Saat memberi sambutan Mapaba di Rayon Condrodimuko

Saat memberi sambutan Mapaba di Rayon Condrodimuko

Saya masuk PMII boleh dikata terlambat. Semester ketiga saya memutuskan mendaftar MAPABA. Pilihan itu merupakan ikhtiar panjang 1 tahun dalam krisis pengambilan keputusan. Ikut PMII atau HMI. Seolah ada bisikan malaikat, saya harus masuk PMII yang telah mengantarkan saya diterima di IAIN Sunan Ampel Malang 1994 melalui bimbingan Ripenmaru. Di akhir penutupan MAPABA, saya mendapat apresiasi 10 terbaik menulis artikel/resensi buku.

MAPABA adalah kartu resmi bahwa saya telah menjadi kader PMII. Saya mulai merapat ke rayon Condrodimuko, yang waktu itu diketuai Khoirul Yahya (terkenal dengan panggilan Sastro). Setelah berganti ketua dari Sastro ke Lukman Hakim (Alm.) saya diminta masuk di bidang penggalian dana. Di bagian ini sungguh terkesan. Bersama sahabat Rosita Dewi saya selalu memutar kotak amal dan sesekali menjual jilbab untuk menambah pendanaan Rayon Condrodimuko terutama ketika ada rutinan dibaiyah di kos-kosan basis kader PMII. Dibaiyah menjadi wadah anjangsana sesama kader guna membangun hubungan simpati. Tempat seperti Wisma Dahlia di Simpang Gajayana adalah suatu contoh sasaran karena kader putri yang bukan pengurus teras banyak yang tinggal di wisma ini. Cara ini menginspirasi bahwa PMII tidak hanya terdiri dari hirarkhi pengurus, tetapi sekian kader di luar yang perlu dimanusiakan, disapa, dan didekati dalam hubungan kultural dan informal. Ini adalah sebuah pengkaderan yang mengasah budi. Membimbing cara memperlakukan kader berbasis pertemanan. Dari sinilah kami bergerak secara kultural dalam praktik-praktik sosialisasi dengan kader massa PMII.

Ruh pergerakan saya tidak mekar sendiri. Ia bertumbuh dari kemauan saya dan peran lingkungan senior dan sejawat dalam beragam motivasi. Saya terus dimotivasi oleh sahabat-sahabat yang sudah militan dan lama berkomitmen di PMII. Mereka adalah Sastro, Hasanudin, Wahyu Maretno W, almarhum Lukman Hakim dan senior seperti Inung (Zainul Hamdi), Nasruddin Hilmi, dan Wawa (Nur Wahid). Saya begitu ingat, mereka tidak saja representasi mahasiswa pergerakan yang ahli rekayasa sosial (contoh desain demonstrasi), namun sisi figuratifnya mereka menginspirasi saya mencintai ilmu. Kemanapun mereka selalu menenteng buku-buku update. Saya pun berusaha mengikuti jejaknya untuk selalu gerah dengan pengetahuan. Saya tidak menyebut kutu buku, tetapi tempo itu saya menarget harus menyisihkan uang saku setiap bulan untuk agenda membeli buku baru. Selain itu, saya menarget untuk selalu membaca buku, setidaknya minimal satu-dua minggu satu buku. Jika tidak mampu membeli, saya selalu meminjam buku di perpustakaan untuk memenuhi target khatam buku. Mereka juga mendorong saya untuk giat menulis sehingga di semester 5 saya berhasil menembus koran Karya Dharma dengan honorarium Rp. 15.000,-, dan MPA (Mimbar Pembangunan Agama) dengan honorarium Rp. 25.000,-. Saya merasa identitas mahasiswa lengkap setelah bergabung dengan PMII.

Identitas tersebut sebenarnya cukup dan tidak pernah terpikir di suatu hari saya didaulat menjadi ketua komisariat, namun karena dipaksa maju menjadi calon dan dipilih dengan suara mayoritas, saya berusaha menerima amanah tersebut menjadi ketua komisariat di 1997. Padahal leadership saya sangat terbatas saat itu. Saya juga tidak tahu alasannya mengapa saya diajukan sebagai bagian dari bursa calon ketua. Saya pun tidak punya dan tidak menggalang kekuatan agar saya memperoleh dukungan mengajukan diri dan terpilih menjadi ketua komisariat. Saya saat itu hanya concern pada pergumulan intelektual tanpa ambisi menjadi Ketua Komisariat.

Namun demikian di tengah kegamangan, saya yakin, keterbatasan dapat diselesaikan dengan gaya kepemimpinan kolektif yakni dengan mengembangkan kinerja organisasi dengan semangat kolektif. Model itu justru dapat memperkuat partisipasi sehingga melahirkan manajemen organisasi progresif. Pendekatan semacam ini dapat meruwat modal sosial PMII seperti berkumpul, mengelola pertemanan dan kesemarakan budaya small-group tempo itu merasa PMII bergerak dengan budaya sosialisasi berkelompok. Saya merasa di sinilah kepemimpinan budi dengan nilai kolektifisme mengantarkan saya dan sahabat lain mengelola PMII berprinsip togetherness (kebersamaan). Saya mencerna kepemimpinan kolektif demikian merupakan transformasi dari Nilai Dasar Pergerakan (NDP). Oleh karena itu, meskipun saya Ketua Komisariat, namun menejemen kepemimpinan tempo itu tidak bisa lepas dari keterlibatan pemikiran dan dedikasi aksi Sosok Pandawa sebagai pengurus teras komisariat yakni saya sendiri, Hasanudin (Ketua I), Wahyu M. Wibowo (Ketua II), Alm. Lukman Hakim (Sekretaris) dan Zainal Habib (Bendahara).

Gema 98 dan Gerakan Ekstraparlementer
Melewati 1998 rasanya merupakan sejarah hidup tersendiri, khususnya Mei 1998. Waktu ketika Orde Baru tumbang. Gerakan mahasiswa (Gema) merata dan satu suara seluruh Indonesia. Di Malang sendiri, menjelang keruntuhan kekuasaan Soeharto, setiap hari selalu ada longmarch demonstrasi dengan teriakan, hidup rakyat ! Nyanyian-nyanyian kritis yang menohok penguasa bergema di jalanan Gajayana—Veteran—Tugu. Saya dan sahabat lain bergulat dengan taktik turun jalan, berbagi tugas merencanakan aksi, membuat poster, dan menyiapkan diri untuk menjadi orator. Kami di masa itu dikader menjadi mahasiswa pergerakan militans dan selalu kritis pada kondisi pemerintahan terutama kebijakan yang cenderung represif. Bahkan ketika melakukan kritik terhadap pemerintah akan dituduh subversif. Begitulah kehidupan politik nasional ketika itu.

Semangat turun jalan seolah memperoleh momentum karena kami di komisariat juga sedang mengembangkan wacana pergerakan di sekitar sosialisme, marxisme, humanisme, liberalisme, posmodernisme, dan filsafat perrenialisme. Dua titik temu wacana dan gerakan ini telah membelajari saya bagaimana caranya melakukan pemihakan dengan jalur-jalur ekstra parlementer.

Di bidang keislaman, saya dan sahabat lain giat mengkaji pemikiran Hasan Hanafi dengan Kiri Islamnya, Arkoun, Mahmud Muhammad Thoha dengan judul terjemahan Syariat Demokratik, Abdullahi Ahmad An-Naim melalui Dekonstruksi Syariat, kajian gender dan feminisme, kajian-kajian kritis mengenai Nahdlatul Ulama, berikut pemikiran politik Islam dan gagasan mengenai fiqh kontemporer. Rasanya PMII telah memberikan kesempatan saya berkembang menjadi kader pergerakan yang dituntut selalu komitmen pada nilai-nilai demokrasi kerakyatan dan memperjuangkan keadilan. Semangat ini juga tumbuh dan lahir dari guratan sosok seperti “Liberalisme” Islam Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie yang saya kenal dari Catatan Harian Seorang Demonstran. Kedua sosok tersebut yang mati muda tetapi meninggalkan heroisme pergerakan begitu kuat membayangi mentalitas saya dan sahabat lainnya. Tempo itu, rasanya belum lengkap jika aktifis pergerakan belum memiliki 2 buku yang sama-sama berbentuk catatan harian tersebut yang lahir dari guratan pena Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie.

Saya merasakan di 1998, gerakan mahasiswa lebih otentik karena bebas kepentingan, dalam arti satu visi penggulingan Orde Baru. Di sinilah PMII menghantarkan saya menjadi pribadi yang dilatih untuk tidak mengedepankan kepentingan diri akan tetapi semakin terlatih menjadi agent of change yang mengubah otoritarianisme Orde Baru menuju demokrasi. Mulai saat itu demonstrasi semakin sering menjadi pilihan politik ekstra-parlementer PMII karena aspirasi politik rakyat nyaris tidak terwakili dan buntu. Namun demikian kamipun tetap dibayang-bayangi intimidasi aparat keamanan dan bayang-bayang penculikan para aktifis. Meskipun kran demokrasi mulai terbuka, bayang-bayang represi Orde Baru masih kuat menghantui sebagian mahasiswa pergerakan.

    ***

Selain di PMII saya juga menjadi pengurus HMJ Tarbiyah sebagai Wakil Ketua dan di Senat Mahasiswa sebagai anggota bidang penalaran dan kontributor majalah Inovasi untuk penulis opini. Pengalaman di organisasi intra tidak lebih progresif dibanding di PMII. Mengapa demikian? Intra mendidik formalisme birokratis yang biasanya lebih bernuansa hubungan struktural, subordinat dan tidak jarang berkedok ABS (Asal Bapak Senang). Jika di PMII ruh independensi dan otonomi pergerakan memberikan pembelajaran lebih otentik dan tidak terlalu berpikir pada wilayah sanksi akademik.

Di PMII ruang berpikir bebas memperoleh apresiasi dan bebas dari bentuk-bentuk intimidasi birokratis kecuali jika kebebasan tersebut sudah menyentuh wilayah politik, musuhnya akan muncul dari preman bayaran pejabat politik di Malang. Bahkan di masa itu gagasan dan berpikir bebas menjadi instrumen gerakan pemikiran di PMII yang dikenal dengan istilah “free market of idea”. Diktum ini mencuat di sahabat-sahabat PMII. Kebebasan berpikir begitu otonom hingga merasuki jantungnya pemikiran keislaman saya dan sahabat lain di PMII. Perkawinan berpikir yang mempertemukan khazanah Islam dengan filosof seperti Karl Marx, Nietzsche, dan lainnya mendorong dinamika penghargaan mengenai arti kebebasan berpikir. Di PMII tidak ada batas tabu dalam berpikir. Tidak jarang kebasan berpikir tersebut menjadikan bekal bagi saya dan sahabat PMII selalu mewarnai dinamika diskusi dan memprakarsai pemikiran-pemikiran yang cenderung bernada “kiri” di ruang-ruang kuliah. Tidak hanya buku kuliah yang kami lahap. Buku-buku filsafat dan keislaman mutakhir kerap terbawa di tangan dan berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain silih berganti. Free market of idea menggerakkan kami melawan ortodoksi dan taqdis al-afkar al-diniyah. Pikiran tersebut sering bertabrakan dengan nalar umum dan sesekali berseberangan dengan dosen. Saya ingat ketika belajar ilmu tafsir di bangku kuliah dimarahi oleh seorang dosen karena bertanya sesuatu yang menggerogoti kebakuan tafsir al-Quran. Saya berusaha menggunakan pendekatan tafsir bi al-ra’yi tetapi argumentasi saya terlalu berseberangan dengan pendapat dosen. Reaksinya saya dimarahi untuk tidak berpendapat keluar dari otoritas dalil naqli dalam memahami al-Quran. Free market of idea tempo itu menjadi virus yang menjangkiti penalaran aktifis PMII sehingga saya-pun tidak mau tertinggal untuk menggalang wawasan yang mempertajam pengetahuan dan kekuatan penalaran mulai dari wilayah tauhid sampai dimensi praksis keagamaan.

Setelah purna dari Ketua Komisariat PMII saya dan sahabat lain lebih concern di pengembangan wacana dan mengejar target lulus. Berkisar semester 9 kami berlima rampung dan saya menyandang gelar sarjana agama. Saya menulis skripsi dengan judul Agama dan Rasionalisme Modern. Setelah tuntas saya kemudian memilih studi lanjut di pascasarjana UGM Yogyakarta dengan konsentrasi Piskologi Sosial. Sejak itulah, sekitar pertengahan 1999 saya mulai meninggalkan hingar bingar PMII tetapi ruh PMII tetap menjadi penempa mental dan mempribadi dalam berbagai kondisi dan insya-allah tetap menjadi sinar di hati ini. Allah a’lam bi al-shawab.

Mohammad Mahpur
Ketua Komisariat PMII Sunan Ampel Malang 1997/1998, dulu berada di PTAIN STAIN Malang, sekarang UIN Maliki Malang