Saat kongkow bersama teman-teman Gusdurian Malang di kedai kopi Tjangkir 13, pada Rabu 9 September 2015 pukul 21.00 WIB tersemai sebuah kesimpulan bahwa pengalaman perdamaian dan daya cipta hidup toleransi tidak mungkin bisa disemai dengan baik jika anak-anak tidak dilatih menyikapi kehidupan dalam kebenaran jamak. Anak-anak di sekolah diberi pelajaran dengan mengacu pada kebenaran tunggal. Metode belajar lebih banyak didominasi cara mengerjakan jawaban dengan satu cara dan terpandu secara monologis dari tutorial seorang guru.

Ide tulisan ini memang sudah lama tercatat di laptop, tetapi saya mempunyai kesempatan menulis dengan lengkap pada saat ini.

Semua anak diarahkan untuk masuk dalam sebuah rel, yang namanya kebenaran tunggal. Jikalau ada anak yang menyimpang dari rel tutorial guru atau buku teks, dia akan terekam memiliki pekerjaan yang salah, jika dia memiliki rel sebagaimana cara guru memandu, maka diapun akan mendapat apresiasi anak yang pintar. Setiap murid mengejar kebenaran tunggal, bahkan pilihan ganda pun merupakan sebuah uji kepintaran seorang murid untuk memenuhi kriteria kebenaran tunggal.

Demi mengejar kebenaran tunggal, sejumlah cara ditempuh. Siswa dan guru berskongkol melalui ketidakjujuran untuk mengamankan kredibilitas sekolah ketika anak-anak yang tidak mampu menangkap kebenaran tunggal ujian, maka seluruh sekolah dianggap gagal. Kebenaran tunggal telah melahirkan bias penalaran untuk mencapainya dan membuktikannya. Kebenaran tunggal membawa implikasi terhadap pengujian yang mengindahkan tentang nilai kebenaran. Sosok pembelajar tidak didorong menjadi sang pencari dan penemu kebenaran secara otentik menggunakan nalarnya.

Tidakkah itu sebuah kondisi bernalar yang tidak mendukung kematangan cara berpikir murid untuk mampu menemukan sudut pandang kebenaran yang lahir dari kesadaran penuh seorang pembelajar. Untuk mencapai kebenaran otentik, ruang pencarian dan penemuan semestinya diberi ruang bagi sang pembelajar sehingga kebenaran yang ditemukan lahir dari kesadaran penuh dalam proses penalaran. Tetapi pada konteks pembelajaran dalam mencapai kebenaran, anak-anak jarang diberi kelonggaran untuk menemukan ruang berpikirnya untuk sampai pada kemampuan menemukan kebenaran menurut penalaran dirinya.

Sepertinya tidak adil meninjau teknik menjawab soal melalui pilihan ganda untuk kasus toleransi karena sifat ujian prestasi menggunakan norma kuantitatif dan pasti. Ya, saya akan mencoba menguraikan lebih lanjut.

Jika keadaan tertentu memenuhi syarat, maka dia akan menyebabkan peristiwa baru. Penjelasan tersebut menggunakan logika rasional berdasarkan hukum premis minor-mayor dan konklusi. Penjelasan ini ada di bahasa Indonesia atau kuliah filsafat. Untuk mencapai kebenaran jalan pintas dan pasti, memang sudah ada, siswa berlomba-lomba menghafalkan satu jalan kebenaran itu dengan pintas. Semakin hafal semakin baik dan kalau tidak sesuai dengan itu, pasti salah. Kebenarannya monologis dan mengekor pada kebenaran tunggal masa lalu.

Kita akan melihat berbeda ketika sebuah proses belajar untuk memahami sebuah kebenaran yang merdeka dari diri murid. Memang sudah ada kebenaran yang lalu dari teori, namun tatkala ujian pilihan ganda diberikan, maka pembelaran akan cenderung menganut hukum pasti, tekstual dan mencari kebenaran tunggal yang sudah diwarisi. Mereka tidak menggunakan teori tekstual itu untuk mengonstruksi pencarian kebenaran yang diinginkan sehingga penalaran logis anak tidak berfungsi kreatif, apalagi produktif, ya karena teori itu tidak dibuat untuk mencari tahu kebenaran-kebenaran yang diinginkan siswa, tetapi kebenaran yang diinginkan oleh buku dan guru.

Berbeda ketika kebenaran yang bersifat teoritis diajarkan untuk menemukan kebenaran atau penemuan baru. Para pembelajar akan menggunakan teori kebenaran tersebut untuk menjawab fenomena yang ingin dipahami sehingga dia dikenalkan pada suatu khazanah berpikir bahwa jalan kebenaran dapat ditempuh menggunakan aneka sudut pandang. Anak diberi ruang berbeda untuk menemukan dan mencari kebenaran. Keragaman jalan, sudut pandang, dan ruang berpikir yang merdeka tetapi tetap terbimbing melalui tangan-tangan pro-aktif guru, meniscayakan anak menjadi pembelajar yang berpikiran terbuka.

Di sinilah sebenarnya urgensi kritik atas penerapan pilihan ganda terhadap penalaran toleransi. Kebiasaan membangun sudut pandang monologis yang direplikasi dalam berbagai bentuk ujian pilihan ganda, bagi saya hanya menyisakan generasi dengan penalaran monologis sehingga akan sulit diajak berpikir lebih luas dan terbuka. Apalagi menyangkut perbedaan.

Saat kebenaran tunggal hampir menjadi tradisi berpikir generasi, dia akan lebih banyak shock ketika dalam kehidupan nyata bahwa ada berbagai sudut pandang kebenaran yang ada sebagai bagian dari pilihan-pilihan kebenaran (Mohammad Mahpur).