Sungguh, Minggu ini saya dan keluarga diuji kesabaran yang kesekian kali. Kesabaran menghadapi anak yang bertubrukan dengan kepentingan orang tua. Apalagi saat libur dan anak sedang ada kegiatan bersama teman-temannya atau anak terikat perjanjian untu bertemu dalam sebuah acara ulang tahun. Secara bersamaan orang tua juga mempunyai acara penting dan mendadak. Sementara itu anak tidak bisa berangkat sendiri karena memang dia masih anak usia setingkat kelas 3 SD.

Anak diminta membatalkan acaranya dan ikut kami. Kami memang tidak punya pembantu. Kalau kami pergi, maka anak-anak memang selalu kami ajak. Nah kebetulan pada Minggu ini ada kabar mendadak berupa lelalu dari sejawat saya. Dia kebetulan juga akrab dengan keluarga dan anak-anak. Karena kami anggap ini juga penting maka kami ingin bersegera datang ta’ziyah. Kami pun menego anak yang bungsu karena hari ini punya acara menghadiri ultah teman kelasnya. Biasanya anak ini bisa di nego. Kami pun berusaha menegonyai. Isi negonya agar dia tidak perlu hadir. Syahdan, dia ngambek. Dia tidak mau pergi dan bahkan nekat pingin tinggal sendiri saja di rumah.

Kamipun masih bersikukuh menego dia agar ikut kami ta’ziyah. Kami terus membujuk karena sebisa mungkin pada pagi ini bisa segera berangkat. Kami mencoba terus memberi penjelasan dengan logika kami. Bahkan pentingnya takziyah juga kami jelaskan pada dia. Kami tetap mengharapkan penjelasan ini mampu menjadikan dia mengerti tujuan ta’ziyah dan segera dia mau mengikuti ajakan tersebut.

Kami merasa kesal pula. Sebab sudah sangat lama kami membujuk dia agar bergegas untuk segera mandi. Sulit. Dia tidak bergeming dari pendiriannya tidak mau ikut. Transaksi sebagai cara membujuk dia kami ajukan dengan membuat penawaran pergi ke tempat yang sama keesokan harinya sebagai pengganti. Ibunya menyodorkan tawaran, “dik, besuk dengan ibu pergi ke McD kan juga bisa”. Tawaran ini diajukan setidaknya menurut kami menjadi impas karena acara ulang tahun temannya diselenggarakan di tempat tesebut. Ee…tawaran itu tak membikin dia mampu bergeming dari keinginan awalnya. Dia malah menangis sambil tidur bersandar di dinding yang dipunggungnya terganjal satu bantal

Saya dan istri mencoba bersabar dan terus bersabar. Saya mencoba pasif. Sikap ini saya lakukan untuk mengontrol agar tidak muncul perasaan marah. Saya memang tidak begitu sabar menghadapi anak ketika kondisi sulit tersebut. Sikap pasif saya adalah upaya mengendalikan agar rasa marah tidak berujung pada tindak kekerasan, seperti membentak atau melayangkan tangan ke anak. Saya menitip pesan ke istri untuk membujuk dia tanpa menggunakan cara-cara kekerasan. Saya mencoba mendukung dari belakang. Meski istri saya terasa juga kurang sabar tetapi dilihat dari ekspresinya juga menahan rasa jengkel dan seolah ingin marah juga. Namun, kami tetap berusaha merayunya meski sudah hampir satu sampai dua jam. Istri saya juga tetap pada posisi tidak mau marah dan terus merayu.

Awalnya berhasil. Tetapi setelah dia selesai mandi, saya menunjukkan ke anak itu rasa humor sebagai ekspresi rasa senang yang sengaja saya tunjukkan ke dia. Nampaknya humor saya tidak disukai dan dia ngambek lagi tidak mau berangkat. Dia kemudian terlentang tiduran dan menangis. Meskipun dijanjikan dibelikan topi atas permintaan dia namun upaya itu tidak berhasil. Akhirnya saya menghubungi sahabat saya apakah bisa ditunda berangkat ta’ziyah setelah anak saya menghadiri undangan ulang tahun temannya.

Saya sebenarnya agak kurang enak menunda keberangkatan karena khawatir sahabat saya kurang berkenan. Namun, perasaan itu saya singkirkan dan akhirnya kami sepakat berangkat siang hari dan menunggu usai menghadiri ulang tahun. Kami pun mengantarnya ke sebuah tempat makanan cepat saji sebagai tujuan perayaan ulang tahun.

Syahdan, dia bergembira dan tidak lagi ngambek. Kepentingan dia terpenuhi dan kami akhirnya mengatur ulang jadwal takziyah. Semua dapat kami lalui tanpa mengabaikan kepentingan anak. Kami menemukan jalan keluar yang masing-masing kepentingan dapat terfasilitasi dengan baik.

Menyeimbangkan kepentingan anak

Biasanya, kalau orang tua berbeda kepentingan dengan anak, kepentingan anak seringkali dinafikan atau bahkan diabaikan karena dianggap kepentingan merekalah (anak-anak) yang bisa ditunda dan biasanya juga kita menjanjikan kepentingan anak tersebut akan dipenuhi di lain waktu. Saya pun juga seringkali bertubrukan dengan dilema kepentingan antara acara saya dengan acara anak atau keluarga.

Hak anak dinomorduakan. Peristiwa tersebut memberi kesadaran baru bagi saya bahwa suara anak adalah aspirasi yang perlu diberi akses untuk mendapatkan kepentingannya. Kemauan menghadiri perayaan ulang tahun adalah dorongan untuk memperoleh kegemberiaan bersama teman sebayanya. Ia merupakan wadah penerimaan sosial anak-anak. Ia juga merupakan bagian dari bentuk pematangan proses sosialisasi anak-anak. [mantra-pullquote align=”left|center|right” textalign=”left|center|right” width=”33%”]”Aspirasi anak untuk mendapatkan apa yang diinginkan juga merupakan hak yang perlu dijamin atau diwadahi oleh orang tua.”[/mantra-pullquote]

Tanpa melihat perspektif demikian, penomorduaan anak menjadi sikap pengasuhan dan membiasakan orang tua tidak mampu empati pada kepentingan dan dorongan perkembangan anak. Usaha kami adalah sebuah upaya menyadari kembali bahwa kepentingan anak perlu mendapatkan perhatian. Aspirasi anak untuk mendapatkan apa yang diinginkan juga merupakan hak yang perlu dijamin atau diwadahi oleh orang tua. Rasa gembira yang genuin diperoleh dari idealisme kepentingan anak adalah bagian dari kesejahteraan subyektif anak untuk menentukan kualtas dan wadah kebahagiaannya sendiri. Anak-anak akan terlatih menjadi lebih otonom dan memiliki variasi dalam proses membentuk kematangan dirinya dalam bersosialisasi.

Orang akhirnya juga mencoba melatih membangun kepercayaan diri anak karena anak diakui pilihannya. Sikap menyeimbangkan kepentingan dalam proses pengasuhan merupakan sikap yang bertujuan memberikan perspektif positif terhadap kepentingan anak. Anak tidak diposisikan sebagai pihak yang selalu mengalah dengan kepentingan orang tua. Kasus pada kami sebagaimana yang saya ceritakan di atas adalah pelajaran berharga bagi kami bahwa membagi kepentingan anak dan orang tua membutuhkan menejemen waktu. Orang tua juga perlu memperhatikan kepentingan anak. Sebagaimana kisah di atas, negosiasi pada pihak luar menjadi kunci menejemen waktu agar semua kepentingan bisa dicapai secara adil. Keduanya juga tidak merasa terganggu. Anak menjadi gembira, tidak merasa kalah dan dikecewakan karena kepentingan mereka merasa diabaikan. Dengan begitu, partisipasi anak diakui, hak-hak mereka dipenuhi sehingga eksistensi anak akan berkembang semakin kukuh, menaikkan harga diri anak karena kemauan positif dia diakui orang lain.

Kamipun akhirnya sadar dan berhasil berdamai dengan diri sendiri. Kami pun dapat menekan tindak terjadinya kekerasan dan berusaha untuk memahami bahwa kepentingan anak, sebatas kepentingan itu tidak mendatangkan kemadhorotan, perlu diapresiasi dalam berbagai menejemen pengasuhan. Semua pasti dapat dikomunikasikan dengan baik untuk memastikan tidak terjadinya benturan kepentingan. Orang tua legowo, anak pun sekeco.