Mengonstruksi Gagasan

Mengonstruksi Gagasan

Cara mengajar menentukan kualitas belajar siswa. Cara mengajar yang terbiasa dan bisa disebut kebanyakan, semakin terpenjara dalam kultus “keguruan”, meski berbagai istilah disematkan pada perubahan cara belajar mengajar. Tips berikut saya buat menjadi pengingat terhadap peran guru. Bagi guru yang sudah menerapkan saya berikan apresiasi dan silahkan pengalamannya dibagikan. Saya mencoba mengingat-ingat (tanpa membuka buku) kira-kira teknik mengajar yang baik saat saya mengambil mata kuliah mikro-teaching pengajaran menjelang kegiatan PPL saat menjadi mahasiswa S1 Tarbiyah.

Seiring berjalannya waktu dan pengalaman mengajar selama ini, saya merasa cara mengajar membutuhkan pergeseran praksis. Saya hanya merenung dan mengangankan, meski lulusan sarjana Tarbiyah/Keguruan/Pendidikan yang muda banyak mengisi profesi guru di sekolah, rasanya mereka tidak sanggup keluar dari budaya “keguruan”, yakni “terlalu taat pada kurikulum dan desain intruksional yang administratif”, sehingga spirit inovasi tak jarang belum mampu didedahkan dalam proses belajar.

Amatan lain yang perlu saya utarakan, saat saya hunting buku dan melihat sejumlah penyelenggaraan pendidikan alternatif seperti Qoryah Tayyibah di Salatiga dan SALAM di Yogyakarta, mereka mampu menggeser peran “keguruan” dari kelakar kurikulum dan desain instruksional yang memenjarakan guru untuk tidak sempat berntidak kreatif. Mereka tidak merujuk pola pendekatan berbasis kurikulum, namun siswanya mampu berkembang menjadi sang pembelajar yang merdeka. Mampu mengembangkan diri, menjadi pribadi kreatif, tidak kalah kompetisi dengan sekolah formal dan yang membanggakan, mereka yang dihantarkan belajar tanpa kurikulum formal, anak-anak yang mereka fasilitasi mampu menjadi pencipta-pencipta cilik.

Atas inisiatif ini, saya tergerak membuat catatan status 9 tips mengajar di di akun facebook saya untuk menularkan inspirasi saja. Potongan tips ini saya kumpulkan menjadi satu dan tidak saya uraikan. Males kali yeee……. Kumpulan tips ini saya sajikan bagi facebooker yang belum sempat mengikuti rutin secara harian, maka dapat melihat di sini secara runtut. Tips ini tidak didasari berpikir sistematis, bahwa yang tips kesatu adalah tips permulaan. Jadi, anda bisa membaca secara acak. Silahkan dibaca sebagai kado weekend dari saya untuk anda.

Tips Mengajar 1 : Apakah suara yang dikeluarkan oleh Guru, Dosen atau Pengajar lain sudah disadari “tone”nya ? Jadi bagi pengajar, mengolah suara seperti tinggi, rendah, kapan memberi tekanan dan menurunkan tone suara adalah bagian dari ketrampilan yang perlu dikembangkan dalam mengajar. Seorang pengajar selalu memiliki kepekaan untuk mengolah suaranya agar memiliki daya tarik bagi pendengarnya (siswa).

Tips mengajar 2 : Metode ceramah Guru bukan pengandaikan seperti seorang yang sedang presentasi pada sebuah seminar, asyik dengan dirinya sendiri untuk menghabiskan materi yang sudah disiapkan, tetapi sebagian waktu mengajar diperlukan waktu berbagi dengan siswa. Peran guru adalah “membimbing dan “belajar bersama siswa”, bukan menceramahi. Kalau di X Factor itu seperti mentor, atau di Voice Indonesia/master chef itu coach (pengetahuan).

Tips mengajar 3 : Menarilah. Apa artinya ? Guru membangun interaksi dalam kelas secara dinamis. Menambah gerak tubuh dalam berceramah akan menambah daya perhatian. Bergerak ke keluar dari tempat berdiri sangat dibutuhkan agar komunikasi berjalan empatik, yang membangkitkan pusat perhatian. Coba lihat Mario Teguh ketika berbicara, kadang dia bergerak mendekati penonton, “menari kecil” (meliukkan tubuh sewajarnya) agar bicaranya atraktif dan penuh penekanan. Jadi, jika ada anak yang bertanya, guru bisa bergerak mendekati siswa, bukan mendengarkan di meja guru atau di depan, atau ketika kerja kelompok guru dapat mendatangi kelompok-kelompok siswa, bisa duduk sejenak mencoba menanyakan apakah ada masalah atau membantu merangsang kelompok yang merasa kesulitan. Berpindah lagi ke kelompok lain. Guru hanya bertanya pun tidak masalah seperti, “bagaimana, ada masalah di kelompok ini ? “. Inilah yang saya sebut “MENARILAH”

Tips mengajar 4 : Keluarkan siswa dari penjara tempat duduk/meja yang tertata seperti orang berbaris, yang mengharuskan siswa “wajib menatap” guru sebagai “komandan” pleton sepanjang pelajaran. Menurut saya, tidak ada peraturan yang mewajibkan penataan ruang kelas dengan tempat duduk seperti itu. Ia hanya kebiasaan yang berada dalam perangkap belajar feodal warisan Belanda. Ubah secara dinamis berdasarkan kebutuhan. Bangku/kursi bukan sarana pendisiplinan, tetapi alat bantu dan alas agar siswa mudah menulis. Bahkan jika meja dan tempat duduk membatasi gerak dan dinamika interaktif antar-siswa untuk kerja kelompok, tidak ada dosa kita singkirkan, lalu dibiarkan siswa “lesetan” guna mengembangkan temuan, penyelelidikannya, menjajar materi, mengembangkan ide dan mengonstruksi pengetahuan yang mereka kompilasi dari pikiran-pikiran antar-siswa. Lalu rayakan keberhasilan mereka

Tips mengajar 5 : Beralihlah dari mengandalkan peraga tekstual (buku) ke peraga kontekstual. Apa itu ? Suatu contoh : Kalau belajar tentang tumbuh-tumbuhan, ajak siswa langsung hunting tentang tumbuh-tumbuhan di luar kelas. Siswa diajak menyelelidiki dan melakukan penelitian (tentu sesuai usia anak) tentang tumbuhan yang diminati. Kedudukan buku dengan demikian dijadikan sebagai “bahan menambah pengetahuan”, bukan menjadi tujuan belajar yang murid terbiasa menghafalkan buku. Melalui peraga kontekstual buku dijadikan rujuan pengetahuan dan siswa dilatih mengonstruksi pengetahuan yang mereka dapatkan melalui “menulis dan presentasi” hasil huntingnya. Kalau masih berat diberlakukan untuk semua mata pelajaran, guru dapat memilih satu pelajaran yang sekiranya siap menggunakan metode belajar kontekstual tersebut.

Tips mengajar 6 : Ajari atau bimbing anak untuk belajar “mencipta” pengetahuan dan bukan “mengonsumsi” pengetahuan. Pembelajaran yang semata-mata terpusat pada buku ajar, dan bukunya itu-itu saja hanya mengerdilkan anak sebagai konsumsi pengetahuan, bahkan obyek pasar buku dari para penerbit yang sudah kong kalikong dengan sekolah. Mereka terbiasa menghafal tetapi tidak dibiasakan mengonstruksi pengetahuan atau mencipta pengetahuan.

Tips mengajar 7 : Jika ada pertanyaan atau ide dari siswa yang aneh, berbeda dan berlawanan dengan pendapat guru. Sebagai guru jangan reaktif. Dengarkan dan upayakan untuk memfasilitasi siswa agar berkembang berdasarkan talenta. Memang berat, tetapi dari sinilah mereka akan menjadi sang pembelajar

Tips mengajar 8 : memberikan apresiasi atas perbedaan kemampuan dan hasil akhir dari proses belajar. Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda, maka guru melaporkan keunggulan masing-masing siswa agar siswa merasakan apresiasi atas proses belajar yang dilalui selama satu semester berlangsung. Guru memanusiakan siswa telah terlibat aktif dalam kurun belajar satu semester. Dengan demikian, secara pribadi saya menolak perankingan karena pilihan laporan semacam ini membanggakan beberapa pihak saja, tetapi mengerdilkan/mendiskriminasi beberapa yang lain

Tips mengajar 9 : Saatnya rapotan, bagi bapak dan ibu guru, dalam menulis saran dari guru kelas ke siswa atau orang tua di kotak di bawah nilai mata pelajaran, seringkali catatannya amat klasik seperti ini : “belajarnya ditingkatkan, jangan banyak ngomong, berdoa dan rajin belajar agar prestasinya baik”. Hmmm….kalau saya bikin tawaran begini bagaimana bapak/ibu guru : “Si Fulan, itu jika dilihat dari kemampuan paling dominan, dia nampaknya lebih mencintai pelajaran Bahasa Indonesia, karena nilai tertinggi di rapotnya Bahasa Indonesia, maka Fulan rajin-rajin membaca buku cerita, latihan menulis dan perbanyak membuat puisi. Bagi bapak/ibu di rumah, mohon difasilitasi agar Fulan diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bahasanya, seperti diberi waktu latihan menulis di rumah, dibelikan buku bacaan kesukaan, kalau nanti di rumah ada hasil-hasil tulisan, ibu/bapak bisa membawa ke sekolah untuk kami apresiasi sebagai buah kemajuan prestasi Fulan”. Saya berpendapat saran ini lebih memanusiakan siswa, buah dari kritisi perangkingan yang tidak memberikan kesan menghargai proses belajar.