VLUU L110  / Samsung L110Sudah pertemuan yang kali keempat saya memasuki kelas-kelas penelitian kualitatif dan psikologi sosial. Kelas kualitatif diperuntukkan bagi semester VI dan mata kuliah psikologi sosial untuk anak semester IV. Saya selalu gelisah ketika memasuki awal perkuliahan. Kegelisahan saya menyangkut bagaimana desain kuliah saya. Apakah saya tetap menggunakan materi yang sama dan cara yang sama atau bagaimana ? Pikiran ini selalu berkecamuk dan menghantui. Saya harus keluar kebuntuan itu.

Saya akhirnya memilih satu jalan reading class (kelas membaca). Metode ini saya gunakan selama empat kali pertemuan di awal. Teknik metode ini saya jabarkan sebagai berikut dan penjelasan mengapa saya menggunakannya. Reading class adalah metode yang mengutamakan subyek pembelajar mampu membaca materi yang sedang dibahas secara cepat. Materi itu berada dalam sebuah buku yang sudah ditunjuk. Membacanya tidak disarankan diawal agar mahasiswa membaca buku atau bab tertentu yang akan dipelajari. Tidak demikian yang dimaksud reading class. Ia mengajak mahasiswa untuk membaca cepat sebuah bab dalam buku yang sedang dibahas. Syarat metode ini, setiap mahasiswa minimal memiliki satu buku. Sembari membaca, subyek pembelajar diminta menemukan sejumlah kata kunci yang mereka temukan di buku yang dibacanya. Kegiatan ini memunculkan aktifitas agar setiap subyek pembelajar memiliki kata kunci. Kata kunci ini ditulis dalam kertas tersendiri.

Usai membaca dan membuat kata kunci, tugas saya sebagai pengajar berubah dari menyampaikan materi ke memfasilitasi pembelajar untuk membuat visualisasi kata kunci yang sudah mereka kumpulkan. Syahdan, kata kunci tersebut terkumpul sejumlah pembelajar. Jika dilihat dari segi partisipasi, setiap subyek pembelajar memiliki satu akses partisipasi untuk mengumpulkan kata kunci. Akhirnya papan tulis di depan kelas penuh berisi kata kunci yang dikumpulkan dari satu bab buku yang sedang menjadi pokok bahasan pertemuan. Kata kunci tersebut kemudian menjadi simpul pemahaman. Saya sebagai fasilitator kemudian menjelaskan kata kunci-kata kunci yang mereka anggap membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Proses seperti ini menurut saya sungguh bermanfaat bagi mahasiswa itu sendiri. Mereka memiliki peluang berproses membangun pemahaman aktif dan otonom. Saya tidak membayangkan jika saya kemudian menyiapkan sebuah materi, saya kompilasi dalam sebuah slide power-point, lalu saya buka kuliah dan langsung menyajikannya dalam suatu ceramah tunggal. Meskipun materi dalam SAP sudah diberikan dan buku referensinya sudah ditunjukkan, instruksi membacapun juga telah dibuat sejak awal perkuliahan, saya merasa hanya satu atau dua mahasiswa yang betul-betul membaca, itu pun bisa jadi semua tidak membaca.

Pesimisme ini saya timbang dari kecenderungan mahasiswa sekarang lebih enggan membaca dan lebih banyak hanyut dalam hingar bingar teknologi informasi, mulai dari online dan menggunakan waktunya untuk aktifitas sosial media. Waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk bercengkerama dengan teknologi ketimbang buku. Kecenderungan ini membawa implikasi rendahnya minat baca mereka pada buku-buku mata kuliah. Mereka paling hanya akan membaca di saat kondisi memang memaksa, seperti memenuhi tuntutan mengerjakan tugas.

Kalau saya sediakan materi komplit dan presentasi dengan slide yang memikat, mereka hanya mendengar dan mencatat dari saya. Mereka pasif. Mendengar dan mencatat tetapi belum tentu paham. Konsentrasi mereka pun tergantung kebutuhan. Ada yang mencatat, ada yang mengandalkan catatan temannya atau ah, nanti bisa saja surfing mbah google. Umpan baliknya pun rendah terhadap pemahaman sebuah materi yang saya sajikan. Artinya, keseriusan saya menyajikan materi agar mereka memahami kuliah tidak sebanding dengan kepasifan mereka dan siasat jitunya atas cara-cara instan yang sudah menjadi bagian dari cara belajar mereka. Bisa pula terjadi, ah mengopi soft-file power point sudah habis perkara. Dunia instan ini menjadi jalan menumpulkan kreatifitas dalam menguasai materi dan menginternalisasi kedalam memori pembelajar. Pada model belajar seperti ini, pembelajar kurang melatih berpikir analitis. Padahal, mahasiswa sedapat mungkin selalu terlatih untuk berpikir analitis ketimbang pasif memahami sehingga kerdil dalam ketajaman analitis. Kemampuan ini sifatnya menyerap ketimbang mengaplikasikan konsep sebagai alat analisis.

Membangun pemahaman konstruktif
Sebagaimana sudah saya jelaskan di atas, mahasiswa yang mengikuti mata kualitatif diwajibkan memiliki buku yang signifikan membantu pemahaman secara teknis mengenai penelitian kualitatif. Saya memberikan masukan buku yang sangat baik minimal ada dua, yakni Kristi Poerwandari (2005) berujudul Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia, dan buku terjemahan dari Cresswell (2011) Research design, pendekatan kualitatif, kuantitatif dan campuran. Dua buku ini menurut saya sangat praktis membantu pemahaman seorang pembelajar pemula dalam mempelajari metode penelitian kualitatif terutama untuk penelitian-penelitian psikologi karena buku tersebut lebih operasional daripada buku-buku lain.

Hasil workshop kelas tentang norma judul penelitian yang baik

Hasil workshop kelas tentang norma judul penelitian yang baik

Al-kisah, pada pertemuan tanggal 14 Maret 2013, saya sedang mengembangkan diskusi bagaimana membuat judul penelitian kualitatif yang baik. Latihan membuat judul adalah ketrampilan awal sebagai calon peneliti kualitatif bagi mahasiswa, apalagi mahasiswa yang sudah beranjak semester 6. Mengapa latihan membuat judul sangat penting ? Mahasiswa telah terbiasa berpikir positifistik karena sebelum memilih mata kuliah kualitatif, mereka telah terindoktrinasi logika berpikirnya secara instrumentalistik, yakni menganut cara berpikir klasik kausalistik (sebab-akibat). Fundasi positifistik dan gaya analisis statistik nampaknya mengunkung pemikiran mereka. Pengalaman ini melahirkan bentuk-bentuk berpikir linier positifistik sehingga masih banyak mahasiswa yang membuat judul dengan menggunakan kata-kata dampak, pengaruh dan perbedaan. Oleh karena itu latihan membuat judul bak membongkar doktrin positifistik.

Saya pun mengelola kelas menjadi kegiatan workshop kelas. Mahasiswa dibagi dalam enam kelompok yang terdiri dari 6 personil. Mahasiswa diberi kesempatan membaca di kelas. Mereka berdiskusi untuk mengumpulkan kata kunci per-kelompok mengenai kriteria topik dan judul penelitian yang baik. Saya sebagai fasilitator kemudian memandu workshop. Setiap kelompok menyumbangkan sejumlah kata kunci. Kata kunci tersebut tidak boleh sama. Saya kemudian menuliskan satu persatu kata kunci mengenai bagaimana memilih topik dan membuat judul penelitian kualitatif yang baik. Hasil akhirnya kelas ini berhasil mengidentifikasi 14 kata kunci bagaimana sebuah topik dan judul penelitian dipilih. Mereka memiliki kemampuan mengonstruksi simpul pemahaman yang sangat partisipatif. Melalui 14 kata kunci ini, mereka aktif menemukan tema pembelajaran. Saya tidak bisa membayangkan jika yang menemukan tema itu saya dan saya sajikan begitu saja menjadi materi kuliah dan saya ceramahkan. Jelas artinya menjadi berbeda kalau tema kuliah itu dikonstruksi oleh mahasiswa.

Kata kunci yang sudah didapat kemudian dijadikan pijakan untuk mereview judul penelitian yang sudah dibuat oleh setiap kelompok. Sebelumnya, memang masing-masing kelompok sudah ditugaskan membuat judul penelitian kualitatif. Setelah mereka mendapatkan judul dari kelompok lain, masing-masing kelompok mereview dengan menggunakan standar 14 kata kunci sebagai norma review. Setiap kelompok mendiskusikan kekurangan tentang judul mereka. Pereview mencatat kekurangan dari judul yang ada berdasarkan 14 kriteria judul yang baik. Setelah memperoleh review, baru kelompok ini diminta membubuhkan skor kelayakan judul pada rentang 50 — 100. Selain membubuhkan skor, kelompok juga perlu menyertakan alasan pemberian skor tersebut dengan catatan naratif berdasarkan hasil diskusi agar skor yang dipilih memiliki argumentasi rasional, dan tidak subyektif. Al-hasil, rata-rata skor hasilnya antara 70-80an. Ini membuktikan bahwa kualitas judul mereka masih dalam taraf sedang dan baik.

Debat review untuk membobot judul penelitian yang baik

Debat review untuk membobot judul penelitian yang baik

Proses review dalam diskusi kelompok sudah dilalui. Langkah selanjutnya bahan review tersebut digunakan sebagai materi debat antar-kelompok. Hasil review tersebut dibacakan terbuka sebagai bukti pertanggungjawaban atas hasil penyekorannya sekaligus sebagai umpan balik kualitas redaksi judul penelitian dari kelompok yang direview. Debat interaktif pun berjalan dinamis karena penilaian hasil review dapat direspon dan dijelaskan kembali oleh si kelompok pemilik judul. Kelompok yang lain juga turut menanyakan, mengkritik, dan terkadang menjadi mediator diskusi ketika deadlock atau dirasa membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Begitulah seterusnya bergiliran masing-masing kelompok memiliki kesempatan saling membangun umpan balik atas bobot judul penelitiannya. Mereka saling tahu kualitas judul yang mereka ajukan berdasarkan 14 kriteria judul penelitian tersebut yang mereka tentukan sendiri dari hasil membacanya di kelas langsung.

Membagi peran guru ke subyek pembelajar (mahasiswa)
Mereka bergesekan dengan buku, merekonstruksi pemahaman, dan mengimplementasikan kedalam praktik langsung. Bahkan mereka mampu membuat penilaian partisipatif dan independen sehingga bobot dan kualitas belajar mereka dapat mereka ketahui sendiri. Di sini membuktikan bahwa metode membaca di kelas dan workshop penilaian judul penelitian kualitatif telah mampu membangkitkan belajar konstruktif-kritis jauh melampaui cara belajar memberi ceramah. Saya tidak bisa membayangkan kalau materi yang dipelajari dibangun dari hasil ceramah saya.

Saya kemudian merenung. Apa yang saya lakukan ketika menyiapkan materi jelang kuliah saya transformasi agar itu dapat dilakukan oleh mahasiswa, maka proses itu justru sangat menguntungkan mahasiswa. Ternyata hal itu bisa dilakukan, tetapi ketika pengalaman ini hanya didominasi oleh guru, maka pengalaman ini hanya menjadi pengalaman guru bukan sebagai sebuah pengalaman mempelajari, mendalami dan mengembangkan sebuah pemahaman baru bagi sebuah materi kuliah.

Saya berpikir inilah saatnya pengalaman guru juga dibagi dengan murid. Saya berusaha kemudian membangun pengalaman bersama dalam belajar. Saya tidaklah menjadi subyek egois. Guru menyiapkan kuliah, murid menerima materi yang disiapkan guru. Tidak. Penyiapan materi nyatanya dapat dilakukan bersama antara guru dan murid menjadi pengalaman bersama. Tugas saya kemudian juga setara turut serta mereview bersama mahasiswa dari hasil-hasil kerja mereka. Mahasiswa seolah mendapatkan pengalaman baru yang selama ini “mungkin” telah terdistorsi oleh kuasa dosen bahwa dosenlah satu-satunya sosok yang lebih menguasai materi karena dosen/guru sudah lebih dulu mempunyai kesempatan menyiapkan materi dengan berbagai perangkat buku, alat pembelajaran seperti SAP dan sebagainya. Sementara murid/mahasiswa menanti, manut opo sing diwehne dosene.

Di tengah sumber belajar yang melimpah, apalagi didukung oleh teknologi informasi multimedia yang begitu moderns, nampaknya kuasa dosen tidak harus berdiri kokoh sebagai penguasa tunggal kelas. Pengalaman-pengalaman menyiapkan materi kuliah bagi saya sudah saatnya dibagi menjadi pengalaman menyiapkan materi kelas yang dibangun bersama dengan mahasiswa. Tidak hanya semata kontrak belajar yang dibutuhkan, tetapi merencanakan belajar sebagai sebuah pengalaman bersama. Pendekatan ini membutuhkan sikap egaliter, kemauan berbagi dengan mahasiswa, punya sikap dan pemikiran terbuka dan yang paling penting dosen harus mampu menjadi katalisator, pandai mengolah forum, dan memiliki kemampuan menjawab atau memberikan umpan balik dinamis saat di forum.

Dilihat dari segi hasil pun mereka (mahasiswa) sebenarnya juga mampu membangun penilaian obyektif dan independen serta demokratis yang mendidik atau melatih mahasiswa terbuka terhadap nilai. Selain itu ketika penilaian hasil karya dibuka bersama, mereka jauh menjadi lebih belajar obyektif dalam menilai sesuai karya. Saya ibaratkan mahasiswa sebagai pembuat karya dan sekaligus audiens atas karya mereka. Mereka menilai berdasarkan cara penilaian sebagai audiens. Selain sebagai pemilik karya, mahasiswa diajari sebagai audiens aktif yang berlatih kritis.

Pada akhirnya kelas ini telah mengondisikan mahasiswa sebagai produsen karya dan sekaligus sebagai audiens karya yang kritis, yakni mereka memiliki peluang baru untuk mengkritisi produk-produk karya dari hasil-hasil teman-teman mereka sendiri. Bahkan mereka mampu membuat instrumen sederhana untuk menilai kelayakan sebuah karya, meski pada pengalaman awal hanya menilai kelayakan sebuah judul penelitian kualitatif.

Bagaimana dengan anda, yang juga seorang guru/dosen dan juga sebagai mahasiswa ?