Menjadi produktif di sela-sela rutinitas boleh jadi menjadi peluang emas bagi seseorang. Itu pun kalau seseorang berusaha untuk tidak hanya terpaku dan cukup melakukan pekerjaan rutinnya yang kadang menjenuhkan dan bahkan menjadikan kita seolah seperti mesin. Sebagian waktu kreatif hanya dimiliki oleh orang yang bisa keluar dari jebakan rutinitas. Ini beda dengan orang yang memang memiliki passion untuk mengembangkan karya kreatifnya.

Renungan ini juga bagian dari refleksi tentang karir pemuda dan kesempatan menjadi pemuda yang berkarya. Mengapa ? Saya melihat keragaman pemuda. Dalam keseharian tugas, saya hampir setiap hari bertemu mahasiswa baik di kelas atau di luar kelas. Sebagian besar mereka tekun hadir dan menunggu masanya tiba diwisuda. Ketika awal semester, saya biasanya mengajak mereka membuat refleksi sebelum kontrak belajar dimulai. Saya ajak mengalkulasi biaya yang mereka habiskan dalam satu semester. Saya terkejut, rata-rata mereka menghabiskan uang Rp. 14 Juta sampai Rp. 19 Juta setiap semester. Jika semester enam uang itu sudah terkumpul Rp. 114 juta.

Fantastis jumlah itu. Saya pun juga tercengang. Selama ini saya tidak pernah menghitung biaya kuliah. Dialog kami pun berlanjut untuk mengidentifikasi apa dampak yang sudah diinisiasi, kegiatan positif yang bisa diukur sebanding dengan nilai uang tersebut. Mereka terdiam. Ada yang menyebutkan satu atau dua kegiatan selain kuliah. Ada yang menyahut sedikit guyon, yakni mendapat pengalaman. Ketika diumpan balik, pengalaman apa saja, mereka pada tertawa karena merasa sulit mengidentifikasi.

Saya tidak tahu, diamnya mereka apakah malu berkata-kata karena pertanyaan itu diajukan di ruang kelas atau memang masih terlalu dini untuk mengidentifikasi produk kreatif yang bisa mereka ukur sebagai sebuah kemajuan dan mampu ditimbang setara dengan uang yang sudah dihabiskan dalam memenuhi kebutuhan kuliah dan hidup di rantau. Ada sih, yang bersuara. Ya satu sampai tiga hal kreasi atau tindakan yang mereka anggap sebuah kemajuan dan bernilai bermanfaat. Itu pun tidak banyak yang menyampaikan. Yah, boleh jadi bias publik di kelas sehingga para mahasiswa jarang yang bersuara. Boleh jadi mereka berada dalam sindrom berbicara di muka umum.

Berkarya dan Kesiapan Karir

Saat menguji skripsi, saya menemui hasil penelitian jika masa SMU, remaja sudah memiliki perencanaan karir. Hasil ini meniscayakan masa remaja menjadi momen mengimajinasikan pilihan karir. Mereka lebih siap diberikan pelatihan dan pelatihan yang berorientasi karir. Fakta ini juga mendukung alasan menjamurnya Sekolah Kejuruan. Kepentingan ini juga sejalan jika setelah lulus SMU remaja sudah siap mengambil kerja atau merintis karirnya.

Namun, bagi remaja yang berniat melanjutkan studi inisiasi karir tidak serta merta mampu dilaksanakan. Para remaja ini membayangkan dengan harapan akan mendapat pekerjaan setelah studi S1. Baik untuk melamar pekerjaan dengan ijazah yang dikantonginya atau menjadikan pengetahuannya sebagai bekal merintis kerja. Bagi yang kuliah vocasional, mereka belajar lebih aplikatif, bagi yang S1 dengan beragam jurusan mereka berkutat dengan buku teks dan sebagian ada yang berpraktik di laboratorium. Sebagian besar mereka tenggelam dalam ritual kelas selama empat tahun. Sebagian besar mereka berharap mendapatkan pekerjaan dengan baik. Sebagian kecil melanjutkan studi lanjut. Ada yang belum lulus tetapi sudah diakui kualifikasinya dan ditawari bekerja saat lulus. Ada yang aplikasi setelah lulus, mencari-cari pekerjaan, ada yang menunggu cukup lama belum memperoleh pekerjaan sesuai minat studinya.

Jika perencanaan karir sudah muncul sejak SMU semestinya perguruan tinggi merupakan transisi realisasi karir. Memang, memulai usaha memang tepat berada pada rentang usia produktif 20-40 tahun. Namun, pembelajaran PT dengan keadaan lazim berfokus pada memahami pengetahuan yang mengisolasi praktik, maka mahasiswa didominasi pada cara penguasaan pengetahuan berbasis teks sehingga waktu mereka dihabiskan memahami teks dan banyak meminggirkan waktu kreatif mereka. Namun, bagi mahasiswa aktif, mereka bisa keluar dari ritus kelas dan memaksimalkan praktik yang menambah ketrampilan tambahan mengalami hidup, menyediakan waktu memanfaat waktu kreatif untuk latihan berkarya. Mereka mencoba hidup di luar kelas. Ada yang aktif organisasi, berkesempatan meluangkan waktu menulis, ada yang merintis bisnis kecil-kecilan. Mereka belajar mengisi dengan karya-karya kecil.

Tidak semua bidang studi akhirnya menjamin bahwa mereka akan seluruhnya melamar pekerjaan dan diterima bekerja sesuai minat studinya. Bisa dibilang sangat banyak lulusan yang akhirnya menekuni pekerjaan di luar minat studinya. Bahkan jumlah pengangguran terdidik (853.000 orang dari 7,24 juta jiwa pengangguran di Indonesia) meningkat sejalan meningkatnya penduduk yang mampu mengakses pendidikan yang lebih tinggi (http://print.kompas.com/baca/2015/04/21/Berani-Menjadi-Wirausaha) sementara lulusan sarjana menjadi suram karena keterbatasan daya tampung lapangan pekerjaan lulusan S1. Pada kasus ini, meski mahasiswa mengambil jurusan calon profesional namun kebanyakan mereka tak dididik menginisiasi karir tetapi hanya dididik untuk menguasai pengetahuan. Pembelajaran di kelas lebih dominan dan kebanyakan meminggirkan pengalaman-pengalaman bagaimana mengkarirkan profesinya.

Apakah bisa ? Ini sangat tergantung kurikulum dan desain belajar. Kurikulum hari ini masih dikuasai pembelajaran SKS yang terpusat pada teks sehinga praktik diserahkan mahasiswa sendiri setelah lulus. Cara ini memutus mata rantai perencanaan karir yang sudah muncul ketika masa SMU. Masa PT sebaiknya masa menyimulasikan karir. Proses demikian berarti melatih karya dan mempresentasikan karya ke khalayak untuk peta peluang karir dalam berbagai uji coba sehingga mereka menjadi lebih kreatif. Masa PT berarti masa membuat laboratorium rintisan karir. Latihan berkarya menjadi proses pembelajaran yang tidak terbatas jurusan vokasional saja agar kuliah tidak menghabiskan waktu kreatif dan memenjarakan mahasiswa kedalam pembelajaran berbasis kelas. Fakta sukses dapat dirintis sejak masih kuliah seperti Mark Zuckerberg, Pendiri facebook itu merintis proyeknya saat masih kuliah. Beberapa orang yang sukses di usia muda, ia merintis usaha sejak dini. Setiap jurusan perlu dikaryakan dalam pilihan karir kreatif. Dalam dunia kedokteran, dr Gamal Albinsaid (@Gamal_Albinsaid) berhasil melakukan inovasi karir kedokteran dengan pola bisnis alternatif asuransi sampah. Di timeline twitternya, dia telah keluar dari pakem logika kedokteran dan megubahkan sebagai poros baru mengembangkan karir dengan kekuatan mentalitas dan pengalaman. Transformasi cita-cita dia geluti didasari oleh penjeburan dirinya latihan berorganisasi sejak dini. Dalam arti, dia telah menyediakan waktu kreatif guna menempa dirinya merengkuh pengalaman sejak awal lebih luas dari sebatas menggeluti pengetahuan dokter dari dalam kelas dan ruang praktik.

Membaca gambaran itu, setiap calon profesional mahasiswa sebaiknya sudah waktunya membangun sudut pandang jurusan yang dipilihnya untuk memantapkan inisiasi proyek karirnya. Atau mematangkan bibit karir melalui uji coba beragam pilihan karir yang didekati menggunakan sudut pandang keilmuan yang digelutinya. Dibaca menggunakan literatur yang ada dan diperkuat uji lapangannya dengan penelitian terapan. Untuk itu metode belajar mahasiswa harus dirombak ke pendekatan terapan. Di sini kesiapan karir digodok matang agar mahasiswa menjadi pencipta dan bukan pencari kerja. Mahasiswa sudah dilatih membuat karya dan membuat penawaran kepada publik, bukan diajari mencari pekerjaan dengan ijazah. Kuliah bukan lagi menyiapkan diri mendapat ijazah untuk digunakan melamar kerja, tetapu ijazah adalah pengakuan profesional atas kompetensi mahasiswa atas sebuah karya yang menopang kemantapan karir. Oleh karena itu inovasi karir tidak terpaku pada ukuran jurusan yang mengharuskan bekerja dengan cara melamar kerja. Inovasi karir dengan harapan sarjana mampu menciptakan lapangan kerja meniscayakan setiap jurusan dapat melahirkan karya kreatif. Di sini uji kematangan karir dibangun dari perencanaan dan uji karya.

Toh kenyataannya tidak semua lulusan bekerja sebagaimana jurusan yang pernah ia pilih. Toh juga masih banyak pengangguran terdidik karena mereka selalu menunggu diterima bekerja di sebuah lembaga karena itu lebih praktis dan prestisius. Setelah lulus mereka dituntut bertahan hidup dan mereka harus keluar dari box kemapanan selama kuliah, tetapi dengan banyaknya pengangguran terdidik, lulusan menjadi galau melihat pilihan hidup yang sangat praktis. Realita ini perlu dihadapi dengan pribadi berkarakter, tetapi miniatur ini tak dibangun sejak kuliah tetapi diisolasi dan semata dilokalisir kedalam penjara pengetahuan abstrak berpijak pada teks.

Memetakan waktu kreatif

Tak banyak miniatur yang lahir dari karya kreatif mahasiswa kecuali mahasiswa yang memang aktif menemukan passion dengan memilih sejumlah aktifitas. Saya kira mereka punya peta pemikiran dalam melihat pilihan aktifitas dirinya. Kalau saya ibaratkan jejak historis diri saya sendiri,  sejak semester awal S1, saya telah menyisihkan uang saku setiap bulan untuk membeli buku non-mata kuliah. Jadi saya mesti meluangkan waktu ke toko buku setiap bulan. Selain itu saya pun butuh waktu membacanya. Saya menarget buku itu harus kulahap habis. Selain membeli buku, saya meminjam buku di perpustakaan dan membacanya rutin setiap minggu. Kebiasaan bersambung ke meluangkan waku berdiskusi dengan teman dan mulai belajar menulis. Di semeser 5 tulisan saya dimuat di majalah berhonor Rp. 15.000,-. Kegiatan menulis menjadi inisiasi baru sebagai bagian dari menyisihkan waktu kreatif. Saat masih S1 sayapun diminta membuat sebuah profil yayasan yang melibatkan kerja menulis juga. Menulis menjadi pilihan saya di luar rutinitas untuk menopang tambahan saku kuliah waktu itu hingga S2. Setelah lulus S2 saya pun diajak melakukan penelitian dan menulis buku. Seolah dunia menulis menjadi bagian dari proses menjadi saya hingga hari ini, meskipun tidak semata-mata untuk mencari tambahan biaya hidup. Saya merasa dengan menulis memiliki waktu kreatif, meskipun bukan penulis produktif. Kegiatan ini menjadi komitmen menemukan waktu kreatif agar saya bisa keluar dari penjara rutinitas.

Saya seringkali berdiskusi dengan para penulis. Memang, mereka mempunyai peta dalam menyisihkan waktu kreatif menulis. Mereka punya waktu istimewa. Ada yang mengatakan perlu istiqomah laten/buta. Ada yang uzlah seminggu untuk menghasilkan satu buku. Juga ada yang menyisakan waktu jelang subuh untuk memproduksi tulisan. Masing-masing orang memiliki peluang memetakan waktu kreatif.

Memetakan waktu kreatif menjadi salah satu cara mengasah passion. Ini bisa dibangun sejak pemuda mengeyam pendidikan tinggi. Dan alangkah beruntung jika waktu kreatif sejalan dengan passion plus jurusan yang dipilihnya sehingga tidak menyia-nyiakan waktu merintis karir. Bukan setelah lulus mereka masih bingung kesana kemari mencari karir yang cocok. Dengan begitu melalui cara memetakan waktu kreatif kita bisa memproduksi karya. Sudi berjerih payah melatih diri pada aktifitas produktif hanya bisa dilakukan kalau kita mampu menciptakan waktu kreatif dalam siklus 24 jam, seminggu, sebulan atau sesuai target diri.

Memetakan waktu kreatif berarti setiap diri harus mengetahui passion yang dimiliki. Pengetahuan ini dapat dijadikan kesempatan memperkuat kemampuan mewujudkan keinginan yang tersembunyi. Terkadang kita tahu keinginan kita. Tetapi keinginan itu biasanya sangat ditentukan oleh seberapa kita memiliki kemampuan menyediakan waktu kreatif untuk merealisasikan. Ketersediaan waktu kreatif menjadi prasyarat produktifitas diri. Tergantung apa isi yang kita buat saat waktu kreatif ada. Bagi yang kreatif, waktu itu dikenali untuk diisi latihan berkarya. Bagi yang tak tahu, waktu itu akan terlewatkan tanpa aktifitas berarti. Ada yang punya kemauan tetapi tidak kunjung diisi dan terlewatkan dengan penyesalan.

Adapun cara mendapatkan waktu kreatif dengan mengetahui dorongan berkarya. Selanjutnya kemauan berbuat untuk mengisi waktu yang ada dengan aktifitas berkarya. Melalui kesempatan yang konsisten, waktu kreatif lambat laun akan menjadi media transformatif mengubah diri anda karena anda telah melahirkan karya. Anda tidak perlu berpikir instan namun tidak kuasa mewujudkan dengan segera. Orang yang memahami, pilihan instan kurang orisinil dan bahkan membebani orang sehingga tidak melakukan sesuatu karena bayangan terlalu besar sementara kemampuan tidak mendukung. Namun, ketika waktu kreatif dikenali dan digauli dengan konsisten, kita akan mendapatkan fokus dan akhirnya terbentuklah sebuah karya. Inti waktu kreatif bukan instan tetapi sebuah ketekunan merangkai karya dari dasar.

Apakah kita telah menciptakan waktu kreatif ? Mari kita hitung karya yang lahir dari tangan kita.