Di era digital, di mana kemudahan teknologi mulai merampas sebagian besar waktu anak-anak, mereka menggandrungi gawai, teknologi dan aneka media sosial. Namun tidak serta merta mereka menganggap itu semua lambang kehebatan. Prestasi akademik dan non akademik di sekolah masih menjadi ukuran hebat bagi anak-anak. Disamping itu memiliki banyak teman juga dianggap hebat.

Untuk sosok orang yang dianggap hebat bagi anak-anak hingga saat ini adalah IBU. Bukti ini dapat dilihat pada sebuah surve yang dilakukan oleh Kompas pada 1 Juli 2016 lalu. Sebagai orang tua yang berperan sebagai pelindung, pengasuh, sekaligus juga teman yang selalu memahami mereka membuat ibu menjadi idola (57,5 persen). Setelah ibu, sosok Ayah juga menempati sosok yang hebat di mata anak-anak (16,9 persen).

Gaya hidup konsumtif ternyata bukan sesuatu yang hebat bagi anak-anak. Punya gawai terbaru dan canggih adalah hal biasa saja. Tampil dengan pakaian, sepatu dan asesoris bak artis bukan dianggap hal yang membanggakan. Popularitas juga bukan hal yang diunggulkan, termasuk memiliki pengikut berjibun di akun media sosial bukan sesuatu yang luar biasa (Kompas, 1 Juli 2016).

Sebagai ibu dari anak-anak, saya dan juga ibu ibu yang lain sudah pasti merasa bangga dan bersyukur dengan kenyataan ini. Pengorbanan ibu yang tulus ikhlas membesarkan dan mendidik putra-putrinya seperti terbayar karena sosok ibu sangat berarti.

Saya jadi teringat saat anak-anak masih usia sekolah ketika tadi pagi menerima pesan lewat SMS serentak dari Mendikbub yang isinya sebagai berikut ;

“Sisihkan sejenak waktu untuk mengantarkan putra-putri di Hari Pertama Sekolah guna mendukung pendidikannya, menunjukkan kepedulian dan kasih sayang pada buah hati anda”

Niat baik dari gerakan yang digagas oleh Mendikbud perlu kita apresiasi dan kita respon dengan positif pula. Dalam pelaksanaanya semua kembali kepada situasi dan kondisi masing-masing keluarga yang berbeda satu dengan yang lain. Himbauan ini menjadi pemantik kita sebagai orang tua untuk lebih perhatian dan ikut mengambil bagian dalam proses pendidikan. Bagi orang tua yang tidak memungkinkan datang pada jam sekolah atau jam istirahat karena terikat dengan pekerjaan, tidak menutup peluang untuk bersilaturahim dengan wali kelas di luar jam tersebut. Pada intinya, komunikasi antara guru, orang tua dan anak didik bisa terjalin dengan baik.

Lalu bagaimana orang tua yang anaknya sudah mulai menginjak remaja, masuk bangku kuliah ? Tugas orang tua, terutama ibu tak akan pernah selesai. Kita bisa setiap saat menghantar anak-anak kita sampai ke pintu gerbang rumah saat akan pamit berangkat. Atau kita juga masih bisa menyisihkan waktu khusus untuk menyapa dan ngobrol dengan anak-anak usai bekerja.

Orang tua mau menyempatkan diri untuk bisa mengambil raport adalah peristiwa yang dirindukan setiap murid. Merangkul hati anak-anak dengan sepenuh jiwa dimanapun kita berada akan menciptakan atmosfir yang positif dalam pembentukan karakter mereka.

“Doa-doa baik kita akan menjadi mantera. Pikiran-pikiran positif kita terhadap anak-anak dan guru akan memberi efek balik yang positif pula.”

Pendidikan tanpa kekerasan, baik kekerasan fisik atau kekerasan verbal. Pendidikan dengan kasih semoga akan melahirkan generasi yang berbudi pekerti luhur dan santun.

 


 

© Suci Lestari

Pengusaha Kuliner Malang dan pegiat pengasuhan positif di kampung