Perjumpaan saya dengan dr. Dika, disela-sela waktu jelang pulang dari tugas di sebuah rumah sakit Islam, membuahkan diskusi istimewa sekitar pengasuhan anak. Pijakan awal dimulai dari kasus dramatis anak saya yang “tidak sadarkan diri dan kejang” di tiga hari menjelang Natal (22/12/2014). Melalui dr. Dikalah penanganan pertama anak saya dimulai. Setelah kondisi sudah terkendali, kami berpapasan dan sampailah pada pembicaraan testimoni gejala kejang yang sama pada anak saya dan dr. Dika. Meski boleh jadi kasus kejangnya tidak sama (Saya tidak akan membahas mengenai gejala ini).

Sebuah kisahpun dimulai.

Kami mencoba bercerita pada dr. Dika hasil CT Scan anak kami dengan hasil normal. Kami merasa terguncang. Bagaimana tidak, hari-hari sebelumnya seperti tampak normal. Dia sebelumnya ada kegiatan kemah di sekolah. Katanya capek dan pagi harinya merasa sakit kepala. Tindakan pertama kami bawa ke Bidan terdekat. Diapun tertidur. Makan pagi dan minum obat lancar. Namun, kisaran jam 13.00, dia mau disuapin minum obat. Mendadak kontak komunikasi tidak begitu sambung. Dia mencoba membuka mulutnya tetapi refleks meneguknya tidak jalan. Semakin lama diapun melemah dengan mata yang terbuka tetapi kehilangan kontak. Nampaknya kesadaran dirinya di batas zero. Kamipun langsung mengangkut dia ke RS terdekat untuk mendapat pertolongan pertama.

Kami pun menghadapi anak demikian tidak sendiri. Sosok dokter di depan kami bahkan menuturkan jika memiliki anak yang rentan terhadap gejala (kejang/lunglai) harus bisa kita terima. Dokter lantas mengungkapkan kepasrahan merawat anak dengan kondisi tertentu. Kondisi ini kadang, membuat orang tua merasa tidak lengkap karena anaknya tidak sempurna atau mengalami gangguan, padahal harapan saat punya anak, setiap orang tua selalu berharap anak-anak yang lahir dari rahim ibunya menjadi anak yang tumbuh sehat. Namun, tidak semua orang tua berada dalam jalur seperti itu.

Tidak bisa dipungkiri kelahiran dan perkembangan anak tidak luput dari setumpuk harapan yang terus bergulir bagi orang tua. Harapan demikian akan mengompilasi sikap dan nilai kehadiran anak serta cara mengasuhnya. Namun demikian, jika harapan itu tidak dikontrol oleh penerimaan diri, kekuatan harapan orang tua pada anak secara berlebihan menjadikan orang tua putus dan sulit untuk menerima keadaannya. Selain itu ada orang tua yang semakin menguasai anak atau obsesif karena harapan orang tua melebihi dari kehendak anak. Mengyikapi ini diskusi kami sampailah pada sebuah pesan arif, “biarlah anak dengan perkembangannya sendiri. Tugas orang tua mendampingi proses perkembangan anak, tidak perlu orang tua berambisi.” Menurut dr. Dika, untuk keluar dari sikap dan nilai terhadap anak tersebut perlu membangun sikap diri bahwa anak sudah mendapat titah dari Tuhan. Orang tua tugasnya memahami dan menemukan titah itu pada anak, bukan memaksakan kehendak orang tua.

Harapan berlebihan akan menggerus penerimaan yang realistik. Orang tua yang berharap berlebihan menyebabkan disonansi kognitif, yakni apa yang diharapkan tidak sebagaimana kenyataan. Maunya orang tua tidak sejalan dengan keinginan anak. Ini justru mengakibatkan orang tua sulit mengelola pasrah, bahkan tertekan oleh realitas anak yang tidak kunjung sesuai dengan keinginan orang tua.

Penerimaan tersebut menurut dr. Dika juga menyangkut ikhwal sehat dan sakit anak. Penerimaan dengan pasrah dan kemampuan menjaga dan merawat anak adalah tugas yang diamanatkan tuhan. Kondisi anaknya yang mempunyai situasi rentan dalam kasus khusus kesehatan, yakni ketika capek berat, anaknya akan mengalami kondisi lemas dan kadang sampai muntah-muntah. Dia mencoba menghayati bahwa kepasrahan merawat anak sebagai titipan Tuhan adalah kemampuan menerima kondisi anak sebagaimana adanya. “Kita harus pasrah menerimanya sebagaimana adanya,” kata dr Dika. Tetapi kadang bagi saya sendiri memang berat karena harapan kesempurnaan atau sebagaimana keinginan segera sembuh, membaik dan tidak ada gangguan kesehatan menjadikan saya sulit dalam mengelola pasrah. Boleh jadi bagi saya peristiwa ini adalah hal baru sehingga membutuhkan penyesuaian diri untuk menerima. Namun dr. Dika menegaskan, pasti bisa pak. Berusaha dan berusaha mengembalikan semua pada yang kuasa.

Dokter ini kemudian juga bercerita target kemampuan anak. Dia katakan anak akan berkembang sesuai dengan bawaan anak. Orang tua sebaiknya perlu melihat anak bukan dari harapan orang tua, apalagi memaksakan anak menjadi sebagaimana keinginan orang tua. Orang tua sudah harus pandai memahami dimensi kapasitas anak. Termasuk dalam pendidikan. Orang tua bertugas mengondisikan agar anak berkembang sesuai dengan kemampuannya. Bukan mengharuskan pencapaian istimewa sebagai target mutlak bagi anak sebagai yang terbaik, misalnya harus ranking atau menguasai ini dan itu berdasarkan kadar ukuran orang tua. Bagi orang tua, tugasnya menjadi pembimbing dan pendamping agar anak tetap berbesar hati berdasarkan keahlian yang dimiliki.

Spiritualitas Meminta Maaf

Ada ungkapan pepatah, kebo nusu gudel. Orang tua perlu belajar pada anak. Dalam arti kata, anak adalah guru kehidupan. Kemampuan memahami sudut pandang anak memberikan dorongan agar orang tua turut berbenah menyesuaikan arah baru anak, termasuk cara mendidik, mendampingi dan membantu menunjukkan jalan terbaik anak. Oleh karena itu untuk mendorong kualitas perkembangan anak, orang tua perlu mengubah pandangan yang sesuai dengan zaman anak.

Pembincangan kami sampai pada introspeksi diri. Selama mengasuh anak, orang tua seringkali didominasi obsesi, hasrat, kemauan, pendisiplinan hingga pada pemaksaan yang berlebihan. Bahkan ancaman pun kerap menjadi teknik agar anak mematuhi kehendak baik orang tua. Kepatuhan anak sering kita anggap bagian dari indikasi anak yang baik. Kalau sudah begini, aspirasi anak selalu ditentukan keputusan orang tua. Anak bisa menjadi mesin kepentingan orang tua.

Ketidaksesuaian kemauan anak, pada titik nadir akan mendorong kemarahan orang tua. Hak anak yang diminta atau diajukan anak pada saat yang tidak tepat menjadikan orang tua merespon abai, atau balik memarahi karena dianggap keinginan anak nyleneh, dan tidak cocok bagi orang tua. Keinginan kontraproduktif bisa terjadi sampai melahirkan konflik anak-orang tua. Ketika pemahaman orang tua pada anak berkurang, siuasi konflik semakin menjadi. Di sinilah sudut pandang orang tua menjadi bagian dari munculnya kesalahan perlakuan yang melahirkan perilaku pengabaian, konflik hingga kekerasan pada anak, seperti menggertak, memaki, mencubit sampai memukul.

Anak ditempatkan sebagai subyek tidak berbakti ketika melawan kehendak orang tua. Anak selalu dianggap bersalah karena tidak tidak berbakti dan secara normatif sudah sewajarnya anak yang selalu dianjurkan meminta maaf. Tak adil jika tumpuan kesalahan selalu dibebankan pada anak. Perlakuan yang tidak tepat orang tua pada anak juga sangat mungkin mewarnai cara mengasuh anak. Ini juga buah sebuah kesalahan. Tetapi mengapa tuntutan meminta maaf ke orang tua pada tiap tahun selalu dibebankan pada anak karena alasan berbakti. Apakah selama mengasuh anak, orang tua tidak pernah berlaku salah memperlakukan anak ?

Meminta maaf bukan semata tuntutan anak. Orang tua pun demikian. Jejak orang tua dalam mengasuh anak, tentu banyak perlakuan yang salah. Di sinilah introspeksi dibutuhkan agar meminta maaf pada anak juga cara membangun keteladanan bagi anak bahwa orang tua juga bagian dari manusia yang punya peluang khilaf. Ia sekaligus contoh etik hubungan antarmanusia. Tuntutan ini juga pernah diurai oleh sejawat saya dari Sanggar Cendikia Malang, Eyang Wiwik.

Hal yang dilupakan bagi orang tua adalah tradisi meminta maaf orang tua pada anak. Kisah yang menyadarkan Eyang Wiwik tatkala dia diprotes anaknya saat awal pernikahan. Kala itu, beliau mengatur ini dan itu soal keputusan yang harus diambil anaknya. Bagi Eyang, keputusan yang diajukan dianggap baik, tetapi bagi anak, cara tersebut malah dianggap hak untuk bebas dalam mengambil keputusan hidupnya justru merasa tergerus. Anggapan baik orang tua menggusarkan cara anak untuk mengambil keputusannya secara mandiri karena meskipun baik, anak merasa privasinya dicampuri dan kepercayaan atas hak mandiri dalam mengambil keputusannya terganggu. Kejadian ini yang membekas pada ingatan anak.

Anak bisa terluka, mungkin oleh ucapan, pilihan dan campur tangan orang tua. Menurut psikoanalisis, luka ini akan mempengaruhi perkembangan anak lebih lanjut. Ia juga turut mempengaruhi motivasi, sikap hidup, perilaku anak dan cara menghargai orang tua di kemudian hari. Karenanya, permintaan maaf orang tua adalah restorasi dan instrospeksi diri bahwa perkembangan hidup anak yang tidak baik ditentukan atau boleh jadi disumbangkan juga oleh cara orang tua memperlakukan anak secara tidak tepat. Keinginan baik orang tua tetapi cara memperlakukan keinginan itu tidak baik, ia akan melahirkan kontradiksi pada anak, apalagi keinginan tersebut langsung membentur keinginan anak.

Untuk itu filosofi “kebo nusu gudel” perlu direvitalisasi bahwa orang tua perlu memahami perspektif anak. Orang tua sebagaimana kata Ki Hajar Dewantara, “Tut Wuri Handayani.” Anak sebagai subyek perkembangan adalah sumber belajar bagi orang tua. Meminta maaf dengan demikian adalah medium membersihkan jiwa pengasuhan orang tua karena berbagai kesalahan perlakuan di masa lalu. Spirit ini akan mendidik pribadi orang tua untuk tetap menjadi orang tua terbaik. Orang tua akan melihat dan mengoreksi cara yang tidak tepat dalam mengasuh anak di masa lalu dan mengembangkan cara baru positif dalam mendampingi anak bertumbuh dan berkembang.

Meminta maaf merupakan jeda untuk mengoreksi peran orang tua dalam mengasuh anak. Setelah ditemukan kesalahan, orang tua beranjak untuk mengambil peran baru lebih baik dan tepat pada anak selanjutnya. Permintaan maaf orang tua pada anak bukan berarti pembalikan etik tetapi kemampuan melihat sudut pandang diri sendiri apakah cara-cara yang negatif telah dikenali orang tua. Boleh jadi kata-kata sederhana yang dimasudkan untuk menasihati anak, tetapi caranya tidak cocok justru menciptakan kesan psikologis mendalam yang menyakitkan pada anak. Perasaan ini tidak kelihatan dan orang tua boleh jadi tidak peduli. Tetapi perasaan anak dibentuk secara personal dan tersembunyi sehingga hanya anaklah yang tahu. Perasaan terpendam oleh rasa kecewa, tidak cocok dan kontradiksi yang dibentuk secara terus menerus akan menimbulkan kesan gunung es. Jika kesan gunung es menimbulkan kondisi rentan, ia bisa menstimulasi lahirkan rasa tidak suka pada orang tua, benci dan marah di kemudian hari.

Meminta maaf tidak saja menyucikan jiwa orang tua, tetapi pun menyucikan jiwa anak oleh karena kesan-kesan yang diterima anak melahirkan sentimen kebencian atau perasaan kontradiksi mampu dibersihkan dengan meminta maaf. Kerendahan hati akan merangsang jiwa anak karena ditunjukkannya rasa bahwa kesalahan dan kebesaran jiwa untuk meminta maaf adalah pelajaran jika manusia selalu kekurangan, tidak sempurna. Dalam arti kata, meskipun bakti anak para orang tua sepanjang hidup anak, namun demikian keteladanan adalah pelajaran langsung yang perlu diketahui oleh anak. Anak tetap ditempatkan kedalam posisi unggul sebagai manusia. Di sini dialektika empati saling dipertemukan. Penghargaan orang tua pada anak melampaui norma etik mengenai doktrin berbakti. Tetapi tidak berarti orang tua adalah subyek underposition pada anak tetapi menempatkan diri sebagai subyek setara dalam hubungan attachment (kelekatan) sehingga proses meminta maaf adalah bagian dari proses menyayangi secara timbal balik, bukan dalam posisi hirarkhi otoritas tetapi lebih pada pendewasaan penuh empati.

Malang, 5 Februari 2015