Metanarasi–Artikel sebelumnya secara umum menempatkan humor sebagai katalis kehangatan komunikasi empati antarsesama keluarga. Humor menjadi senjata memecah kebekuan atau stagnasi hubungan internal keluarga. Pada artikel ini saya ingin memfokuskan makna humor untuk memperkaya jalinan hubungan hangat suami-istri. Artikel ini merupakan seri kedua yang saya tulis untuk kolom konsultasi psikologi untuk majalah LAZIS SABILILLAH Malang. Seri kesatu pada tulisan ini berjudul Humor Memperbarui Harmonisasi (Bagian 1).

Nabi Muhammad pun mengakui humor menjadi bagian dari harmoni dengan pasangan. Dalam sebuah hadits di kitab Sunan Al-Tirmidzi diriwayatkan, “segala yang melalaikan seorang muslim adalah batil, kecuali memanah, melatih kuda, dan bercanda ria dengan istri, ini semua termasuk kebenaran”. Bercanda ria menjadi spirit relasi dalam mengelola komunikasi dengan pasangan. Bercanda ria di sini dapat dimaknai sebagai bagian dari dinamika humor. Hal ini mendorong bahwa hubungan suami istri bukan hubungan melayani dan dilayani. Ia mengekspresikan kejenakaan, riang gembira, mengembangkan respon interaktif. Ia hanya bisa dibangkitkan dari bentuk-bentuk relasi hubungan pasangan yang setara.

Al-Quran surat Al-Baqarah 187 juga menyatakan, “istrimu adalah pakaianmu (hai kaum laki-laki) dan suamimu adalah pakaianmu (hai kaum perempuan)”. Sepasang suami istri saling menopang dan mengombinasikan hubungan untuk saling memberi kebahagiaan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu jalinan hubungan yang hangat akan dapat dikonsolidasikan melalui humor asalkan kapasitas hubungan setara secara psikologis juga menumbuhkan sebuah cara komunikasi yang menyeimbangkan di antara pasangan.

Humor adalah buah kemampuan komunikasi verbal yang mengedepankan kualitas interpersonal guna membangkitan emosi vakum dalam berhubungan. Humor merangsang emosi vakum bergerak aktif ketika tertekan oleh dinamika peran yang timpang, kejenuhan tugas dan tanggungjawab yang dianggap menjadi rutinitas (bornout). Ia ibarat peluru yang menukik kedalaman eksistensi emosi, merangsang gairah hubungan yang memudar dan membangkitkan daya tarik interpersonal untuk meraih keseimbangan interpersonal.

Bahkan humor mampu memberikan efek sensualitas ketika dibarengi dengan stimulasi kontak fisik dan gestur yang mengisyaratkan ekspresi hubungan hangat. Nilai komunikatif humor menjadi semangat yang menggairahkan yang dapat meremajakan dinamika hubungan pada masing-masing pasangan. Oleh karena itu humor tidak semata-mata sebuah bakat diri ibarat seorang pelawak yang memang menguasai tekniknya tetapi upaya memahami peran dan fungsi dalam hubungan berpasangan yang dapat dikembangkan dari pengalaman masing-masing orang dalam berkomunikasi dengan pasangan.

Kemampuan humor juga menjadi salah satu kunci masing-masing pasangan mampu memahami pola komunikasi untuk saling mencairkan suasana sehingga hubungan pasangan menjadi tumbuh dan bergairah. Gairah yang dimaksud tidak semata-mata diukur dari kadar seksualitas namun kualitas emosi yang terstimulasi mampu menjadi piranti bagi prasyarat tercapai rasa kegembiraan, menghindari kekerasan, menjadi terapi stres atau depresi serta mengurai ragam manifestasi komunikasi yang saling menghidupkan satu dengan yang lainnya (bersambung).

Tulisan bagian 1 dapat anda klik di Humor Memperbarui Harmonisasi (Bagian 1).
Tulisan bagian 2 dapat anda klik di Humor Menghangatkan Hubungan Pasangan (bagian 2) 
Tulisan bagian 3 silahkan menunggu dan bersabar ya….