Zara sedang mengikuti bedah buku 5 Cm dengan penulis Dony Dirgantara,

Zara sedang mengikuti bedah buku 5 Cm dengan penulis Dony Dirgantara,

Awalnya, tulisan ini saya kirim ke rubrik mingguan Jawa Pos “Dibalik Buku”. Setelah sedikit kesal menunggu, saya berkesimpulan sepertinya tulisan saya tidak memikat redakturnya, karena sudah lumayan lama tidak kunjung dikabari atau nongol di media. Hal ini bagi saya sudah biasa. Lebih banyak yang tidak dimuat di media daripada yang dimuat. Ya…kesal sih kesal padahal beberapa tulisan resensi saya pernah dimuatnya. Namun karena sudah biasa, saya terima saja dan nanti menulis lagi. Nah pilihan akhir ya saya publikasikan sendiri di blog saya, http://www.metanarasi.com.

***

Keadaban sebuah bangsa dipengaruhi oleh jumlah buku (tulisan) dari hasil karya anak bangsa. Tulisan yang terpublikasikan dalam buku menunjukkan generasi pencipta karena tulisan salah satu bagian terpenting dari publikasi hasil karya, baik berupa fiksi (sastra), temuan ilmu pengetahuan, atau hasil karya lain. Kemampuan menulis dapat dipupuk sejak dini di Sekolah melalui Pelajaran Bahasa Indonesia yang dipelajari sejak anak memasuki bangku Sekolah Dasar.

Pelajaran Bahasa Indonesia dapat dikembangkan untuk memupuk siswa mampu mengembangkan kompetensi menulis sejak dini. Pada pelajaran Bahasa Indonesia siswa dapat dilatih hasta-karya dalam bentuk latihan memproduksi buku sebagai tindak lanjut pelatihan menulis. Kegiatan ini dapat merangsang anak mencintai hasil karya dan buku. Namun, kesadaran hasta-karya seperti ini jarang menjadi kegiatan alternatif. Umumnya, kegiatan hasta karya di sekolah didominasi oleh ketrampilan tangan seperti menganyam, menjahit
Selama ini, buku lebih dominan diproduksi di luar sekolah padahal ketika buku adalah buah hasil karya dari pikiran-pikiran cerdas, maka kontribusi pendidikan tidak bisa dipisahkan dari ruhnya buku, yakni kegiatan berpikir dan menulis. Kegiatan ini masih didominasi di Perguruan Tinggi.

Oleh karena itu wacana mengintegrasikan Bahasa Indonesia dengan Sains dan Ilmu Pengetahuan Sosial dalam uji publik perubahan kurikulum 2013 tidak hanya pertimbangan nasionalisme yang tanpa bentuk. Perjumpaan tiga Mapel tersebut hendaknya menjadi kesadaran nasionalisme dalam bentuk mengajari anak menulis sejak dini untuk menghasilkan karya tulis dan memproduksinya menjadi buku.

Substansi tulisan ini lebih pada persoalan kesadaran menulis. Bahasa Indonesia yang tidak memiliki obyek imajinasi, ia hanya menjadi pelajaran gramatikal karena siswa tidak diajari membuat karya dan menulis hasil karya. Ilmu pengetahuan tanpa Bahasa Indonesia, lebih spesifik tidak melahirkan siswa terampil menulis sehingga tidak merangsang kuriositas siswa. Pelajaran ilmu pengetahuan menjadi pelajaran hafalan dan tekstual.

Secara psikologis kegiatan menulis menjadi terapi merangsang pikiran siswa untuk mengembangkan imajinasi, melatih membuat pertanyaan kritis, menggoreskan ide, mengembangkan keragu-raguan dan menjawabnya untuk kemudian ditemukan sebuah argumentasi atau cerita sejalan seirama dengan proses menulis.

Menulis adalah metode untuk mendorong kecerdasan subyek terasah sesuai dengan kebakatan anak. Mengajak menulis berarti mengajak subyek mencari tahu gejala, memikirkan ulang, menuangkan pemikiran dalam sebuah kalimat, memikirkan kembali untuk mendapatkan jawaban otentik agar kalimat itu menjadi lengkap. Menulis membantu penyelidikan tiada henti yang merangsang tradisi meneliti. Menulis membantu imajinasi dapat terekspresi menjadi cerita indah (puisi, pantun, cerpen, atau novel).

Menulis adalah kompetensi universal, bukan sebuah bakat yang hadir karena keistimewaan individu. Kita setidaknya menyadari bahwa pendidikan kita masih didominasi oleh paradigma konsumsi. Pengetahuan diajarkan sebagai doktrin yang dikuasai oleh kegiatan membaca (terpusat pada teks) dan menghafal. Jika mengacu pada kritik Paulo Freire (1985) dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas, paradigma konsumsi tersebut mencerminkan masih langgengnya pendidikan gaya bank. Guru mengajar-murid belajar, guru memberi-murid menerima, murid mengerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa)-guru menilai. Jika begini terus, ia hanya mengebiri derivat menulis sebagai kompetensi universal karena kemampuan menulis tidak bisa dibentuk (dibiasakan) melalui proses belajar mendikte (perintah).

Pendidikan bergaya bank menghambat lahirnya kreatifitas, termasuk kemampuan menulis untuk melahirkan karya dan diproduksi menjadi buku. Oleh karena itu bangsa ini dapat dilatih memproduksi buku dengan memulai membiasakan anak menulis sejak dini. Kebiasaan tersebut dapat dilakukan orang tua atau guru di sekolah dasar atau menengah. Beberapa penulis tersohor mengatakan, menulis bukanlah mitos bakat tetapi kebiasaan. Pendapat ini dapat dijadikan motivasi bahwa menulis adalah kompetensi universal yang setiap subyek memiliki kesempatan sama menjadi penulis.

Mengajari menulis sejak dini adalah mendasari aktifitas belajar anak melalui proses menulis. Proses pendidikan seperti ini menempatkan siswa sebagai subyek aktif yang dirangsang menjadi pencipta dan produsen dari buah karya imajinasi, pengembangan rasa ingin tahu siswa yang direkam dalam jejak-jejak aktifitas kepenulisan. Kegiatan belajar yang bertumpu pada kepenulisan akan menumbuhkan kreatifitas karena menulis merangsang pemikiran kritis.

Hasil akhirnya, siswa diajak memproduksi buku untuk menghargai hasil karya dengan mengumpulkan karya siswa menjadi buku. Sekolah bertugas memfasilitasi hasil karya siswa dengan membantu mencetaknya. Proses produksi menjadi buku dapat dilakukan dengan sederhana, misalnya dengan swadaya antar siswa melalui iuran sebaya dan kemudian mencetaknya terbatas untuk kalangan sendiri untuk didisplay di rak-rak perpustakaan. Hasil karya sederhana ini dapat dijadikan kegiatan akhir semester dalam bentuk pameran karya siswa buku. Apabila pilihan tersebut sulit, guru kelas atau orang tua dapat membuatkan blog karena ketersediaan media menulis online ini sangat murah (lihat http://www.ceritazara.com; http://www.ayundadamai.com). Ada juga fasilitas gratis sebuah situs yang menyediakan penerbitan buku secara online (lihat http://www.nulisbuku.com).

***

Bagi saya, upaya membiasakan anak menulis juga terkondisi pada anak yang kedua. Dia masih dalam taraf belajar menulis. Adapun contoh pendampingan saya tentang tulis-menulis pada Irsyad seperti tergambar sebagai berikut.

Bertemu Pak RT dan Warga Lagi Menebangi Pohon

“Ayo anteng antengan”. Aku dipanggil oleh pak guru, “Irsyad pulang”. Aku memang paling anteng duduknya sehingga aku diijinkan pulang lebih dulu dari teman-temanku. Lalu aku pulang berjalan kaki.

Ketika di jalan aku melihat orang lagi menebangi pohon. Langsung aku bilang, “pak, jangan ditebangi, nanti mengakibatkan banjir atau tanah longsor lo ?
“Oh, jadi begitu ya”, sahut Pak RT yang saat itu sedang menunggui warganya menebangi pohon.

Saya pun menyahut, “nah warga jangan menebangi pohon nanti bisa mengakibatkan banjir atau tanah longsor, betul kan ya Pak RT. Kemudian saya melanjutkan perkataan tersebut, “nah, semua pulang ya… istirahat yang banyak, biar badannya menjadi sehat”. Semua warga yang sedang menebangi pohon tadi kemudian berhenti menebang dan berkata, “OK”.

Sesampainya di rumah, aku bercerita kepada mamaku. “Ma, mama, aku tadi ketika pulang dari sekolahan bertemu Pak RT di jalan dan bersama warga sedang menebangi pohon. Aku bilang kepada mereka untuk tidak lagi menebangi pohon karena akan mengakibatkan banjir atau tanah longsor.

“Oh begitu ya ceritanya”, jawab mama dengan senang hati. Saya kemudian menjawab, “iya”.
Sesampainya di rumah saya memang sudah lapar dan langsung mengatakan lagi pada mama, “Oh ya Ma, aku makan dulu ya”. Mama segera menjawab dengan cepat, “iya, tapi cuci tangan dan baca do`a sebelum makan dan sesudah makan”. Sangking laparnya, saya langsung menyahut dengan cepat, “siap!”

***

Media alternatif dan murah untuk mewadahi kemampuan mencipta anak-anak

Media alternatif dan murah untuk mewadahi kemampuan mencipta anak-anak

Tulisan ini mengasah anak berimajinasi dan menuangkannya menjadi tulisan. Ada poin penting di sini. Dia memiliki keberanian berpikir bebas. Kebebasan berimajinasi ia tuangkan menjadi tindakan, meskipun dalam gugusan kalimat-kalimat pendek yang belepotan. Saya menjadi ingat ketika seorang mahasiswa berkata ke saya tidak kunjung bisa menulis untuk mengawali tugasnya. Dia merasa takut (tidak PD) membuat tulisan. Memang saya menginstruksikan, agar tugas yang dibuat diusahakan sebagai suatu gagasan orisinil. Saya lebih suka anda menulis ide bebas dia daripada copy-paste dari buku dan internet. Artinya, dalam kegiatan menulis menuangkan gagasan/imajinasi kedalam tulisan adalah wujud keberanian seseorang. Sebuah keberanian mencipta.

Contoh di atas terlihat ada warna merah pada banyak kata dan kalimat. Warna merah adalah hasil editan saya. Editan ini sebagai umpan balik saya ke dia agar dia memahami bagaimana menyusun kalimat yang tepat. Inilah menurut saya pelajaran berharga yang seharusnya juga diterapkan dalam pelajaran mengarang di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tulisan tersebut sejatinya ingin dia ikutkan untuk sebuah perlombaan dengan tema “sayangilah bumi”. Tulisan itu tidak saya kirim karena masih banyak belepotan. Saya akhirnya mencoba mengedit dan memberikan umpan balik untuk dia baca kembali.

***

Membiasakan menulis sejak dini adalah jalan panjang yang perlu disadari sejak dini agar lahir generasi pencipta. Mereka sejak dini dilatih memproduksi buku dan membentuk harga diri anak-anak dari proses kreatifitas (mencipta) memproduksi buku. Membiasakan menulis sejak dini dapat diupayakan menjadi kegiatan belajar siswa dengan cara menyenangkan, termasuk menjadikan kegiatan memproduksi buku sebagai metode belajar berhasta-karya dengan menyenangkan.