Sosok Churi’atul khasanah sudah lima tahun mengayuh rizki di Taiwan. Jebolan guru PAUD delapan tahun dan guru SD lima tahun akhirnya harus meninggalkan anak-anaknya untuk menghidupi keluarganya bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita ke Taiwan. Tentunya sebuah tanggungjawab yang berat, apalagi dia seorang ibu rumah tangga yang tidak bisa lepas harus tetap menjadi bagian yang turut bertanggungjawab menjamin masa depan anak-anaknya.

Saya, Mohammad Mahpur, pengelola blog metanarasi.com berkesempatan chatting melalui whatsapp mengungkap lebih dekat mengenai pendapat dia dan pengalaman mengasuh anak dari jarak jauh, yakni dari Taiwan. Chatting ini saya lakukan untuk mengondisikan nara sumber saya mampu menulis pendapat dan kisah-kisah istimewa sehingga dapat dibaca orang lain. Saya memanfaatkan teknologi ini sebagai pemandu literasi keberdayaan bagi setiap orang.

Mari kita lihat pendapat dan curahan hati bagaimana cara dia mengasuh anak dari jarak jauh (Long Distance Parenting).

Churi’atul khasanah. Anak adalah anugerah terindah yang Allah amanah ke kita sebagai orang tua. Dalam mengasuh anak, orang tua jangan memperlihatkan egonya ataupun juga tidak boleh diktator. Seperti halnya orangtua yang ingin dimengerti anaknya, seharusnya orang tua harus begitu juga mengerti apa yang anak-anak inginkan. Dalam arti, harus ada umpan balik. Seorang anak ingin bebas melakukan apa yand diinginkan dalam mengembangkan bakatnya. Untuk itu anak membutuhkan tempat. Disinilah peran orangtua dituntut oleh anak. Maksudnya, bisakah orang tua menjadi segalanya bagi anak di dalam kondisi dan keadaan yang berbeda.

Dalam fase-fase tertentu orangtua harus bisa menjadi bunglon. Disaat anak memerlukan tempat bercerita maka orangtua haruslah menjadi pendengar yang setia. Jangan orang tua membatasi anak menceritakan pengalamannya atau imajinasinya. Kalau mereka sudah bercerita, orang tua baru memberikan pendapatnya dengan menunjukkan apa saja yang tidak sesuai. Tugas orang tua adalah meluruskan dan memberi pengarahan ke anak-anak jika yang diceritakan itu tidak sesuai dengan jalur yang baik. Disaat anak menginjak remaja, orang tua harus bisa menempatkan diri sebagai sahabat, bukan sebagai orang tua.

Ibarat kata, orang tua memakai sistem menggembala dalam mendidik anak. Anak jangan ditakut-takuti, tetapi buatlah anak itu segan sama orang tua. Nah, di sini yang perlu orang tua ketahui. Kalau anak takut dengan orang tua maka anak akan berkembang tidak baik dalam segi kejiwaan dan mental. Mengapa demikian? Anak akan merasa dibatasi atau dikekang ruang geraknya sehingga hal demikian jelas akan membebani psikis anak. Anak tidak bisa berkembang dengan baik, terutama dalam pemikiran mereka. Akan tetapi, kalau anak segan terhadap orang tua, tentunya dia akan belajar lebih bisa menempatkan diri. Anak terlatih mampu berpikir lebih matang dan tidak tergesa-tergesa dalam mengambil keputusan, bahkan sangat berhati-hati dan selektif.

Pengalaman seperti apa yang bisa menguatkan pandangan tersebut dalam menguatkan sudut pandang anak?

Ya tentu saja. Itu caraku mendidik anak. Alhamdulillah berhasil walaupun aku di Taiwan, kedua anakku masih tawadhu’. Mereka selalu meminta pendapatku kalau akan melakukan sesuatu. Kalau aku bilang tidak ke mereka dengan disertai alasan yang mereka bisa mengerti, maka mereka akan melakukan apa yang tidak aku benarkan. Jikalau mereka minta sesuatu melebihi batas yang aku punya, maka aku memberi pengertian kepadanya bagaimana mereka agar tidak memaksakan kehendak. Alhamdulillah mereka terkontrol juga sampai detik ini.

Aku mendidik mereka bagaimana caranya memanfaatkan keluarga. Biar mereka mempunyai rasa bahwa keluarga segalanya. Keluarga tempat berbagi segala suka dan duka. Aku selalu mengatakan kepada mereka, jadikan ibumu ini sebagai teman, sahabat dan orangtua. Jadikan ibu sebagai tempat kamu berbagi cerita dan problematika yang sedang kamu hadapi. Kalau ibu tidak bisa memberi solusi terkait dengan masalahmu, maka ibu punya banyak teman untuk ibu bertukar pikiran. Jangan sampai orangtuamu mengetahui masalahmu justru dari pembicaraan orang lain. Ibu tidak suka hal yang seperti itu.

Sebuah contoh komunikasi antara ibu dan anak melalui pesan handphone berikut ini merupakan cara aku bagaimana memandu pengambilan keputusan anak-anakku mengenai kepemilikan handphone.

Anakku. Buk, lek aku mondok, Hpne gak sido no.

Aku. Sido nduk. Tenang ae. Tapi mberesi bayarane sampeyan disek. Konsone ibuk balik bukan 8, tak titipne kui engko. Wis ora usah mikir HP. Karo ibuk mesti ditukokne. OK.

Anakku. OK. Aku mek tekok tok ko Buk. Lek gak sido yo gak apa-apa. Lek sido yo alhamdulillah. Tapi aku mondok ndak gowo HP koyoke Buk kok. Hpne nggak kangge.

Aku. Yo didelok disik nduk, angsal nggowo HP mboten. Lek oleh, karo ibuk ditumbasne, lek mboten Yo lek numbasne lek ibuk balik nggih.

Anakku. Jarene oleh tapi dititipne neng kantor. Yo ngono kui podo karo karuan gak usah ditukokne. Kapan-kapan wae lek tuku. Nggeh pun aku arep turu buk. Good night Buk. Aku sayang ibuk. Daaa

Aku. Ngiih ibuk manut sayang. Ibu juga mau tidur. Good night has been sweet dreams. Muuuaaahhhh…. Love you too my angel.

Wah, saya menjadi tertarik untuk mengetahui bagaimana cara seorang ibu ini yang bekerja di Taiwan memerankan sebagai ibu yang juga mengasuh anak dari kejauhan. Kapan dan seperti apa anda mengatur cara komunikasi dengan anak-anak anda ?

Yang pasti, aku wajib untuk menelpon anakku satu minggu sekali, tetapi aku hanya bisa menelpon dia tiga sampai empat kali seminggu, walau aku hanya menggunakan waktu lima sampai sepuluh menit karena keterbatasan pusla. Diluar itu, kalau anakku perlu sesuatu, dia pasti mengirim SMS dan menyampaikan pesan, “Bu mangke lekne sampun istirahat, panjenengan telepon sekedap, kulo wonten perlu.” Jika mendapat pesan itu, aku selalu mengusahakan sebisa mungkin untuk memastikan aku menelpon dia walaupun pulsa saya udah menipis. Aku tanamkan ke anak-anakku kalau ibunya selalu ada untuk mereka, walaupun jauh divnegara orang. Jadi mereka tidak merasa kesepian ataupun tidak diperhatikan.

Tentunya jarak yang amat jauh, anak-anak memiliki pendamping atau peran pendukung dalam membesarkan mereka, siapa peran pendukung itu dan bagaimana cara kamu mengondisikan bekerjasama untuk membesarkan anak-anakmu?

Pendukung utama peran mengasuh anak saya adalah ibuku karena beliau yang merawat anak-anakku, lalu kakak-kakakku yang ikut mengawasi mereka karena suamiku juga bekerja ditempat yang jauh. Sekarang anakku yang gadis masuk pondok. Akupun pada akhirnya memilih untuk melibatkan orang dalam lingkup pondok. Alhamdulillah, ada kerabatku yang mengajar di pondok tersebut. Jadi, selain saya berkomunikasi langsung dengan anakku, sebelum aku menanyai langsung ke anakku, terlebih dulu aku tanya ke pengasuhnya di pondok. Hal ini aku lakukan untuk mensinkronkan antara anak dan pengasuh.

Bagaimana anak anda berusaha untuk mampu menerima peran anda yang seharusnya tidak tergantikan?

Tetap kembali pada komunikasi. Meskipun jauh, aku tepat berusaha berkomunikasi dengan mereka secara baik. Komunikasiku tidak hanya menanyakan urusan yang penting saja tetapi aku dan anakku juga berusaha menciptakan suasa hangat dan dekat. Seakan kami bukan lagi berkomunikasi melalui media telepon. Kami selalu bercanda juga dalam ketika berkomunikasi. Cara seperti ini memang aku ambil dari kebiasaan aku sehari-hari waktu masih di rumah. Aku selalu memberi motivasi sebagai pesan penting yang harus aku tekankan padanya sebelum menutup telepon.

Aku selalu mengatakan kepada mereka, “ayo sayang, kita sama-sama berjuang untuk masa depan. Buktikan kalau keluarga kita juga bisa seperti mereka. Ibu di sini yang bekerja dan berdo’a. Kamu dan adik yang mewujudkannya.”

Dan mereka selalu menjawab, “nggih Bu, kulo kalih adik berusaha tidak akan mengecewakan njenengan. Perjuangane njenengan mboten bade sia2 Bu. Ibuk kedah yakin dan percados kalih kulo lan adik.”

Semua keluarga berjarak. “Semangat dan angan masa depan apa yang perlu terus kamu camkan ke anak-anakmu”?

Ya itu tadi. Hidup harus punya tujuan yang wajib diwujudkan, baik itu untuk jangka panjang dan pendek. Anak-anakku punya cita-cita yang berbeda. Bagaimana untuk mewujudkan, ya orang tua harus memotivasinya. Aku selalu menyampaikan ke mereka, “ibu akan berusaha sekuat daya untuk mewujudkan cita-cita kalian. Ibuk yang mencari biaya. Dengan apa kalian berusaha mewujudkannya? Belajar yang giat dan berdoa dengan sungguh-sungguh memohon kepada Allah untuk cita-cita tersebut. Istiqomahlah dalam berdo’a.”