Hubungan yang lekat membantu perspective taking

Hubungan yang lekat membantu perspective taking

Belum lama ini saya dimintai pendapat seorang bapak yang sulit mengendalikan perilaku anaknya (15). Dia gemas (gregeten) karena merasa peringatan yang diberikan tidak mampu mengubah perilaku anak yang dirasakan semakin hari tidak baik. Akhirnya rasa marah yang terjadi. Konflik bapak-anak muncul karena hubungan komunikasi keduanya tidak efektif.

Bagaimana menghadapi anak tersebut.

Sebagai orang tua sebaiknya introspeksi dan mulai memahami posisi/peran orang tua di hadapan anak yang sedang dianggap mengalami masalah perilaku. Pada posisi menghadapi anak demikian orang tua hendaknya tidak menggunakan penghakiman, karena cara ini anak akan selalu merasa dipojokkan. Jika demikian anak akan menutup diri dan enggan terbuka.

Cara yang positif untuk orang tua adalah dengan mengembangkan perspective taking dalam mengubah perilaku anak. Apa yang dimaksud perspective taking? Perspective taking adalah pendekatan hubungan interpersonal yang biasa dikembangkan untuk wawasan komunikasi dan meningkatkan efektifitas dalam pencapaian kesepahaman bersama dalam beragam perjumpaan antarorang. Perspective taking juga digunakan sebagai teknik pencapaian solusi atas konflik dengan mengambil sudut pandang orang lain dan pemahaman tersebut dipahami untuk dijadikan pertimbangan mengambil keputusan hubungan yang kooperatif (saling mendukung). Perspective taking juga dijadikan pendekatan resolusi konflik. Dalam konteks ini, individu dituntut memahami keberadaan orang lain dalam membuat keputusan bersama.

Kita juga sering mengenal istilah mengambil hati orang lain. Hal ini dapat dijadikan pemahaman sederhana bahwa perspective taking merupakan teknik mengambil hati ketika melihat anak berbeda dan orang tua mengalami kesulitan dalam mengendalikan perilaku anak.

Orang tua perlu memahami jika dunia anak memiliki perbedaan dalam berlogika, mengolah emosi, menempatkan peran dirinya, dan gaya berkomunikasi dibanding dengan orang tua. Orang tua dituntut untuk tidak bersikukuh dengan menghujamkan kebenaran terhadap anak. Cara ini akan dipandang otoriter. Pada gaya otoriter, kendali perilaku cenderung memfonis. Padahal suara hati anak pun butuh didengar dan diapresiasi agar moody anak terwakili oleh orang tua. Anak pun membutuhkan sosok yang peduli, ada orang yang mau mendengar dan memperoleh umpan balik atas kebutuhan jiwa mereka.

Orang tua yang mampu mengambil hati anak kemauan untuk menurunkan standar kebenaran tidak berpusat pada ego orang tua. Tetapi mengembangkan sudut pandang tujuan perubahan perilaku dari sudut pandang anak. Orang tua dengan begitu akan mengetahui tingkat pemahaman anak, kemauan, dorongan dan kendali perilaku dari anak tersebut. Dari situ orang tua lebih memahami sudut pandang anak dan memahami masalah sebenarnya. Jika orang tua sudah tahu, maka orang tua memahami bagaimana sudut pandang anak bisa dikembangkan.

Orang tua akhirnya dapat mengambil hati anak. Orang tua menjadi komunikatif karena mampu membuka diri untuk mengembangkan hubungan empati. Ketika sudut pandang anak sudah diperoleh, orang tia dapat mengembangkan kompromi anak untuk mencapai tujuan perilaku yang diharapkan. Mengambil hati anak dengan begitu menuntut orang tua mampu membimbing anak terbuka untuk mengetahui bahwa perilakunya itu bermasalah. Jika disepahami oleh anak, orang tua mempunyai peluang mengambil perspektif anak untuk mengembangkan menjadi perilaku bertujuan tersebut.

Perspecitve taking dapat dikondisikan kalau hubungan yang hangat terkondisi dengan baik

Perspecitve taking dapat dikondisikan kalau hubungan yang hangat terkondisi dengan baik

Beberapa teknik mengambil hati anak dapat dilakukan sebagai berikut :

Pertama, memberi peringatan disaat suasana hati tenang. Nasihat di saat marah tidak efektif dan komunikatif. Ada kalanya orang tua bereaksi marah ketika mendapati perilaku anak tidak dikehendaki orang tua. Komunikasi dengan nada penuh kemarahan menciptakan hubungan ketegangan. Hal itu melemahkan feedback anak untuk dapat menerima nasihat penuh kesadaran. Oleh karena itu, orang tua belajar menunda nasihat ketika hubungan orang tua anak penuh ketegangan atau sedang marah. Menasihatilah ketika ketegangan itu sudah hilang di waktu lain.

Kedua, pahamilah profil anak dengan baik di saat mana anak berada dalam kondisi terbuka, dan rileks. Pada kondisi ini hubungan kedua belah pihak mudah mencair. Buatlah suasana ini untuk membangun pengertian pada anak. Orang tua tidak semata-mata menasihati searah akan tetapi memancing sudut pandang anak terhadap perilaku bertujuan. Teknik ini akan melatih anak memiliki sudut pandang otonom tentang perilaku yang dianggap tidak baik bagi dirinya sendiri. Orang tua berposisi sebagai mentor agar logika anak diarahkan untuk tujuan perilaku yang diinginkan. Tanpa cara ini usaha mengajak anak berubah jauh akan sulit karena anak tidak terlatih membangun kesadaran dari dalam dirinya. Oleh karena itu kondisi terbuka dan rileks membantu seseorang lebih bisa menerima keadaan dan mudah menyadari sebuah persoalan. Jika demikian orang tua dapat memulai membangkitkan kesadaran anak.

Ketiga, komunikasi efektif ditandai dengan umpan balik dari pihak lawan bicara. Lawan bicara dalam hal ini adalah anak. Umpan balik yang positif tergantung juga pada orang pertama yang mengajak bicara. Untuk itu ada teknik berbicara agar mendapatkan umpan balik positif, yakni membangkitkan lawan bicara agar memiliki niat berubah. Orang tua sebaiknya mengenali potensi baik anak yang menunjang perilaku bertujuan. Tugas orang tua menggunakan potensi ini untuk menopang perilaku bertujuan sehingga sudut pandang perubahan memang disengaja lahir dari kemauan anak. Agar umpan balik positif, komunikasi dengan mengambil hati anak bersifat membangkitkan kemauan positif anak dan bukan menyerang.

Mengambil hati anak merupakan pendekatan komunikatif. Orang tua sebaiknya membangun komunikasi setara agar anak belajar mengembangkan karakter kooperatif. Pendekatan ini juga akan mengurangi praktik kekerasan dalam mengasuh anak. Saya ucapkan selamat belajar dan semoga orang tua tetap berbesar hati dalam mengasuh anak. Wallahu a’lam bi shawab.