tema dari pemerintah. Tema mengenai alam semesta dan pekerjaan. Tema alam semesta, menurut saya jika guru hanya menerangkan tentang planet, hal itu tidak relevan dengan kegiatan sehari-hari anak dan lifeskill yang dibutuhkan seusia anak PAUD. Bagi saya guru boleh memberikan materi apa saja, asal selalu disangkut-pautkan dengan bagaimana mengembangkan lifeskill anak.

Saya dan tim An-Nafi’ mulai mencoba melakukan perubahan sedikit demi sedikit melalui pendekatan riset belajar. Kami tidak sepenuhnya menggunakan tema yang diberikan pemerintah. Kami membuat tema seperti bagaimana cara merawat pakaian, diri sendiri, dan caranya mengungkapkan perasaan. Tema tersebut menurut kami lebih relevan dan tepat guna bagi kehidupan anak sehingga apa yang disampaikan di sekolah akan menjadi berguna bagi kehidupan keseharian anak. Inilah yang dimaksud dengan Ki Hajar Dewantara sebagai pendidikan harusnya relevan dengan kehidupan.

Inilah yang saya sebut lagi bahaya laten. Lembaga pendidikan harusnya segara peka untuk mengembangkan kurikulum berbasis riset lembaganya sendiri. Riset seperti ini dapat melibatkan semua guru untuk kreatif dan inovatif mengembangkan kurikulum berdasarkan kebutuhan anak.

Sudah saatnya para guru sadar, bukan lagi disadarkan, tapi tiap-tiap guru harusnya merenung kembali. Indonesia butuh guru yang kreatif dan inovatif. Indonesia butuh guru yang mau terus bergerak menemukan cara belajar yang menyenangkan. Indonesia butuh guru yang memiliki semangat pembelajar bukan guru yang terus mbelajari anak-anak. Pendidikan di Indonesia butuh perubahan dari gurunya untuk berani berinovasi, bukan perubahan kurikulumnya, karena kurikulum hanyalah alat yang bisa dimodifikasi.

Sekian dari saya. Salam perubahan untuk guru sang pembelajar sejati (2 dari 2 tulisan | habis).

 

© Choirun Nisa’. Wakil kurikulum dan fasilitator pembelajaran PAUD Omah Bocah An-Nafi’ Malang. Saat ini sedang bergiat melakukan penelitian kolaboratif dengan Mohammad Mahpur untuk modifikasi permainan tradisional guna memaksimalkan tumbuh kembang sosial-emosional anak