KEPIAWAIYANNYA membaca Al-Quran, membuat hatiku terpana. Dunia runtuh didalam sanubariku saat dia melantunkan ayat-ayat suci Tuhan di mushola At-Tibyan, kampus Universitas Negeri Malang.

Mendekati hari minggu, aku tidak biasa meluangkan waktu untuk bermalam minggu atau berjalan-jalan menjadikan hari libur ini ke pasar pagi di stadion Gajayana. Meskipun Hamidah adalah teman akrabku, tetapi malam Minggu dan Minggu pagi, kami selalu bertabrakan dalam dua kepentingan besar yang berbeda, dan menurutku prinsipil.

Hamidah selalu mengatakan,
“Malam mingguan aaahhhh!. Cari kaos Arema di pasar Minggu aahhh!”
Letupan mulutnya kuhafal dan hampir dipastikan akan diucapkan jika Sabtu telah tiba.
Sementara aku tidak akan menarik diri untuk kegiatan maksiat itu. Perbedaan ini prinsipil. Aku bergumam dalam hati ini,
“Malam minggu bagi Hamidah ibarat malam saat mana manusia berdamai dengan setan. Ah..aku tidak mau menjadi teman setan. Minggu hura-hura di pasar minggu, adalah pemborosan, menambah kemaksiatan. Mending aku tak perlu jalan-jalan untuk sekedar mendapati maksiat”.
Aku harus mencari pahala. Makanya, setiap minggu saya mesti menghadiri jamaah ikhwan/akhwat di mushola At-Tibyan, kampusku. Hamidah, bagiku adalah ujian dan tantangan. Aku harus berjuang untuk tidak menjadi bagian dari syaitan, sebagaimana Hamidah. Itu yang selalu aku camkan pada benakku. Aku yakin bahwa ustadz Manaf memang betul.
Minggu ini aku mendengar kesekian kali lantunan ayat suci Al-Quran ustadz Manaf di sela-sela ceramah rutinnya.
“Menjadi wanita itu harus bisa menjaga diri. Selalu menundukkan pandangan. Tidak sak karepe dewe. Ojo koyok lonte-lonte kui. Sebagai wanita harus tahu, bau minyak wangimu saja aurat, apalagi bersuara atau menyanyi. Itu bukan muslimah sejati, itu lebih besar mendekati haram”.
Begitu ustadz Manaf mengingatkan pada akhwat yang selalu setia duduk dibalik tabir di mushola At-Tibyan. Sebuah hadits kembali dibaca secara lantang berirama merdu sembari memberi penjelasan terkait identitas muslimah.
Kata-kata ustadz Manaf menjadikan kemuslimahanku tergetar. Terkoyak.
“Benar-benar aku diingatkan untuk kesekian kalinya. Saya harus instrospeksi menjadi perempuan. Saya harus hati-hati menempatkan diri saya di manapun dan kapanpun. Saya tidak ingin dicap sebagai penyebab dosa”.
Pikiran itu selalu menjadi nasihat dalam batinku yang perempuan ini.
Hatiku tergetar saat mendengar kata-kata ustadz. Entah mengapa ? Saya seolah digerakkan setiap minggu untuk selalu menghadiri pengajian ustadz Manaf. Kalau Hamidah ribut malam mingguan, atau jalan pagi ke pasar minggu dengan sang pacar, aku selalu terbayang ustadz Manaf dengan tutur katanya yang menyentuh keperempuananku.
Entah mengapa ? Beberapa minggu ini saya didorong-dorong untuk lebih serius menghadiri pengajian ustadz Manaf di mushola At-Tibyan. Perasaan yang janggal. Harapan yang tidak karuan. Gejolah jiwa yang menggelora. Tidak.
Tapi entah mengapa gerakan dan dorongan itu begitu kuat bercokol ketika hari menjelang weekend.
Minggu itu datang kembali. Saya berjalan kaki dari tempat kos saya di Jl. Surabaya menuju mushola At-Tibyan di kampus Universitas Negeri Malang. Sesampainya di mushola At-Tibyan, sebagaimana biasanya, ustadz Manaf kembali melantunkan bacaan al-Quran sembari membuat tafsir.
Hatiku tidak keruan. Jiwaku tergetar selalu ketika mendengar pengajian ustadz Manaf. Merasa ada yang terpergok. Kecamuk hati selalu berirama bersama dinamika pengajian. Di pojok agak belakang, saya duduk bersandar di tembok mushola sambil mendengar dengan ikhlas suara dan nasihat ustadz Manaf. Saya tidak berani menatap langsung ustadz Manaf karena saya tahu itu dosa dan akan menambah maksiat. Satir warna putih paling tidak juga sedikit bisa menjadi tempat berlindung dan meringankan aku untuk tidak memandang ustadz Manaf. Satir itu juga membuat tengkukku sedikit bebas karena tidak selalu harus menundukkan kepala. Satir telah membantu aku dari tugas saya untuk tidak menundukkan kepala.
Sesekali aku mencoba melihat wajah ustadz Manaf. Tetapi satir itu membuatku sedikit perlu bergeser untuk mampu melihat wajah ustadz.
“Seandainya aku laki-laki, pasti aku bebas menengadah dan berinteraksi langsung dengan ustadz”. Gumamku dalam hati.
Ups. ! Astaghfirullah. Kok aku sampai berpikir demikian. Aku kan perempuan. Itu menambah aku semakin jauh dari surga saja. Saya harus ingat-ingat pesan ustadz Manaf untuk tidak neko-neko menjadi perempuan muslimah.
“Fankuhi ma thobalakum minan nisa’i, mastna, wastulatsa, waruba’a. Di sinilah perempuan akan dihadapkan ujian yang besar. Bagi perempuan, jika sudah bisa melalui ini, jaminan surga amat sangat dekat”.
Ustadz Manaf kembali menegaskan tentang posisi perempuan muslimah dalam rumah tangga.
Ayat ini awalnya aku benci. Tetapi aku harus belajar bahwa itu adalah surga dan bagian dari takdir perempuan dan keputusan tuhan. Tidak mungkin saya melawan wahyu tuhan. Aku harus belajar menjadi perempuan muslimah.
Menjelang usai pengajian, Aku hampir pingsan bukan kepalang.
“Akhwat Nina, saya mohon anda menjadi ketua bagi jamaah akhwat kita di mushola At-Tibyan”.
Harapanku, aku tidak dipanggil ustadz Manaf. Aku berniat hanya mendengarkan lantunan bacaan ustadz Manaf yang mendayu dan nilai-nilai tafsir tentang perempuan muslimah yang ingin kudengarkan. Itu niat awalku.
Aku tengadah, bergerak secara refleks. Aku langsung menatap wajah ustadz Manaf. Lima detik kami bertatap muka. Allahu Akbar. Aku berdosa telah bertatap mata dengan ustadz Manaf. Aku harus menjaga pandangan. Aku seorang muslimah. Allah. Ampuni aku yang tidak menjaga pandangan. Saat aku ingin menjadi muslimah, mengapa Kau menguji aku melalui panggilan ustadz Manaf. Ya Allah, berikan aku petunjuk untuk tidak menjadi sebab atas ustadz Manaf sehingga mengurangi pahala ustadz Manaf itu karena pandanganku. Kegelisahan itu membawa aku hingga sampai di gang kos di Jl. Surabaya. Kegelisahanku juga hampir membuat aku diserempet angkot jalur GL.
Aku ambil al-Quran. Aku mengaji untuk melalaikan rasa bersalahku. Semoga aku konsisten atas niatku untuk menjadi perempuan muslimah. Hari ini aku telah disapa oleh ustadz Manaf.
Usai membaca al-Quran. Dering ponsel saya berbunyi, pertanda ada SMS yang masuk. Amat terkejut. SMS itu bertuliskan demikian,
“Akhwat Nina, saya ingin menjadikan anda zaujah saya. Dala
m waktu tidak lama saya akan meminang anda” (Ust. Manaf).(Bersambung)