Seorang ibu dari dua anak yang sudah menginjak dewasa, Suci Lestari, mengirim sebuah pesan panjang ke whatsapp saya, (mohammad mahpur, selaku pengelola web ini) sebuah cuplikan kisah sederhana mengenai kekuatan doa, meningkatkan disiplin sholat dan menambah berbuat baik pada sesama, menjadi kekuatan spiritual mengantarkan anaknya memiliki predikat akademik dengan pujian (cumlaude). Anak barepnya bukanlah kategori anak dengan kecerdasan hebat, hanya anak dengan kemampuan rata-rata.

Dahsyatnya, melalui usaha berproses yang telaten dan mengimbangi dengan munajat spiritual, anaknya mengakhiri studi di jenjang S-1 menjadi akhir yang menggembirakan bagi semuanya. Hikmahnya, bersabar mengawal anak-anak kita berproses, tidak perlu gegabah, tidak mengejar dan memaksa anak menjadi instan, adalah proses stabiliser (penyeimbang) yang berbuah prestasi.

Berikut petikan pesan panjang Suci Lestari yang sudah saya edit agar lebih enak dibaca.

Pak Mahpur, saya sedang mendalami peran ibu rumah tangga dengan segala keterbatasannya. Saya juga berusaha menyemangati sesama kaum perempuan/ibu yang kurang percaya diri karena merasa sebagai ibu yang biasa-biasa saja. Selain itu, menurut saya bahwa pendidikan ibu yang tinggi dan ekonomi yang mapan, bukan jaminan mampu memberikan cara menjadi ibu pada anak-anaknya dengan pengasuhan yang lebih baik.

Berdasarkan pengalaman saya selama ini, saya menilai bahwa ada faktor x atau suasana batin yang berbeda pada setiap ibu ketika menjalankan peran untuk membesarkan anak-anak. Saya merasakan bahwa sinergi antara ibu dan anak sangat dibutuhkan untuk memberi dukungan terhadap perjuangan anak-anak kita.

Apa yang saya rasakan berikut ini menjadi peristiwa yang saya yakini terhadap anak mbarep saya, Mazaya Matahari. Dia yang saat dulu saya pernah mengajak ke SD ketika waktu itu kita melaksanakan kunjungan untuk observasi Kelas Inspirasi I, yang mana pak Mahpur memimpin pertemuan di mushola sekolah.

Anak saya bukan tergolong anak cerdas. IQ-nya rata-rata. Dia punya banyak teman sekolah dan kuliah sehingga sering terlibat dalam berbagai acara di luar rumah bersama teman-temannya.

Saat dia menghadapi ujian, dia berusaha untuk belajar dan menambah tirakat dengan berpuasa. Bahkan sholatnya pun menjadi lebih baik dengan menyegerakan sholat. Melihat perjuangan tersebut, saya sebagai ibu seperti mendapat energi. Saya pun berupaya juga untuk ikut prihatin dan turut menjalani tirakat. Selain saya pun ikut berpuasa, saya terus berusaha mendoakan yang terbaik, membantu mengatur untuk membuat skala prioritas dengan mengurangi kegiatan saya ke luar yang sekiranya kurang penting/bisa ditunda.

Di saat anak saya sedang melaksanakan ujian, saya berusaha sebisa mungkin mengambil waktu untuk sholat dhuha dan berdialog dengan Allah memanjatkan doa mohon kemudahan atas anak saya yang sedang menempuh ujian. Di saat seperti ini, baik anak saya maupun saya banyak diuji kesabaran dalam berbagai hal oleh Allah. Saya anggap hal inipun merupakan bagian dari cara saya untuk menghadapi ujian sulit.

Jadi, saya harus melawan ujian itu atau mengimbanginya dengan melakukan kebaikan dengan bentuk memudahkan urusan orang lain atau keluarga. Saya berusaha mengondisikan untuk selalu menjaga pikiran bersih dan positif. Inilah yang termudah bisa saya lakukan mengiringi anak mbarep saya menjalani masa-masa ujian. Kalau saya sudah mentok, pilihan yang terbaik yaitu lari ke Allah karena Allah Maha Pemurah dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Jangan meminta selain kepada Allah yang berujung syirik.

Alhamdulillah, anak saya bisa melewati ujian dengan lancar dan memperoleh nilai yang baik. Saya mendengar anak saya mendapat predikat dengan pujian (cumlaude). Kami syukuri dan belajar tetap rendah hati karena ini semua tak lepas dari campur tangan Allah dan insya’ allah oleh karena ridhoNya.

Selain itu, anak saya berusaha untuk memotivasi diri sendiri dengan kalimat pembuka di laptop, membuat skripsi itu mudah.” Hal tersebut sangat membantu disaat menemui hambatan. Prinsipnya, proses itu dijalani dengan sabar dan telaten. Dia juga aktif meminta bimbingan kepada senior yang sudah berpengalaman. Kini saya melihat anak saya bergantian berbagi pengalaman dan membantu temannya yang membutuhkan bimbingan skripsi. Ikut menyemangati dan berusaha bisa hadir saat temannya menjalani ujian skripsi.

Dibalik itu semua, saya berusaha untuk selalu memberi semangat kepada ibu-ibu baik di kampung tempat tinggal saya dan teman-teman saya. Membekali anak dengan latihan mandiri, menghargai proses, dan semua yang kita impikan terkait dengan anak-anak kita tetap harus diperjuangkan. Semua itu tidak ada yang instan. Semua dari kita harus belajar prihatin. Tidak lupa bahwa doa anak dan orang tua mampu bersinergi membentuk kekuatan yang tidak bisa dinalar. Allah tidak pilih kasih.

 


© Suci Lestari. Pengusaha kuliner Malang dan bergiat menyemangati ibu-ibu menjadi orang tua terbaik untuk anak-anaknya.

Editor : Mohammad Mahpur