Pengalaman menjabat adalah niscaya. Pengalaman itu hal baru bagi saya. Menantang dan dituntut tidak boleh reaktif. Meski godaannya kerap ingin saja berada di zona nyaman. Mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas dan fungsi saya saja, selebihnya biarlah. Panggilan hati nurani terkadang mendorong saya perlu bergerak proaktif setiap berhubungan dengan orang lain sehingga mampu saling menopang perbaikan di tempat saya bekerja.

Beberapa kali sebagian kolega sering melontarkan kritik dan saran ke saya. Kritik itu seharusnya disalurkan langsung ke pemimpin tertinggi di lembaga saya. Tidak tahu entah alasan apa mereka seringkali menyampaikannya ke saya. Saya memang menjadi wakil, tetapi masalah-masalah yang kerap dilontarkan ke saya adalah masalah yang selayaknya menjadi lini kebijakan pimpinan dan bukan lini kebijakan saya. Namun karena saya juga bagian dari sistem itu saya juga merasa bagian dari sasaran kritik. Rasa tidak nyaman, merasa diserang atau terancam tidak bisa dipungkiri hingga merasuk kedalam egopersonal saya. Namun, saya juga merasa mereka ingin membangun saluran kritik dan pendapat melalui saya agar tersampai juga ke pimpinan.

Pada akhirnya saya memaksa diri menerima kritik itu dan berjiwa besar mendengarnya. Saya pola pikiran saya kedalam sudut pandang hubungan diskusi agar saya tidak merasa bahwa saya sebagai sasaran kritik tetapi saya hendak memosisikan diri kedalam proses mencapai kesepahaman.

Kalau sudah seperti itu, dibutuhkan perspektif yang berimbang dalam mendengarkan kritikan, bukan berada dalam konflik ego sehingga kalau dikritik kemudian berada dalam subyek terserang atau subyek terancam yang membutuhkan cara mempertahankan diri, yang terjadi adalah clash diantara dua orang atau lebih. Untuk itu, sikap tahan dan mau menerima kritik adalah modal awal untuk memahami masalah sebenarnya. Bagaimanapun, saat positioning komunikasi kita salah, maka dalam situasi kita sebagai pihak yang dikritik, kita akan cenderung berada dalam subyek victims, seperti sebagai subyek yang diintimidasi orang lain. Agar posisi tersebut tak menguat saat kita diberi saran atau kritik maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Harga diri perlu ditetapkan dalam konsep diri positif. Perbedaan sudut pandang, saran atau kritik yang dialamatkan ke kita, anggaplah itu sebagai proses humanisasi. Humanisasi akan tercakup manakala ada komunikasi. Oleh karena itu kerangka komunikasi interpersonal pun dapat dikelola kedalam kredo kemanusiaan. Keaadaran demikian akan menopang terwujudkan perdamaian diantara sesama.

Saat bersitegang, dan posisi kita sedang dikritik, atau ada seseorang yang tidak bersepaham, komunikasi jalan tengah dibangun melalui pengumpulan informasi yang berimbang. Informasi yang kita kumpulkan sedapat mungkin adalah informasi berbasis data yang aktual. Maksudnya informasi didasari oleh kenyataan yang benar terjadi, bukan informasi yang bulsit. Kebenaran informasi ini akan membantu pemahaman bersama dan dapat menurunkan ketegangan interpersonal. Jikalau belum mendapatkan informasi yang lengkap maka kita dapat mengakui dan menunda kesimpulan sehingga tidak bertambah runyam dan meningkatkan gejolak bersitegangang.

Jelaskan perspektif data pada porsinya masing-masing. Sudut pandang informasi dari pihak kesatu dijelaskan secara proporsional berdasarkan keutuhan dan perspektif orang kesatu. Janganlah data dari pihak kesatu anda tafsirkan menggunakan sudut pandang orang lain pihak kedua yang sedang dijadikan obyek kritik. Kecenderungan menjelaskan informasi dan bahkan tafsir dari sudut pandang orang lain yang berlawanan dengan sumber informasi kesatu hanya melahirkan, meminjam Bahasa Jawa adu-adu, atau mengadu domba.

Cara komunikasi ini menciptakan ketimpangan dan justru merangsang konflik yang kompleks dan menimbulkan bias atribusi. Seseorang menafsirkan informasi atau sebab perilaku dari pemahaman sendiri yang dipengaruhi oleh rasa tidak suka. Jikalau rasa tidak suka dan sudut pandang ego-personal kita menguasai cara berpikir kita dengan tujuan pembelaan, niscaya sumber informasi atau gejala perilaku orang lain selalu dianggap sebagai sumber kesalahan. Oleh karena itu untuk meningkatkan kadar kejernihan dalam berpikir, memahami perspektif sumber informasi dan perilaku subyek yang menyampaikan kritik akan justru memampukan kita memahami apa maunya atau apa sudut pandang pengkritik. Pendekatan ini dapat disebut sebagai pendekatan perspective taking.

Komunikasi jalan tengah berusaha memahami diantara dua sudut pandang yang berbeda berdasarkan nilai perbedaannya. Artinya, seorang yang berposisi sebagai komunikator jalan tengah adalah mediator. Dia mampu membuat parafrase dari dua informasi yang berbeda berdasarkan dua sudut pandang informasi yang adil. Melalui parafrase (pengambilan kesimpulan utama dan menjadikannya pesan baru yang akan kita sampaikan kembali) ini, komunikasi jalan tengah bisa menghindari dan dapat dijadikan sebagai konsolidasi produktif bagi dua atau lebih orang yang berbeda.

Komunikasi jalan tengah menjadi pengalaman baru. Kritik orang pertama saya bangun sebagai referensi positif untuk disampaikan ke pimpinan. Parafrase yang saya buat melahirkan pesan baru yang elegan sehingga dapat disampaikan secara netral ke pimpinan. Parafrase tersebut telah berubah menjadi pesan menyejukkan, bukan pesan menyerang. Di sini patut ditegaskan bahwa kritik dapat direproduksi menjadi kekuatan perubahan ketika informasi kritis tersebut mampu diolah dengan baik. Begitu juga ketika kritik itu dialamatkan ke orang kedua, tetapi saluran komunikasi menggunakan pihak ketiga. Kita sebagai pihak ketiga perlu menempatkan diri secara bijak, bukan justru menambah-nambahi informasi yang mengadu domba. Orang ketiga dapat menjadi mediator yang mampu mengolah informasi kritik menjadi bahasa positif yang disampaikan ulang ke subyek sasaran kritik.

Semoga tips komunikasi ini menambah kepiawaian pembaca dalam menempatkan diri sebagai pihak mediator. Kemampuan memediasi merupakan keahlian yang dibutuhkan bagi setiap orang di suatu organisasi atau perkumpulan.