Beberapa hari ini saya terus berpikir dan mencoba merefleksi kembali tentang apa yang sesungguhnya terjadi dengan pendidikan di Indonesia. Begitu banyak sekali informasi tentang lemahnya sistem pendidikan, belum lagi persoalan carut-marut kurikulum serta banyaknya informasi tentang kekerasan yang dilakukan di lingkungan pendidikan.

Saya teringat betul apa kata guru saya tentang pendidikan hari ini yang sama sekali tidak memanusiakan manusia. Betapa tidak, pendidikan hari ini hanyalah sebuah alat untuk mencetak generasi yang siap untuk bekerja di ranah-ranah industri. Heloow… Kapitalis sekali negaraku yaa…. Pendidikan seolah sudah kehilangan ruhnya. Seharusnya pendidikan adalah membangun insan bukan mencetak insan untuk siap bekerja.

Pendidikan hari ini sudah tergerus dengan berbagai kepentingan. Mulai kepentingan wali murid yang ingin anaknya sekolah ditempat yang paling ternama, lalu kepentingan sekolah agar bisa mencetak generasi yang dapat meningkatkan nama baik sekolah, dan yang paling tidak disadari adalah kepentingan pasar yang seolah para pendidik digerakkan oleh kekuatan yang tidak pernah disadari, yaitu mencetak generasi siap pakai, bukan membangun insan yang memiliki budi pekerti. Sudah sangat jelas pendidikan hari ini mulai kehilangan ruhnya.

Sejak lama Ki Hajar Dewantara meneguhkan bahwa pendidikan haruslah relevan dengan kehidupan insan. Pendidikan harus menumbuhkan budi pekertinya, bukan hanya sekedar akal pikirnya.  Beliau sudah sejak lama mengajarkan kepada kita semua, sesungguhnya tiap-tiap rumah adalah tempat belajar dan setiap orang adalah guru. Bukankah ini artinya kita semua dan semua orang tua punya tanggung jawab untuk menjadi pendidik sehingga bukan lagi sekolah yang menjadi satu-satunya tumpuan untuk tempat membangun insan berbudi pekerti.

Hal di atas barulah soal realitas pendidikan hari ini. Saya akan menjelaskan lagi bagaimana detailnya, pendidikan hari ini sungguh memprihatinkan.

Saya mulai dari lini yang terkecil sebagai ujung tombak pendidikan yaitu guru. Dalam dunia pendidikan, guru merupakan ujung tombak pendidikan yang memiliki peran sangat penting. Guru merupakan fasiliatator. Namanya juga fasiliatator. Tugasnya antara lain memberi kesempatan dan memfasilitasi rasa ingin tahu anak. Suatu contoh, jika anak ingin bermain petak umpet hari ini, maka guru hanyalah orang yang menyediakan ruang dan waktu untuk memfasilitasi anak. Jika hari ini anak ingin membaca buku yang dibawanya, maka guru hanyalah seorang yang menyediakan waktunya untuk membacakan isi buku tersebut, lalu merangsang rasa ingin tahunya. Merangsang berbagai kemampuan anak. Jadi, guru bukanlah satu-satunya orang yang memiliki pengetahuan.  Guru juga merupakan motivator. Namanya juga motivator, kerjanya adalah mendorong anak, bukan menyuruh anak untuk semangat melakukan sesuatu tetapi mendorong. Guru memiliki banyak cara untuk merangsang anak, bukan menyuruh anak.

Namun, peran guru hari ini sedikit berbeda. Hari ini saya sendiri merasakan bagaimana guru terjebak pada standarisasi yang harus diterjemahkan dengan kaku. Guru mendapatkan kurikulum dari pemerintah. Guru menerjemahkan berbagai indikator pencapaian yang diamanatkan oleh kurikulum ke dalam kegiatan belajar. Memang, semua kegiatan disahkan dalam mengajar. Guru boleh menggunakan beragam metode. Namun pada praktiknya, guru seringkali salah kaprah menerjemah kurikulum.

Misalnya begini. Guru diamanati menerjemahkan kurikulum. Guru kemudian menerjemahkan dan menyusun sebuah kegiatan bermain. Setelah kegiatan usai, guru melakukan penilaian terhadap apa yang dimainkan anak atau apa yang dilakukan anak pada kegiatan tersebut. Nah, salah kaprahnya seperti apa? Ketika guru membuat kegiatan untuk anak-anak, seringkali kegiatan tersebut terjebak sebagai kewajiban sekedar memenuhi syarat terpenuhinya indikator penilaian yang sudah ditentukan berdasarkan standarisasi kurikulum. Pada konteks penerjemahan indikator yang seperti ini, permainan yang dimainkan anak tidak menjadi permainan yang dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak.

Inilah yang saya maksud sebagai guru yang terjebak pada administrasi kurikulum. Padahal kurikulum bukanlah alat satu-satunya penentu apakah anak tersebut sudah sesuai dengan tahapan perkembangannya. Bahwa sejatinya kurikulum adalah seperangkat alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu memang dapat dibenarkan, namun penyeragaman kompetensi inilah yang menyebabkan terjadinya pengabaian terhadap berbagai peluang perkembangan anak yang boleh jadi tidak terukur berdasarkan standar yang sudah dibakukan di dalam kurikulum.

Ini artinya, jika kita kembalikan arti kurikulum, maka mengajar harusnya memiliki satu tujuan tertentu untuk merangsang dan menumbuhkan kesemua aspek perkembangan anak. Bukan lagi mengajar untuk memenuhi kriteria yang sudah sesuai standar.

Inilah yang menjadi bahaya, ketika sering kali guru salah menerjemah kurikulum dengan kaku. Guru tidak lagi kreatif, karena guru hanya mengajar agar indikator pencapaian kurikulumnya tercapai. Akhirnya guru mulai terlena dengan kebiasaan tersebut sehingga lama–kelamaan guru akan berada di zona nyamannya dan timbulah moto “yang penting mengajar.”

Bahaya laten ini tidak bisa dibiarkan karena sama saja dengan guru membiarkan anak untuk tidak berkembang sesuai fitrahnya. Akhirnya guru menjadi enggan memberikan ruang atau kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi rasa ingin tahunya terhadap apapun. Guru menjadi kaku dengan ide kegiatan karena guru berfokus pada indikator apa saja yang akan diselesaikan, bukan lagi berfokus bagaimana agar kegiatan ini dapat merangsang rasa tanggung jawab dan kejujuran anak.

Ini menjadi miris, bahwa guru hari ini sudah enggan menjadi guru yang kreatif, untuk mengolah bagaimana seharusnya kegiatan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak. Guru akhirnya menjadi manusia yang hanya datang, mengajar, dan kemudian pulang.

Apa yang disampaikannya tidak lagi menjadi bermakna dan berkesan di benak anak-anak. Suasana kelas menjadi tidak lagi penuh pertanyaan rasa ingin tahu, karena kelas diseting dengan suasana belajar bukan lagi bermain. Belum lagi dengan seting kelas yang hanya membuat anak untuk menulis, berhitung dan membaca dengan cara yang membosankan.

Tak heran jika saya sebut, bahwa kebayakan guru TK hari ini sudah banyak merampas hak bermain anak-anak. Heloooww… itu hak lo. Ingat, hak itu sama saja dengan kebutuhan. Jadi kalau mereka secara tidak sadar merasa tidak merampas hak bermain anak, maka sesungguhnya guru tersebut sedang terjebak didalam lingkaran setan pendidikan yang hanya sebagai alat cetak saja (1 dari 2 tulisan).

 

©Choirun Nisa. Wakil Kepala Kurikulum PAUD Omah Bocah Annafi’ Malang. Sedang bergiat memodifikasi permainan tradisional di PAUD untuk memperkaya stimulasi optimal perkembangan anak.