Perjalanan saya menghadiri kegiatan live in perdamaian yang diselenggarakan Universitas Ma-Chung di desa Sumbergentong Kidul Donomulyo Malang memberikan penemuan baru bahwa hidup damai bagi masyarakat desa menjadi niscaya. Mereka berjalan alamiah meskipun hidup dengan tetangga yang berbeda agama. Kedatangan saya atas nama komitmen GusDurian untuk membangun pola komunikasi dan membuat dukungan sukarela bagi kegiatan usaha setiap orang dalam mentransformasi perdamaian di kalangan kaum muda. Kebetulan saya juga mengenal mas Trianom Suryandharu yang berkomitmen mengawal gerakan anak muda mengenal perbedaan, pluralisme dan toleransi agama di Malang.

Ada 20 mahasiswa yang tergabung dalam live in ini. Ada yang muslim, katolik dan kristiani. Kegiatan ini dinamai Orientation Based on Reflection (OBOR) 2. Mereka belajar di desa ini karena Sumbergentong Kidul dapat disebut sebagai desa plural yang hidup dalam pertetanggaan beda agama. Setidaknya ada tiga agama, yakni Islam, Katolik dan Kristen. Lokasi ini menjadi alasan bagian pembinaan kemahasiswaan Universitas Ma-Chung Malang dijadikan sebagai program membangun kesalehan sosial bagi peserta. Apalagi kegiatan ini gayung bersambut dengan inisiasi gerakan “peacemaker” Gusdurian Malang bertema “Gerakan Menulis Untuk Perdamaian”. Karena itulah, Gerakan Gusdurian Muda Malang pun turut serta mengikuti kegiatan ini sampai tuntas yang diwakili oleh Muhammad Fauzan.

Apa menariknya desa ini, kok dipilih menjadi tempat belajar mengalami keberbedaan ? Desa ini tersebar sejumlah penganut agama yang tidak tunggal. Ada muslim, Kristen, Katolik, Budha dan Hindhu sebagai agama penduduk desa Sumbergentong Kidul. Para peserta ingin mengais pengalaman hidup damai. Mereka belajar mengalami dan merasakan hidup rukun warga dengan lebih dekat. Sembari juga memahami bagaimana membangun piranti hidup untuk belajar kesalehan sosial.

Bagaimana hidup damai di desa mampu dikelola dengan baik. Meski demikian, sentimen dan gesekan itu tetap saja ada sebagai konsekuensi hidup bermasyarakat. Satu orang tidak sepakat dengan yang lain, berbeda dalam bersikap dan perbedaan adalah hal manusiawi yang tidak terelakkan. Namun demikian perbedaan itu dirajut oleh sebuah ikatan kesadaran bersama untuk tidak membuat penajaman atas perbedaan sehingga tidak berlanjut pertikaian atau dibawa menjadi konflik sosial. Rukunlah yang mengikat perbedaan dan bertengkar karena perbedaan iman itu tiadalah berguna. Misalnya, masyarakat desa akan merasa isin (malu) jika ketidaksepakatan atau tidak cocok dengan orang lain diangkat menjadi konflik terbuka. Paling-paling mereka hanya dalam taraf rasan-rasan (bergunjing) diantara tetangga. Namun, setelah itu mereka kembali ke etika dasar bersama untuk tetap menghargai perbedaan dengan orang lain.

Dipaksa Menjadi Pemateri di Gereja Panti Berkah Panembahan

Dipaksa Menjadi Pemateri di Gereja Panti Berkah Panembahan

Hidup damai bagi orang desa tidak semata karena mereka memahami ajaran agama tetapi karena memiliki kearifan lokal dan diikat oleh kesamaan budaya. Agama atau keimanan berada dalam ruang privat dan itu adalah pilihan hidup bagi setiap orang. Oleh karena itu setiap orang beragama tidak boleh saling mengintimidasi atas keyakinan seseorang. Mereka lebih bisa menghargai perbedaan. Iktikad menjaga rukun menjadi spirit hidup dalam menata dan mempertahankan hubungan harmonis dengan orang lain. Tatanan tersebut bersenyawa menjadi kuasa budaya bagi masyarakat desa sehingga perjumpaan antar-pribadi diikat oleh kesatuan perilaku dan praktik budaya yang berlaku secara konvensional. Secara agama masyarakat desa tetap memiliki identitas kelompok keagamaan, tetapi identitas keagamaan itu akan bergeser dan melebur kedalam identitas kolektif yang lebih umum yang bersenyawa kedalam praktik budaya. Kalau sudah melebur, budaya menjadi bagian yang juga turut mewadahi praksis keagamaan. Laku budaya jauh lebih kuat diterima sebagai kelaziman dan memiliki kualitas yang setara sedemikian rupa sehingga perbedaan bisa dipahami sekaligus mampu dijalani tanpa ketegangan.

Pluralisme Slametan dan Jedoran

Penjelasan tersebut sebagaimana dikuatkan oleh tokoh Katolik bapak Romo Kris (saya tidak sempat bertanya nama kurang tahu nama lengkapnya) dan Haji Sunar dari Tlogosari mengenai kegiatan slamatan. Slametan merupakan tradisi masyarakat setempat ketika keluarga memiliki sebuah hajat. Slametan adalah ritual yang ditandai oleh simbol-simbol makanan dan disajikan dengan racikan menu seperti tumpengan dan berbagai cara sesuai dengan aturan/pakem tertentu. Ternyata slametan dilakukan oleh semua warga, baik keluarga itu beragama muslim atau kristen. Tamu undanganpun juga demikian, semua tetangga diundang, baik muslim atau Kristen. Biasanya saya melihat di tempat-tempat lain, selamatan dilakukan sebagai tradisi hajatan bagi kaum muslim, termasuk doa-doa yang dipanjatkan.

Di desa-desa ini slametan sebagai praktik tradisi lokal yang menyatukan semua agama dalam hubungan pertetanggaan. Haji Sunar mengatakan, meskipun dia seorang muslim, jikalau ada tetangga yang slametan, dia seringkali diminta untuk meng-ojob-kan. Ojob disebut juga menghajatkan, yakni ritual memanjatkan doa yang dilafalkan seperti membaca mantra. Ucapan ini biasanya mewakili penjelas tentang maksud pemilik hajatan yang disimbolkan dengan berbagai menu yang tersaji. Misalnya ada jenang abang, apem, lepet dan berbagai tanda doa yang disimbolkan makanan tertentu. Peng-ojob mengurai simbol-simbol makanan menjadi untaian mantra yang dimaksudkan sebagai cara berdoa kepada tuhan agar hajat yang dilakukan mendapatkan perlindungan dan keselamatan bersama. Ojob diucapkan dengan bahasa Jawa. Peng-ojob memang bukan orang sembarangan. Ia biasanya orang sepuh lokal. Nah, menurut Haji Sunar, jika ojob sudah selesai, maka dia akan menyilahkan pembawa doa penutup yang dipimpin oleh seorang tokoh agama. Jika pemilik hajat berasal dari keluarga Kristiani, maka doa pun dipanjatkan oleh seorang tokoh agama Kristen dan jika dari keluarga muslim, ya tokoh muslimlah yang berdoa.

Bersama Pdt Kristian Wijaya, Seorang GusDurian

Bersama Pdt Kristian Wijaya, Seorang GusDurian

Perbedaan diterima dan menjadi laku tradisi slametan. Bahkan pada acara hajatan di sebuah gereja, Haji Sunar diundang sebagai tokoh sesepuh desa untuk meng-ojob-kan slametan. Fakta tersebut menggambarkan bahwa tradisi menjadi ikatan kultural dan kolektif dalam hubungan sesama manusia. Ikatan kultural mengatur cara hubungan kemanusiaan sementara agama adalah pilihan keyakinan yang diakui perbedaannya. Mereka terima perbedaan itu tanpa perlu menyingkirkan kedalam bentuk sikap eksklusifisme dan pelainan yang menyakitkan. Perbedaan dihadirkan dan diakui dalam ruang hajatan slametan. Keimanan yang berbeda diberi ruang eksistensi. Doa yang dipanjatkan pun juga silih berganti dimunajatkan sejalan dengan keimanan keluarga, sementara para undangan mengantarkan doa tersebut agar harapan keselamatan dapat diberkahi tuhan, meskipun berbeda iman. Meski demikian dimensi privat iman tetap terjaga tanpa khawatir keyakinan mereka tercemar. Hubungan pertetanggaan dengan demikian menghadirkan penghormataan sesama. Ikatan budaya menjadikan harmoni berkelanjutan karena praktik budaya lokal telah memberikan ruang sosial dalam merayakan bentuk keragaman.

Perjumpaan lintas agama ini juga ditemukan pada praktik berkesenian warga. Sebagai produk budaya, kesenian menjadi bahasa universal untuk mengekspresikan kegembiraan, perayaan dan pelantunan suara-suara keagamaan serta puji-pujian Tuhan yang dapat dirasakan dan dilakukan oleh umat beragama. Suatu contoh Jedoran. Saya memahami selama ini, Jedoran dimainkan oleh umat Islam karena lagunya berisi shalawat. Tapi di desa ini tidak demikian, shalawatan Jedoran justru dilakukan umat Katolik. Begitu juga wayangan digunakan juga sebagai perayaan untuk penobatan pendeta. Jedoran bukan hanya bentuk apresiasi seni yang dipraktikkan oleh umat Islam, tetapi orang Katolikpun memerankan seni tersebut. Seni menjadi bahasa yang menembus sekat-sekat agama. Seni digunakan masyarakat sebagai wadah mengekspreiskan kebahagiaan, nyanyian dan bahkan pujian yang mewakili spirit kemanusiaan sekaligus keilahian, apapun agamanya.

Selfie dengan peserta OBOR

Selfie dengan peserta OBOR

Sebagaimana disimpulkan oleh Pendeta Krista, hidup damai di desa dapat terpenuhi dengan baik karena dipengaruhi oleh ikatan budaya masyarakat. Menurut saya, mengapa pluralisme terpadu menjadi karakter hidup damai bagi kelompok lintas agama di desa ? Keberagamaan sebagai identitas kelompok merupakan simpul kolektif dan dipahami sebagai ikatan seiman, sedangkan hidup bermasyarakat menyatu dalam kearifan lokal hubungan sesama manusia yang longgar, saling memahami, dan memiliki kebutuhan bersama dalam perilaku budaya. Dalam hidup bermasyarakat, semua merasa menjadi bagian dari praktik tradisi atau budaya setempat sehingga praktik budaya seperti tradisi slametan, praktik berkesenian dan bentuk tradisi yang lain tidak harus ditarik garis tegas pada kaidah-kaidah absolut agama seseorang. Justru praktik budaya sebagai simpul inklusif bermasyarakat yang meminggirkan sentimen keagamaan.

Kerukunan tersebut, menurut tokoh lintas agama di Donomulyo, pun boleh jadi disandarkan pada kesamaan nenek moyang. Konon babat Donomulyo tidak bisa dipisahkan dari peran penting pelarian para pasukan Pangeran Diponegoro. Bagi sebagian umat Kristiani, mereka adalah pengikut keturunan anggota pasukan Pangeran Diponegoro dari seorang bernama Kyai Matius. Di sinilah, boleh jadi keturunan Kyai Matiuslah yang kemudian menganut agama Kristiani. Saya pun sadar. Eh, anggapan selama ini bahwa pasukan Diponegoro adalah muslim semua menjadi keliru deh. Ternyata ada juga yang berbeda agama. Keterbatasan pengetahuan seperti inilah yang membentuk persepsi eksklusif pemahaman mengenai sejarah terbuka karena hanya diterima secara simbolis yang mana Diponegoro selalu identik dengan identitas muslim.

Kesamaan keturunan membawa sejarah hidup damai. Identitas keluarga melahirkan ikatan primordial yang positif karena disatukan oleh genealogis kekerabatan. Ketika kekerabatan ini berjalan dengan mengutamakan nilai-nilai kolektif maka perdamaian mudah dilacak kedalam dimensi-dimensi genealogis masyarakat. Pengaruh genealogis membentuk hidup damai secara alamiah karena ikatan kekerabatan menjadi simpul bertemunya jalur keturunan. Perdamaian dengan demikian merupakan energi yang dipantik dari perasaan yang sama menjadi saudara. Ia menjadi ikatan batin kultural bagi masyarakat lokal desa.

Refleksi Genealogis Perdamaian

Ikatan budaya nampaknya jauh lebih mudah dijadikan sebagai sandaran perdamaian karena lebih otentik dan orisinil daripada agama yang saya anggap sebagai dimensi eksternal bagi masyarakat pedesaan. Agama sebagai varian hidup privat dan ritualnya juga dipraktikkan kedalam batas agama dengan ruang lingkup individu di dalam keluarga. Meskipun secara umum, praktik agama mengambil ruang kolektif dan terbuka, tetapi dalam praktik hidup bermasyarakat agama pun menyesuaikan dengan dimensi-dimensi kultural masyarakat. Artinya, praktik agama pada akhirnya juga menuntut penyesuaian-penyesuaian budaya sehingga agama mampu dirasakan sebagai perilaku kontekstual dan aktual di masyarakat. Sedangkan perbedaan iman atau paham keagamaan dikembalikan kepada keyakinan masing-masing orang tanpa diakumulasi kedalam pertentangan eksklusif dan saling mengisolasi.

Mengisahkan Islam

Mengisahkan Islam

Perjumpaan budaya seakan menjadi kebutuhan otentik masyarakat yang bermuara pada kehalusan rasa. Oleh karena itu, agama bisa disebut sebagai aspek periferal sementara budaya merupakan titik sentrifugal yang menyatukan perasaan otentik masyarakat desa. Kehalusan otentik inilah yang menjadi kunci perdamaian. Mereka bertransformasi dari ruang agama ke ruang budaya untuk mendapatkan perasaan otentik secara bersama-sama. Agama boleh meleburkan diri dalam praktik budaya silih berganti agar masyarakat mampu merasakan dimensi otentik secara kolektif. Ada suatu kesamaan tujuan, perasaan, kesenangan dan spiritualitas yang tidak saling menegasikan satu dengan yang lain. Di sini perdamaian ada karena adanya dimensi otentik yang mampu hadir bagi setiap orang di desa, apapun agama atau keyakinannya.

Dimensi otentik tersebut terjelma dari ritual slametan.Slametan menampung perbedaan iman yang tidak bisa diabaikan. Keragaman tamu yang diajak memanjatkan doa, kenyataannya mempunyai keyakinan berbeda-beda. Karena mereka tidak bisa menghindari perbedaan itu, maka dengan pengakuan perbedaan itu akhirnya menjadi cara mereka berdamai. Jikalau keluarga pengundang muslim, doa akhir setelah ojob menggunakan cara Islam. Begitu juga ketika keluarga pengundang Kristen atau Katolik, doa dipanjatkan berdasarkan pengucap-pengucap Kristiani atau Katolik. Slametan menjadi ruang kolektif sentrifugal, keimanan periferal yang didamaikan dengan mengutamakan pemilik hajat untuk diberi kesempatan berdoa. Di sini seolah saya melihat dimensi otentik mengakui kemerdekaan spiritual tanpa panjang lebar dipermasalahkan.

Spiritualitas otentik berada dalam ikatan budaya. Saya menjadi ingat pendekatan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Saya berkesimpulan, Sunan Bonang yang menciptakan lagi Lir-Ilir, Cah Angon dan dakwah menggunakan media Wayang oleh Sunan Kalijaga adalah sebuah pengakuan tentang otentisitas, bukan mengislamkan budaya. Atau sebuah strategi Islamisasi tanah Jawa. Para Sunan bukan mengisi virus Islam pada budaya Jawa tetapi ruang budaya adalah wadah otentik yang menerima dimensi-dimensi spiritualitas. Para Sunan tersebut sedang berdialog kedalam realitas kesepadanan karena genealogi Jawa memiliki dimensi spiritualitas. Praktik Sunan adalah praktik Islam yang berbudaya karena para Sunan memahami bahwa didalam dialektika budaya, titik temu damai iman dapat merangkul kesepadanan, sehingga Islam sebenarnya mampu mengambil ruang otentik dalam cakupan spiritualitas budaya itu sendiri. Jadi, jalan budaya bukanlah cara berdakwah merebut simpati masyarakat Jawa tetapi sebuah perjumpaan, yakni titik temu pada pusat spiritualitas. Islam yang periferal datang kemudian, tetapi Jawa atau Nusantara adalah sentrifugal yang tidak perlu diusik tetapi ruang dialektika sentrifugal itu berhasil mentransformasi spiritualitas Islam.

Peserta perempuan sedang menyimak materi

Peserta perempuan sedang menyimak materi

Ruang genealogisnya telah ditemukan seperti dalam tradisi slametan. Contoh ini kemudian dikuatkan oleh pengakuan asal keturunan sedemikian sehingga perdamaian lebih mudah dibangun dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Perspektif tersebut pun dikuatkan oleh model hubungan kekerabatan dan pertetanggaan. Kadangkala memang bisa dipahami jika dalam suatu deret kehidupan bertetangga di sebuah desa, seringkali ada rentetan hubungan darah dari hubungan yang paling dekat sampai terjauh. Hal ini menjadi ikatan persaudaraan lebih kuat dan memudahkan hubungan sosial berbasis pertetanggaan.

Harmoni dapat diciptakan karena hubungan tersebut terjaga di desa-desa. Sementara itu agama menjadi faktor lain yang tidak semata-mata dipraktikkan secara eksklusif. Berdasarkan cara hidup tersebutlah, hidup dapat terjaga sampai sekarang. Dalam arti kata hidup damai di desa didasari oleh cara hidup masyarakat yang ditopang oleh kematangan hubungan sosial dan kolektifitas yang terus hidup dengan nilai-nilai kekerabatan, pertetanggaan, praktik tradisi, ataupun praktik berbudaya. Dari sini in-group dan out-group mampu dijembatani karena dasar kearifan hidup masyarakat terjalin atas cara-cara hidup mereka yang menyatu tersebut.

Pengalaman dan sudut pandang hidup orang desa seperti inilah yang mampu menjaga perdamaian. Sementara saya berpandangan mengapa hidup damai itu rapuh, karena dasar kearifan lokal hidup tersebut tidak dimiliki atau rapuh karena didominasi oleh sentimen kelompok-kelompok kecil dan bahkan sentimen agama menjadi semakin eksklusif. Konflik dengan demikian dapat dipahami bahwa hubungan sosial tidak ditopang oleh ikatan bersama baik secara kekerabatan, pertetanggaan, tradisi maupun praktik budaya. Apalagi jika agama hanya dimanipulasi sebagai praktik kelompok ekstrim dengan emosi kolektif yang terpatri oleh kekakuan cara beragama, maka konflik akan mudah dijadikan komoditas sehingga hubungan sosial kemasyarakatan diliputi oleh kecemburuan, kecurigaan dan kebencian atas nama kelompok. Sementara mereka tidak memiliki akar tradisi dan budaya yang dapat menjadi wadah hubungan untuk melintasi kolektifisme ekstrim seperti agama atau kelompok sektarian.

Sebenarnya menurut saya pribadi, pelajaran dakwah Walisongo yang menempatkan tradisi dan budaya seperti nyanyian, praktik pewayangan dan bentuk-bentuk pengakuan atas laku keyakinan masyarakat setempat adalah basis bagi capaian kearifan lokal dalam menata spirit perdamaian. Proses akulturasi Islam dan Jawa adalah miniatur dialektika jiwa damai yang menyatu dalam batin masyarakat. Tetapi ketika penyatuan batin masyarakat ini mulai sirna, dan sirnanya ini disumbangkan oleh praktik puritanisme keagamaan, di sini entitas perdamaian yang secara genealogis diikat oleh dunia batin masyarakat desa melalui kearifan lokal, masyarakat mudah disulut kebencian, perdamaian sebagai laku budaya semakin rapuh. Kembalinya masyarakat pada agama semata justru menciptakan nilai in-group dan out-group yang lebih seksis sehingga membuat batas beda semakin tegas. Ketika batas beda semakin tegas dan kearifan bersama rapuh, kehidupan akan mudah disulut konflik.

Apakah konflik yang terjadi hari ini memang demikian, sekelompok kaum beragama terlalu lari kedalam egoisme kelompok keagamaan dan membenci kearifan lokal yang dianggap mencemari praktik-praktik keagamaan ? Atau memang tidak ada pandangan hidup bersama yang diugemi oleh kelompok-kelompok agama hari ini sehingga keyakinan terhadap agama terjebak kedalam kolektifisme yang ekstrim. Semoga tidak demikian (Mohammad Mahpur).