Sejumlah fenomena seringkali ditemui pada anak-anak yang mulai mengenal pacaran setingkat usia TK-SD. Biasanya mereka lebih memahami peristiwa ini pada pencarian identitas gendernya daripada daya tarik seksual. Mereka mulai mencari sumber-sumber identifikasi melalui pemodelan peran tersebut.

Anak-anak di usia tersebut belum memahami makna berpacaran, tetapi eksternalisasi perilaku tersebut merupakan respon pencarian identitas gendernya. Mereka mulai mencari pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Pembedaan ini biasanya muncul dalam berbagai rupa, seperti memberi lebel maskulin atau feminin pada temen bermainnya, bisa juga dalam bentuk bermain peran sebagai ayah atau ibu. Ada juga dijumpai mereka memainkan peran profesi yang biasa diambil oleh laki-laki seperti tukang kayu untuk anak laki-laki. Sementara untuk anak perempuan memerankan profesi yang diwakili oleh kebanyakan perempuan seperti guru.

Bahkan, kita kerap menjumpai anak-anak mempunyai luapan kalimat yang spontan seperti kata-kata berpacaran. Fenomena ini menandai bahwa anak mulai berkembang identitas gendernya dan mulai mencari dunia seksualitasnya. Oleh karena itu anak-anak akan mencari sumber tiruan (pemodelan peran) dari lingkungan sekitar.

Karena bagaimanapun, perilaku anak-anak tidak bisa dilepaskan dari pemodelan peran. Anak-anak akan cenderung berperilaku berdasarkan hasil amatan (tiruan) dari lingkungan sekitar.  Oleh karena itu lingkungan yang sehat akan menentukan pula perilaku sehat bagi anak-anak.

Ketika hari ini anak-anak mulai mengenal istilah pacaran atau rasa suka dengan lawan jenis, hal itu tidak lebih dari luapan ekspresi identitas gender dan pencarian dimensi-dimensi seksualitas. Mereka belum mengenal makna pacaran sebagai suatu hubungan intim jenis kelamin tetapi lebih pada ekpresi identitas gender yang diwujudkan dalam berbagai perilaku pemodelan peran. Biasanya ditemui ekspresi tersebut sebagai variasi bermain anak-anak.

Namun demikian, perilaku tersebut akan berdampak buruk ketika ekspresi tersebut distimulasi oleh pengaruh lingkungan sosial yang buruk. Mereka meniru bentuk-bentuk hubungan jenis kelamin, rasa suka dan perilaku berpacaran orang dewasa yang diamati dari pergaulan bebas, menonton telivisi, sinetron remaja atau dewasa, infotainment dan bentuk-bentuk tontonan yang mengekspos hubungan intim jenis kelamin.

Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari untuk membantu memenejemeni hubungan jenis kelamin anak-anak agar identitas gender anak terbentuk secara matang. Orang tua perlu pula mendesain lingkungan sosial agar anak menjalin hubungan jenis kelamin secara sehat. Yang dimaksud di sini bukan membatasi hubungan anak-anak tetapi lebih mengatur, menjembatani dan mengontrol agar hubungan mereka terkondisi ke dalam tugas-tugas perkembangan, seperti sosialisasi, adaptasi, membentuk kegembiraan dan kebahagiaan anak sebagai buah dari hasil interaksi dengan sebayanya.

Lingkungan sosial ini dapat diciptakan dengan memperbanyak fasilitas bermain anak. Suatu contoh, permainan tradisional kiranya dapat memperkaya hubungan jenis kelamin ini secara lebih matang. Pilih permainan tradisional yang dapat dimainkan antara anak laki-laki dan perempuan.

Dalam permainan ini, identitas gender anak akan dibangun berdasarkan suportifitas. Seksualitas anak-anak dibentuk atas dasar sharing peran dan dinamika hubungan mereka didorong oleh motivasi mencapai tujuan-tujuan bermain yang lebih positif.

Oleh karena itu jika letupan-letupan kalimat seperti pacaran sebatas menjadi bagian dari ekspresi bermain, anak-anak ini sebenarnya sedang mengekspresikan pencarian identitas gender dan sedang mengalami transformasi menuju kematangan seksual.

Tetapi ketika kondisi tersebut tidak mampu dimediasi dan dikontrol melalui peran-peran pengasuhan yang matang, maka anak juga berkembang lebih bebas. Keadaan ini yang perlu diwaspadai. Untuk itu pengawasan, pembimbingan, stimulasi lingkungan sosial yang menyehatkan akan mengantarkan perkembangan identitas gender dan seksualitas anak akan lebih matang sesuai usia perkembangannya.

Intisari ini pernah dimuat di “Radar Malang” dalam rubrik “Mom and Kids” di kolom Kata Pakar