Setelah aku lulus dan menjadi sarjana BK (Bimbingan Konseling) Universitas Negeri Malang, kami hijrah ke Jakarta karena ustadz Manaf dipindah kerja. Kami menempati rumah dinas dari sebuah perusahaan pelayanan jasa konstruksi. Rumah itu begitu besar, megah dan menjadi bagian dari rajutan keluarga islami.

Sebagai muslimah, aku mengelola rumah agar suamiku mendapati bunga-bunga surgawi di rumah sendiri. Ini adalah inti ajaran nabi, bahwa “sebaik-baiknya perhiasan adalah istri atau perempuan sholihah”. Aku ingat betul ketika zauji, yang dulu rutin mengisi pengajian mingguan di mushola At-Tibyan, mengulang-ulang hadits nabi tersebut sehingga ingatan itu begitu bercokol di luar kepalaku. Aku harus menjadi hiasan di antara hiasan. Ini adalah satu dari sekian praktik menjadi muslimah”.

“Umi. Islam di Indonesia ini perlu ditegakkan. Kewajiban kita sebagai muslim taat harus memperjuangkan Islam menjadi bagian hukum-hukum negara ini. Lihat, karena tidak diberlakukan hukum Islam, pornografi merajalela, kemaksiatan mengumbar di mana-mana, perempuan membahanakan auratnya di jalanan. Itu sebabnya banyak kasus-kasus pelecehan seksual. Karena tidak diterapkan hukum Islam pula, pemerintahan kita menjadi carut-marut”.

“Iya bi. Saya berpikir perempuan di Indonesia harus dibelajari untuk menutup aurat mereka dengan benar”.

“Ya..betul mi. setidaknya kecantikan perempuan itu hanya untuk suaminya. Betullah apa yang Umi perbuat dan lakukan pada Abi. Tubuh yang seksi, kan hanya untuk suami. Perempuan di luar pun meskipun berjibab, tetapi kan ketat-ketat juga banyak. Mereka itu belum membedakan ajaran khimar dan jilbab. Jilbab itu kan produk Barat. Inilah Mi yang perlu sampean bantu sadarkan perempuan-perempuan itu”. Sentil zauj-ku kepada ku di saat kami sedang santai di sore hari pada teras rumah kami.

Zauj-ku kembali melanjutkan makna-makna perempuan dalam agama sambil menyeruput kopi tubruk buatanku.

“Khimar itu adalah jilbab yang umi kenakan kalau keluar rumah. Memanjang seperti lorong dan pakaian berdaster yang longgar sehingga menutupi bentuk tubuh. Inilah ajaran Islam sebenarnya”.

“Bolehlah memakai jeans, bolehlah menunjukkan mode rambut yang ekstotik, tetapi itu kan untuk suami. Itu tu…mi, eksotisme umi, mode rambut umi yang ngandan-ngandan…wyuuuuh, sebagai suami saya merasa mencium bau surgawi mi…. Kecantikan umi, polesan shadow menjelang tidur yang umi pakai menambah degub jantung abi terkoyak dan mendistorsi keimananku. Seolah aku lalai pada tuhanku”. Aku mendengar suara abi agak hambar.

“Ehhhhhh…. Abi mulai genit kan!” Begitu aku menimpali kata-kata abi.

“Lo…sebagai manusia biasa, ya…manusiawi to mi….Sahut laki-laki yang dulu pernah aku panggil ustadz Manaf ketika masih kuliah di Bimbingan Konseling UM.
Malam makin larut. Perbincangan itu tenggelam di antara malam dalam purnama terang. Bergulir remang-remang cahaya rembulan. Nasib-nasib malam dibentuk. Haru biru, riak di antara dunia malam bermetamorfosis dalam takdir-takdir malam.

***
Rumah kami dipenuhi oleh dinamika keagamaan dalam diskursus islami. Kami selalu mengupayakan dan mengidamkan negara Islam yang damai. Perbincangan hari demi hari tidak luput dari ekspresi keagamaan kami. Kebetulan zaujku adalah pengurus “Forum Umat Islam” dan satu dari sekian anggota penggerak perjuangan syari’at Islam sekaligus pembina buletin Islami. Zaujku suka menulis dan mengisi ceramah-ceramah di organisasi keagamaan, terutama untuk wilayah Bintaro, Jakarta.
Tidak terasa delapan tahun kami menjalin hubungan keluarga. Delapan tahun itulah kemudian kami dikaruniai kepercayaan oleh Allah SWT sebuah anak. Aku menjadi seorang ibu. Tugasku amat berat. Tanggungjawabku bertambah.

Selain harus tampil prima dan membangun mimpi surgawi bagi zaujku, aku harus berjibaku dengan mengasuh anak. Anak kami harus tumbuh dalam etika dan nilai-nilai islami. Ini adalah amanah. Anak perlu mendapat perhatian. Jangan sampai ia akan menjadi pewaris-pewaris kenakalan remaja yang sudah semakin jauh dari nilai-nilai Islam.

“Mmmm..kalau nanti udah SMA, apa ya…. Oh ya!. Aku akan saranin masuk Rohis aja deh..! Eh…ngelantur nih….”
Tersadar aku dari lamunanku untuk membayangkan masa depan anakku. Aku terbangun dari lamunan karena abi menepuk punggungku dari belakang.

“Ehh…abi, bikin aku terkejut..”

Sambil menimang dibalik tubuhku dari belakang, kepala abi mendekat di sebelah pipiku, zaujku berujar,

“Allahu akbar, allahu akbar…Allah maha besar. Allah maha besar”. Abi menimang bayi kecil menandakan harapan dan kebahagiaan. Aku tertawa kecil.

“Apa mi, kok ketawa”.

“Abi nih, ngudang anak kok katrok ! Kayak demo menuntut pembubaran tempat pelacuran saja. Agak manis begitu lo…bernyanyi sholawat begitu atau nembang lagunya Hadad Alwi begitu”. Sahutku sambil tersenyum.

Malam itu semakin larut. Tidak terlihat cahaya purnama di langit Bintaro. Setelah bayiku tertidur. Zaujku memanggilku untuk minta berbaring di sampingnya. Sambil memandangi langit-langit rumah kami, aku dipanggil abi.

“Mi… boleh aku bicara sedikit agak serius.”

“Wonten nopo bi..Sahutku berbahasa Jawa halus.

“Begini mi..mmm……”

Tidak seperti biasanya. Zaujku berkata dengan nada rendah, agak bergetar dan berat. Seakan menyuarakan sesuatu yang tidak wajar. Amat kuat aku rasakan. Tetapi aku tidak mau berkata-kata. Aku hanya berkata,

“Monggo bi…diaturke mawon. Kulo mirengaken”. Sahutku.

Sebagai sarjana bimbingan konseling, kalau sudah begini, aku harus menjadi pendengar yang baik. Begitu kata yang sering aku dengar dari dosenku waktu masih kuliah di UM.

“Begini mi…saya merasa amat sibuk. Selain pekerjaan, saya harus mengurusi umat dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Saya merasa tidak cukup hanya dilayani oleh seorang istri”.

Aku amat terkejut bukan kepalang. Langsung aku bangkit dari ranjang kami dan berkata sedikit agak lantang.

“Maksud abi apa ! Mau menikah lagi..!”

Nadaku agak keras, sampai ranjang kami bergoyang. Aku langsung terdiam. Kami terdiam. Aku kembali merebahkan tubuhku di ranjang. Aku memandangi langit. Berbaring membelakangi abi. Aku menghela nafas. Aku mengatur nafas beberapa kali sampai aku pada sebuah bayangan masa lalu.

“Ustadz manaf pernah berujar, fankihu ma tobalakum minannisa’, mastna, wasulasta wa ruba
’, Lamunanku merasuk ke masa lalu. Aku teringat betul, saat itu aku duduk dibalik satir, duduk agak belakang di mushola at-Tibyan.

Tetapi aku adalah perempuan yang berhati satu. Aku adalah Nina yang perempuan. Satu hati perempuan yang tidak ingin dikhianati. Tak bisa tergadai begitu rupa. Aku berusaha memahami lanjutan ayat itu yang terakhir berbunyi ala ta’dilu, atau yang kuingat terjemahan dari lanjutan ayat itu…”tetapi jika kamu tidak berlaku adil, maka nikahilah satu saja”.

Kecamuk ini telah menandai hubungan yang aku rasakan telah merubah hatiku dan juga kadar cintaku. Aku berada dalam dilema, suara hati atau wahyu tuhan. (Bersambung di lain waktu).