MENJADI ORANG TUA DI ZAMAN YANG TERUS BERUBAH, jika dihayati ulang akan semakin sulit. Dulu, boleh jadi mempunyai banyak anak, tidak serepot hari ini. Namun seiring pengetahuan tentang tata-cara mengasuh anak (parenting), mempunyai anak juga harus ditopang oleh ketrampilan mengasuh anak dengan beragam tantangan yang tidak hanya mempersoalkan bisanya orang tua memberi makan dan membiarkan tumbuh sebagaimana adanya. Sampainya di zaman percepatan perkembangan teknologi dan proses perubahan sosial yang kompleks hari ini, menjadi orang tua tidak cukup hanya menjadikannya anak bisa tumbuh besar dan cukup sandang pangan serta bisa sekolah, lantas mencari kerja. Ataupun, sudah cukup tugas orang tua mendidik karena anak-anaknya sudah bisa masuk sekolah favorit dan mahal. Urusan anak selesai.

Ki Hajar Dewantara menegaskan, ada pada orang tualah sebenarnya kualitas tumbuh kembang anak dan pokoknya pendidikan anak terletak di pangkuan bapak-ibu. Penghambaan orang tua pada anak adalah bukti cinta kasih sehingga perjuangan mendidik menjadi bagian dari transformasi cinta kasih orang tua pada anak secara tulus dan ikhlas. Nada yang sama juga ditegaskan Kak Seto Mulyadi, guru sejati itu bukan dipundak sosok guru di sekolah, tetapi guru sejati ya ada di pundak orang tua. Islam pun, sebagaimana ditegaskan Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, di pundak orang tualah masa depan perkembangan anak, entah keimanannya atau pembelajaran hidup yang sehat akan ditentukan.

Tidak dipungkiri, peran orang adalah pusat perkembangan anak. Orang tua adalah pengasuh, guru, dan pendamping tumbuh-kembang anak. Di saat tuntutan profesionalisme semakin meluas dan berkembang, tantangan membagi waktu diantara pekerjaan, dan jarak kerja yang tidak sedekat pekerjaan orang-orang dulu, atau fleksibilitas waktu yang sekarang terikat oleh jam kerja, sementara dulu pada masyarakat agraris, jarak dan waktu bisa dikelola secara fleksibel, semua perubahan itu telah mengubah relasi orang tua anak dan “mungkin” tidak terasa telah menggeser peran-peran pengganti dalam proses mengasuh dan termasuk mendidik anak. Padahal peran itu tidak bisa tergantikan, apapun kesibukan dan jenis pekerjaan orang tua.

Marilah, baik orang tua yang sibuk atau orang tua dengan waktu longgar, sama-sama mencoba menjadi orang tua yang lebih baik dan selalu mengasah ketrampilan untuk berdedikasi dengan kasih-sayang tulus-ikhlas, dalam meningkatkan kualitas perkembangan anak. Sebagaimana di awal, perkembangan anak hari ini dihadapkan pada perubahan sosial yang membutuhkan ketrampilan hidup baru agar anak mampu mengatur cara hidupnya yang berada dalam pusaran arus “kemajuan” sehingga menjadi anak yang tetap berkarakter meskipun zaman terus berubah. Ini tidak bisa dihindari karena letak pendidikan anak yang paling utama ya dimulai dari keluarga.

Ada beberapa hal yang perlu disadari bersama seperi apa peran terkini orang tua agar lebih mampu menyesuaikan diri menjadi orang tua dengan kekuatan pengasuhan dan pendidikan yang berkarakter.

Biarlah Anak Tumbuh Dengan Keistimewaannya

BIARLAH bukan berarti diam tidak melakukan apa-apa. Setiap anak lahir memiliki kekhasannya masing-masing, maka cara pengasuhannya juga membutuhkan pendekatan stimulasi yang berbeda pula. Orang tua perlu menyadari, perbedaan setiap anak adalah bagian dari keistimewaan. Anak berkembangkan sesuai dengan potensinya. Tugas orang tua membantu menjembatani potensi itu berkembang semakin baik, bukan memaksakan keinginan orang tua pada anak. Potensi itu bisa bakat atau kecerdasan apa yang dominan, dan menyeimbangkan perkembangan anak yang belum optimal untuk dirangsang agar menyeluruh. Oleh karena itu peran orang tua yang paling penting adalah mengenali potensi terkembang pada anak sejak dini.

Jika orang tua merasa anak berkembang tidak sebagaimana yang diharapkan, misalnya secara akademik kurang optimal, orang tua harus berbesar hati, untuk tetap menghargai anak. Boleh jadi, anak mempunyai masanya sendiri mana yang lebih dulu berkembang maksimal dan yang lainnya melamban. Dengan mengenali aspek potensial anak, orang tua pada suatu masa perkembangan tertentu bisa menjadi fasilitator yang baik, pendamping atau pengarah anaknya. Namun, saat anak tidak dikenali potensi yang saat itu berkembang, karena orang tua maunya hanya di aspek potensi tertentu saja (misal : akademiknya), orang tua akan kehilangan kesempatan untuk memberikan dasar-dasar perkembangan emas yang nanti akan membetuk ketrampilan hidup anak di kemudian hari.

Bagi orang tua menjaga atau memfasilitasi proses pertumbuhan itu jauh lebih penting daripada menarget seketika pada anak. Bagi saya hasil adalah proses memahami dan alat evaluasi untuk melihat sudutpandang anak dalam belajar menguasai atau tahapan mewujudkan kemampuan dirinya.

Kemampuan Berpikir Positif Terhadap Anak

PERAN orang tua dalam hal ini menghargai sudut pandang anak. Jika antara anak dan orang tua berbeda cara pandang, orang tua tetap berada dalam pikiran yang positif. Kemampuan berpikir positif akan mendorong orang tua melihat anak lebih genuin (asli) sehingga mampu menempatkan anak dalam ukuran kemanusiaannya. Kemampuan berpikir positif mendorong orang tua untuk selalu belajar terus menerus tiada henti dalam mengasuh anak. Pemikiran positif akan mengatasi kesenjangan antara apa yang dipikirkan orang tua dengan kenyataan dorongan kemauan anak. Hal ini sudah sebuah obat sendiri. kadangkala, orang tua bisa mendapatkan kebahagiaan saat anak berkembang sesuai dengan keinginannya, namun ada kalanya merasa terpukul ketika anak tidak lagi seperti yang diharapkan.

Sudut pandang positif terhadap anak mendorong orang tua selalu mencari cara terbaik untuk menjamin anak bisa bertumbuh dengan baik. Jika ada yang tidak cocok, orang tua selalu bisa mencari jalan terbaik sehingga metode mengasuhnya selalui menonjol dengan kreatif. Dan masa ini boleh jadi akan selalu bergeser dalam setiap tahun mengikuti usia perkembangan anak. Orang tua kreatif akan memiliki banyak strategi dalam mengasuh anak dan mereka lebih berpeluang selalu mengembangkan metode baru ketimbang selalu menerapkan pendisiplinan dan hubungan hanya karena orang tua tidak memiliki kemampuan kreatif mengantarkan anak berkembang sesuai potensi anak.

Saya ambil contoh, saat anak saya masih SD, dia memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan menulisnya, tetapi saat dia memasuki Madratsah Tsanawiyah, kemampuan menulisnya surut karena waktu sekolahnya saya lihat melelahkan sehingga energi menulisnya surut. Saya pun tetap berusaha agar dia tetap mau menulis. Usaha itu sepertinya sia-sia. Namun, saya melihat hari ini dia lebih suka menyanyi, mencari not angka dari lagu yang disukai, dan memainkannya dengan pianika. Sebagai pengajar yang suka menulis, saya merasa gelisah dan eman mengapa anak saya kok tidak rajin menulis seperti dulu.

Saya pun mencoba memahami sudut pandang anak. Saya kemudian mencoba menghargai kesenangannya menyanyi dan memainkan pianika. Saya dorong saja agar dia mencari not-not angka melalui google untuk melatih ketrampilannya memainkan pianika. Saya kemudian tetap berpikir positif untuk menerima tidak terfokus pada menulis tetapi lebih mengambil kegemarannya yang terkini menyanyi dan memainkan pianika. Saya kemudian menguatkannya. Inilah yang saya sebut sebagai pilihan kreatif. Bahwa harapan orang tua kadang tidak sejalan dengan moody (semangat) anak dan orang tualah yang harus bergeser atau mengubah cara pandang terhadap anak.

Ketrampilan Berkomunikasi

SEMAKIN orang tua berjarak dengan anak, semakin jaranglah berkomunikasi. Intensitas komunikasi kemudian akan menentukan kualitas pengasuhan pada anak-anak kita. Begitu juga ketrampilan komunikasi yang tidak optimal akan pula menghambat cara memaksimalkan kualitas pengasuhan. Anak berkembang semakin baik adalah hasil dari kualitas komunikasi yang intensif, berkualitas dan saling mendekatkan.

Hubungan komunikatif akan meningkatkan kepercayaan anak pada orang tua. Anak merasa nyaman (aman) berbicara secara terbuka pada orang tua. Kualitas komunikasi yang baik akan meningkatkan perasaan saling jujur. Kejujuran ini penting agar anak memiliki saluran komunikasi yang tepat sehingga curahan hati anak bisa ditampung oleh orang tuanya sendiri. Pilihan ini jauh lebih memberikan keamanan daripada anak kemudian mulai meninggalkan orang tua disaat situasi-situasi galau dan mempercayai orang lain sebagai bagian dari solusi. Bagi orang tua, komunikasi yang baik bermanfaat untuk memberikan keluwesan nasihat karena hubungan yang mencair dan terbuka sehingga bisa saling menerima tanpa menimbulkan hubungan yang menegangkan.

Kemampuan Mengelola Emosi

ORANG TUA sebaiknya mengenali dinamika hubungan emosional. Saya miris mengamati perkembangan terakhir ini, beberapa kasus menculnya kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua sendiri. Pengelolaan emosi yang baik akan meningkatkan kesehatan mental pengasuhan. Bagaimanapun emosi pengasuhan akan selalu pasang surut ketika berhubungan dengan anak. Biasanya, saat anak bertindak tidak sesuai dengan apa yang diinginkan orang tua, hal itu menstimulasi munculnya emosi marah. Saat peristiwa itu mengguncang emosi kita dengan kuat, boleh jadi kita sering juga kehilangan kendali. Saat itu kematangan pengelolaan emosi kita akan menentukan kualitas keramahan orang tua. Bagi orang tua yang tidak bisa mengelola emosi, akan sering muncul bentuk-bentuk pendisiplinan, reaksi spontan dalam bentuk marah melalui praktik menghukum atau perilaku lain yang merangsang model kekerasan dalam berbagai bentuk. Jika orang tua tidak mampu melakukan kendali emosi maka hubungan pengasuhan akan sering didominasi oleh ketidakramahan. Hubungan emosional yang negatif akan banyak menimbulkan efek psikologis kebencian, rasa bersalah dan dendam yang menciptakan jejak traumatik di kemudian hari. Oleh karena itu, kematangan emosi pengasuhan akan mendorong kualitas hubungan sosial-emosional orang tua-anak menjadi lebih pro-aktif dan menghindari bentuk-bentuk pengasuhan dengan cara kekerasan.

Demikianlah, aneka teknik di atas bisa menjadi pijakan sederhana bahwa mengasuh anak merupakan ajang orang tua untuk selalu belajar. Mengapa demikian. Zaman ini terus bergerak. Otomatis anak akan memiliki zamannya sendiri. Dengan begitu teknik pengasuhan pun membutuhkan pemutakhiran agar selalu bisa menyesuaikan terhadap kesiapan anak memasuki zamannya sendiri. Kita harus sadar, peranan orang tua selalu ditempatkan pada perubahan-perubahan ketrampilan yang terus menerus untuk mengantarkan anak menjadi sosok yang akhirnya berkembang menjadi pribadi yang matang di zamannya.

Tulisan ini dibuat untuk acara “Kelas parenting dan pelatihan memaksimalkan usia emas dan keberagaman anak usia dini,” di PGIT TKIT Al-Hikmah Bence, Garum, Blitar, pada Sabtu, 7-8 Maret 2015