Malam beranjak dengan gelap yang hanya dipecah cahaya lampu di pegunungan pesisir selatan Yogyakarta. Legundi, Girimulyo, Panggang, Gunungkidul. Ia adalah sebuah babak inspirasi di mana Gejlok Lesung mampu direstorasi kedalam seni tradisi masyarakat lokal Jawa. Pegunungan Girimulyo berada di Jalur Lintas Selatan daerah Timur Parangtritis, dan sebelah Barat Wonosari. Desa ini saat kemarau akan kesulitan air, meskipun pada musim penghujan seperti saat kami berkunjung nampak pegunungan hijau.

Desa Girimulyo menjadi saksi penglihatan saya sekaligus sebagai momentum proses belajar mencintai kembali warisan tradisi yang jejaknya boleh jadi sangat langka bisa ditemukan. Ia adalah kayu besar memanjang yang dilobangi seperti kentongan, namun ditaruh horisontal dengan lubang menghadap ke atas. Lubang ini berfungsi sebagai tempat menumbuk padi yang baru di panen. Barang ini disebut lazim dengan LESUNG. Begitulah, saya melihat Lesung ditempatkan di sebuah pendopo belakang rumah seorang Profesor bidang psikologi, yakni Prof. Koenjtoro, MBSc, Ph. D. Rumah tersebut bukan tempat kediaman sehari-hari beliau.

Gejlok Lesung Sebagai Seni Tradisi Masyarakat Jawa

Gejlok Lesung Sebagai Seni Tradisi Masyarakat Jawa

Rumah yang dibangun di dekat pesisir selatan, ini dibangun sebagai sarana bakti beliau yang disebutnya dengan laboratorium komunitas. Memang, beliau meniatkan rumah yang dilengkapi dengan tempat penginapan dan bangunan Joglo sebagai tempat pengembangan komunitas sedemikian rupa sehingga peran dan fungsi seorang dosen perguruan tinggi akan memiliki basis keilmuan yang membumi. Begitulah Koentjoro menuturkan di sela-sela diskusi bersama rombongan LP2M UIN Maliki Malang di rumah Girimulyo sembari mengadakan pelatihan penguatan kapasitas calon kader Akademi Komunitas, pada 18-19 April 2014.

Tidak mudah mengembangkan masyarakat. Bagi Prof. Koenjoro, kemauan baik itu membutuhkan titik temu dan bahasa yang sama antara akademisi/penggerak masyarakat dengan masyarakat itu sendiri. Prof. Koentjoro pun mengalami kegagalan terutama di bidang pertanian dan peternakan. Namun, Prof Koentjoro menemukan titi temu itu, yakni kesenian. Aktifitas seni menjadi inspirasi dalam mengelola perjumpaan warga. Ia lebih berdimensi rasa. Dimensi ini nampaknya lebih memudahkan dunia kesenian dijadikan sebagai sarana perjumpaan keberdayaan. Perjumpaan kesenian atau kebudayaan inilah yang akhirnya memantik semangat baru laboratorium komunitas Prof Koentjoro di Legundi semakin menemukan simpul dan spirit komunitas.

Di Legundi inilah kemudian Gejlok Lesung menemukan momentumnya. Di Sebuah rumah, mirip sebuah pemondokan, terdiri dari satu bangunan rumah, satu kamar berdiri di depan rumah dan di samping rumah berdiri sebuah ruangan tidur memanjang yang dapat diisi 15 orang lebih. Di belakang terdapat Joglo, rumah kuno Jawa, sebagai tempat pertemuan. Di Joglo ini, Prof Koentjoro lantas menyediakan Lesung sebagai ornamen yang melengkapi arsitektur istimewa Joglo. Lengkap sudah estetika rumah Jawa.

Ketersediaan Lesung seharga 2 juta rupiah ini ditaruh di Joglo dan di sini pula lah Gejlok Lesung dimainkan. Semasa kecil, saya memang tidak asing dengan Lesung karena lahir di desa, tak dipungkiri, Lesung menjadi bagian dari alat “menutu” padi selepas dipanen agar biji padi terlepas dari tangkainya. Namun, yang teristimewa, Lesung di Girimulyo ini meski tidak lagi berfungsi sebagaimana zaman dulu, ia terawat karena kepentingan merawat tradisi. Ia tidak lagi digunakan “menutu” padi, tetapi suara “nutu”lah yang kemudian dikonservasi dan mampu melintasi zaman. Suara gejloknya menjadi suara yang mampu dijadikan medium berkesenian dan menjadi entitas hidupnya seni lokal khas/indigenous. Memang, tidak bisa dipungkiri, gejlok lesung telah mewadahi dua muara yakni, sebagai alat pertanian sekaligus sebagai instrumen musik tradisi.

Ketukan nada; disharmoni untuk harmoni

Saat kami datang di laboratorium komunitas Prof. Koentjoro di Girimulyo, lantas menjumpai Lesung yang tergeletak di bangunan Joglo, kami hanya asyik mencoba memukul-mukul tanpa tahu ritme atau irama yang perlu disusun untuk memainkan nada Lesung. Kamipun hanya asal pukul dengan alu. Memang kami tidak tahu menahu teknik bermain dan aturan nada.

Melihat kami mencoba-coba menutu Lesung, datanglah Prof Koentjoro dan berkatal, konsep irama gejlok lesung adalah irama “disharmoni untuk harmoni.” Wah, piye ki penjelasannya. Prof Koentjoro lantas melanjutkan uraiannya. Irama gejlok lesung dapat disusun dengan mencari perbedaan ketukan dan titik fokus di lesung. Sementara, pasangan lain, membuat ketukan berbeda, sesuai dengan irama yang dianggap nanti dirasakan bisa menyatu dan indah. Kalau anda pernah bermain “ronda tetek”, nada-nada antar kentongan bisa anda terapkan di sini.

Jangan bingung ? Bermain kentongan, satu orang satu kentongan. Gejlok Lesung tidak demikian. Satu Lesung akan ditabuh dengan Alu untuk melahirkan nada harmonis oleh semua pemain. Pemainnya bisa terdiri dari enam orang. Setiap orang memegang alu dan mengambil titik fokus pukulan di beberapa titik di Lesung, tentu titik fokus pukulan menimbang perbedaan nada suara yang akan muncul. Ada yang memukul di dalam lubang lesung, ada di bibir lesung, di luar Lesung atau dua bagian lain. Titik fokus ini nampaknya sudah dikenali dengan baik oleh para pemain. Jika semua sudah berdiri di masing-masing titik fokus nada, biasanya para pemain berdiri melingkari Lesung, maka mulailah mereka memukulkan alu ke Lesung sesuai nada dan ketukan yang berbeda-beda. Terbentuklah sebuah nada harmoni. Irama ini bisa dimodifikasi dengan tambahan pukulan yang berbeda-beda, asalkan tambahan irama itu mampu memunculkan harmoni. Tidak apalah.

Gejlok Lesung; seni mengolah bahagiaMuara olah rasa bahagia

Di rumah Girimulyo inilah saya dan rombongan memahami dan menikmati seni tradisi Gejlok Lesung. Kami dijamu di malam harinya dengan pertunjukan Gejlok Lesung. Memukau sekali. Para pemain terdiri dari perempuan lokal Dusun Legundi Desa Girimulyo. Para perempuan pemain gejlok lesung sebagian berusia paruh baya dan lansia. Setelah mereka siap dengan posisinya masing-masing, dipandu satu perempuan sekaligus sebagai pembawa acara, mulailah mereka memainkan irama khas lesung.

Monggo………lesung dipukul, dan diikuti nyanyian lagu-lagu khas Jawa. Ada tembang “Gambang Suling” dan tembang jawa lainnya. Tidak hanya itu, ternyata, perempuan baya tadi tidak hanya menyanyi, tetapi menari meliuk-liuk berjalan sambil bergoyang mengitari penabuh Lesung. Tak sia-siakan kesempatan ini, kamipun juga turut serta bergoyang khas goyangan perempuan penari Gejlok Lesung.

Di sinilah saya melihat sebuah kebahagiaan yang lahir dari perempuan Legundi, Girimulyo. Mereka tidak lagi merepresentasikan orang desa. Saya merasa mereka menemukan eksistensinya. Total bergoyang, bernyanyi dan ekspresif tanpa didera rasa malu. Bebas, merdeka dan mampu menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan secara bersama-sama. Gejlok Lesung bukan sebatas tabuhan perempuan desa. Ia menjadi wadah bagi tumbuhnya rasa bahagia dan sebagai instrumen mengolah rasa.

Gejlok-Lesung; perjumpaan Islam-JawaDia mengubah identitas perempuan desa yang bergulat dengan kerja-kerja tani, berkebun, merumput, angon serasa hilang dan digantikan dengan bahasa universal di atas rasa bahagia melalui lantunan tembang-tembang lokal. Irama dan goyangannya telah mengubah segalanya. Yang ada adalah ekspresi tari dan lagu yang dapat dinikmati secara khas.

Gejlok Lesung, terbuka dan mudah dipelajari.

Di akhir catatan ini, ternyata Gejlok Lesung sebagai seni tradisi sangat mudah dipelajari dan bisa sejalan seirama dengan lagu kecintaan. Kami kemudian mencoba bermain gejlok lesung. Masing-masing dari kami mencoba latihan kilat. Delapan orang maju memegang alu dan setiap orang dilatih untuk memukul sesuai irama pukulan. Cukup mudah karena satu orang pemain memiliki satu jenis pukulan dan konsisten sampai akhir. Mirip seperti menabuh kentongan saat ronda tetek.

Saya kebetulan mendapat irama ketukan, dung.. dung.., dung-dung-dung-dung. Ketukan ini berlanjut sampai usai. Kalaupun toh ingin membuat improvisasi ketukan, asal iramanya pas, anda bisa mengubah sesuatu dengan kepekaan rasa iramanya. Saya pun mencoba improvisasi tersebut dengan membuat ketukan “penyelia” dan hasilnya menambah ruang dinamis suaranya. Pengalaman ini membenarkan bahwa, disharmoni yang seirama mampu menampilkan corak bunyi harmoni di Gejlok Lesung. Ini yang disebut disharmoni dalam harmoni.

Tidak hanya itu, ternyata nyanyian seperti shalawat juga dapat dijadikan sebagai bahan bernyanyi. Terbukti, ustadz Abdullah Sam, pemangku Pesantren Rakyat Sumberpucung, yang suka menyanyi jawa dan shalawatan, memraktikkan irama gejlok lesung dengan nyanyian dan shalawatan dia. Al-hasil, semua bisa memasuki ruang harmoni, bahkan juga bisa bernyanyi duet antara penyanyi asli dengan Abdullah Sam.

Gejlok LesungSangat mudah memang belajar Gejlok Lesung. Dalam waktu sekejap, kami sudah bermetamorfosis menguasai seni Gejlok Lesung. Di sini kami merasakan ada bahasa yang sama. Gejlok Lesung mewadahi rasa kebersamaan yang mewujud dalam irama, nyanyian dan tarian. Ia mempertemukan dua kelompok berbeda. Kami yang dari Malang menyatu dengan irama Gejlok Lesung. Ibu-ibu dari Legundi juga merasa gembira karena kami mampu memainkannya. Ada bahasa yang saling menggembirakan. Saling menyanyi, tertawa dan saling heran atas pembauran yang terjadi di malam itu, 18 April 2014.

Kegembiraan itu menjadi memoar hingga hari ini setelah cletukan nyanyianyang muncul dari suara ustadz Abdullah Sam dalam bentuk syair shalawat “Koentjoro”, yang baitnya tersusun sebagai berikut ;

Shalawat Kuntjoro

Sholatullah salamullah
Ala Thohari rosulillah
Sholatullah salamullah
Ala yasin habibillah

Paling enak wong Girimulyo
Nyambut gawe karo noto jiwo
Urip mulyo rukun karo tonggo
Berkat bimbingan Professor Koentjoro

Dadi manungso ojo keparat
Gak gelem ngaji ora gelem sholat
Ilingo akhirat ora ono sego berkat
Onone mung godone moloekat

Lyric : Abdullah Sam

Bait ini ditulis ulang oleh Ika Hentihu, yang saya kutip dari blognya linguafranca.info. Sungguh, malam itu semakin hidup dengan riuh dan tertawa karena cletukan syair Sholawat Koentjoro yang keluar dengan merdu dari mulut Ustadz Adullah Sam sembari tenggelam kedalam alunan pukulan Lesung. Malam perjumpaan tradisi bernyanyi Jawa dan Islam. Kebahagiaan ini bak lahirnya kolaborasi Islam Jawa kontemporer dalam balutan seni tradisi Gejlok Lesung.

Malang, 2 Ramadhan 1435/30 Juni 2014