Pertanyaan. Bapak yang terhormat, saya pemuda berusia 27 tahun dan akan segera melangsungkan perkawinan. Ada sedikit permasalahan dengan orang tua saya. Saat ini Ayah saya sudah pensiun dan menikmati masa-masa tuanya. Beliau berusia kurang lebih 64 tahun. Sejak beberapa bulan belakangan ia selalu bercerita tentang bagaimana ia bekerja dan menjadi mandor di beberapa tempat diluar pulau Jawa dahulu. Walaupun ceritanya penuh dengan pengalaman dan semangat namun yang menjadikan tidak menarik adalah cerita itu disampaikan berulang-ulang baik kepada teman-teman saya yang datang ker umah, kepada calon mertua saya sampai kepada tetangga-tetangga sekitar. Yang lama kelamaan menjadikan beberapa orang menjadi merasa terganggu dan sebal. Yang saya takutkan ini akan menjadi permasalahan dengan mertua dan calon istri saya. Kira-kira bagaimana saya harus mensikapinya ya Pak. Atas bantuan bapak saya sampaikan terima kasih banyak (Muchtar – Arjosari, 089801xxxx).

Terima kasih mas Muchtar,

Saat usia semakin bertambah (usia lanjut usia/lansia) dan tiba waktu pensiun, energi fisik dan pikiran yang semula tercurah pada pekerjaan bergeser menjadi memori (kenangan) masa lalu. Karena aktifitas fisik turun, memori menguasai dan mewarnai kisah-kisah kehidupan. Keadaan ini wajar dan dapat dimaklumi. Memasuki pensiun seseorang sedang menghadapi masa transisi. Dia berusaha mencari penguatan jati dirinya untuk melakukan penyesuaian diri dengan hidup barunya. Salah satu cara mengekspresikannya dengan mengemas kedalam cerita masa lalu. Cerita itu dapat bermakna impresif (terkesan), meyakinkan dan kaya.

Sebagai bagian dari keluarga, perlu kiranya kenyataan itu dipahami. Gejala itu tetap sehat selama tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa orang tua anda merasa kehilangan pekerjaan terus-menerus, menyesal mengapa harus segera pensiun, dan terjadi perubahan emosi yang menyebabkan terganggunya hubungan sosial, sakit, tidak percaya diri dan tanda-tanda lain yang tidak biasa terjadi tetapi sangat menggangunya.

Sebagai anak, menerimanya adalah sikap bijak karena pada dasarnya manusia itu pemilik cerita atas kisah hidupnya. Tidak ada salahnya menebar cerita pengalaman masa lalu. Mendengarnya dengan baik dan memberi umpan balik yang positif justru mengasah cerita itu menjadi bagian dari berbagi pengalaman. Hal ini merangsang pikiran orang tua menjadi lebih kritis. Anda juga bisa mengolah cerita masa lalu itu menjadi bahan diskusi bersama orang tua. Umpan balik tersebut memiliki dampak menghidupkan pemikiran bersama dan kualitas interaksi tidak monoton. Justru respon positif ini menjadi bahan dialog yang membantu orang tua Anda mendapatkan dunia sosialnya setelah pensiun. Karena bagaimanapun orang tua Anda membutuhkan sosialisasi menjalani masa-masa pensiun.

Saya menyarankan, menerima dengan pikiran terbuka atas perubahan tersebut adalah sebuah keniscayaan. Tempatkan diri Anda sebagai bagian dari teman yang membantu menghadapi masa pensiun semakin matang. Selain itu, menawari kegiatan tertentu, memberi kesempatan atau mendukung aktifitas-aktiftas fisik, sosial, ekonomi, kesenian, atau keagamaan bagi orang tua akan membantu masa pensiunnya menjadi produktif dan menyehatkan. Kegiatan ini dapat memecah eskalasi orang tua untuk tidak terpaku pada cerita kebanggaan masa lalu yang akhirnya berdampak kurang sehat.

Menghadapi dengan realistis perubahan tersebut akan membantu kita mampu menjadi pengondisi sosial yang positif sebagai bentuk menciptakan dukungan sosial yang berarti. Tentang ketakutan akan menimbulkan masalah dengan calon istri dan mertua, ada baiknya Anda justru menjadi penyeimbang hubungan-hubungan yang akan terjalin menjelang pernikahan. Anda bisa memberi penjelasan ke istri, atau calon mertua, jika memang hal itu menjadi masalah bagi mereka melalui cara-cara yang baik sehingga peran sebagai calon mantu justru menjadi penyejuk hubungan dua keluarga. Anda juga bisa memberi masukan ke orang tua dengan cara yang halus atau meminta bantuan pada pasangan orang tua untuk membantu memberi penjelasan. Penjelasan ini tetap dalam kerangka berbagi dan sedapat mungkin menghindari memberi masukan yang bersifat memojokkan atau menyalahkannya. Menolak perubahan itu, menjauhinya, dan membenci kenyataan tersebut, saya sendiri kok merasa bakti kita terhadap orang tua sedang diuji. Wallahu A’lam Bi Al-shawab.

Artikel ini pernah dimuat dalam sebuah rubrik konsultasi psikologi Majalah Lazis Sabilillah Malang, bulan Desember 2013an. Saya sajikan ulang di sini karena saya rasa menarik untuk bisa saya bagikan ke khalayak.