Menemui orang tua dan guru pra-sekolah pada kelas pengasuhan anak (parenting class) selalu menjadi pengalaman mengasyikkan. Aktifitas ini menjadi ruang belajar saya untuk kulakan keragaman kasus mengenai realitas pengasuhan anak pada budaya yang berbeda-beda. Meski saya bukan ahli parenting, setidaknya dengan pendekatan berbagi pengalaman–karena saya pun seorang ayah dari dua anak, perempuan dan laki-laki, cukup memberikan apresiasi bagi audiens melalui perjumpaan parenting class. Media parenting class ini bisa menjadi kesempatan langka seiring kondisi anak yang makin dikungkung oleh “hegemoni sekolah” dan meminggirkan cara berkembang anak dengan segala keistimewaannya.

Selain itu, pembelajaran ketrampilan pengasuhan sangat dibutuhkan karena semakin banyak kasus keluarga dengan indikasi anak korban kekerasan dan anak-anak yang lari dari rumah oleh karena rumah tidak lagi menjadi zona nyaman berkembang. Atau, ada anak yang dibawah tekanan hanya karena mereka gagal menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah, orang tua dan akhirnya anak mencari pengakuan diri di luar rumah melalui perilaku yang kontraproduktif.

Saya (Mohammad Mahpur/Pakar Psikologi Parenting dan Pengembangan Komunitas) bersama Elok Halimatus Sakdiyah (Psikolog Parenting), Yulia Sholichatun (Psikolog Klinis), dan Rika Fuaturrosida (Psikologi Perkembangan dan ABK), hadir di parenting class di Kelompok Bermain Islam Terpadu dan Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Al-Hikmah, Bence, Garum Kabupaten Blitar, pada Sabtu, 7 Maret 2015. Parenting class, ini menyajikan tiga sudut pandang, perkembangan anak, kasus tumbuh kembang, peran orang tua dan ketrampilan menangani anak dengan perilaku khusus. Sudut pandang ini dipakai untuk memaksimalkan ketrampilan anak agar dapat tumbuh-kembang secara maksimal yang didasari oleh potensi anak-anak. Acara ini pun sebagai cara memaksimalkan usia emas (golden age) anak. Acara seperti ini penting karena jika anak sudah masuk sekolah, di sinilah orang tua merasa bahagia, anaknya sudah sekolah, dan mulai saat ini pula lah, anak akan digeneralisasi perkembangannya hanya ukuran nilai pelajaran di sekolah. Meski itu usia pra-sekolah. Orang tua saatnya melihat, anak harus terlihat sudah bisa membaca, menghitung, bahkan meminta PR agar anaknya di rumah juga belajar, tidak bermain saja.

Catatan ini disarikan dari hasil tanya jawab yang masuk sebagai bahan diskusi pada acara tersebut.

Meminta Maaf; Bias Pengalaman Traumatik dan Efek Kekerasan

Seorang ibu mengatakan kegelisahannya karena anaknya sering mengatakan, “jika dia selalu ingat dan merasa pukulan ibunya masih membekas hingga hari ini.” Fenomena kekerasan membawa efek jangka panjang. Kejadian ini disebut sebagai efek trauma kekerasan. Kebutuhan pentingnya mengendalikan emosi juga disadari oleh ibu lain. Seorang ibu lain bercerita masih sulit menahan marah ketika anaknya mengganggu memasak, atau ketika istirahat sementara anak-anak bergurau demikian rupa. Emosi akan membuncah dan marah dilampiaskan dengan banyak cara. Apalagi ketika tuntutan terhadap anak dalam situasi menekan dan melahirkan perlawanan anak maka ia akan merangsang ketegangan emosional orang tua-anak.

Elok HS berkisah pengalaman mengasuh tiga anaknya untuk menjawab ragam pengalaman mengelola emosi marah. Dia mengatakan sebagaimana ajaran Rasul, ada baiknya dalam mengendalikan marah dengan mengambil wudhu, atau dari berdiri ke duduk. Dialog mengenali emosi marah pada anak perlu juga dilatih, misalnya, dengan membikin aturan bersama anak dengan cara menulis perilaku yang dilarang atau dianjurkan sehingga ketika perilaku itu muncul menyebabkan diantara anggota keluarga menjadi marah.

Saya pun menambahi perspektif teknis mengelola marah agar perilaku kekerasan dapat dikendalikan dari hari ke hari. Saya sendiri menawarkan ke orang tua untuk mengenali kapan “prime times” marah kita ketika bersama anak. Jika kita bisa mengenali waktu marah, ini menjadi kesadaran awal untuk hati-hati pada waktu atau peristiwa itu muncul. Kenali, hayati, mengapa waktu-waktu istimewa tersebut kita selalu marah. Pengenalan ini membantu instrospeksi dan melatih menyiapkan diri mengendalikan emosi. Kendali emosi adalah satu jalan guna menekan timbulnya resiko kekerasan terhadap anak.

Tips ini juga saya terapkan. Saya bukan orang tua sempurna. Seringkali saya pun memarahi anak dengan nada agak kasar. Bagi saya, mengenali marah dan mengendalikan emosi sebuah pelajaran sulit menjadi orang tua karena boleh jadi saya sendiri masih tahap menjadi orang tua penyabar. Seorang dianggap penyabar jika kita sudah tidak melihat perilaku anak yang tak sesuai bukan dengan marah, tetapi dengan reaksi seimbang dan mempunyai kendali emosi ketika itu. Selain mengenali kapan waktu istimewa kita menjadi marah pada anak, langkah selanjutnya dengan mengenali emosi itu dan punya kemauan mengelola emosi marah ke cara membentuk komunikasi yang baik pada anak. Kalau tidak demikian, ada juga cara dengan mengubah sebab marah dengan cara positif. Ini cara preventif atau kuratif mengelola emosi. Saya pun menambahkan, jika meninggi emosi marah ketika, maka saya lebih baik menjauh dari anak dan mengajukan pendekatan melalui saluran ibu untuk mengingatkan/menegur/menasihati anak. Ternyata cara ini mampu mengurangi intensitas marah dan menumbuhkan cara komunikasi ramah pada anak. Pelajaran ini perlu dilatihkan pada setiap orang tua. Munculnya kasus kekerasan terhadap anak disebabkan karena ketrampilan komunikasi yang menumbuhkan kemahiran mengelola emosi sangat penting dalam pengasuhan anak. Resiko kekerasan pada anak mencerminkan buruknya relasi komunikatif orang-tua anak. Di sini latihan mengelola emosi dapat dijadikan langkah preventif resiko kekerasan terhadap anak.

Kalau sudah terlanjur dan melukai anak, rasa benci anak yang membekas menyisakan persoalan baru. Realitas ini akan menimbulkan penolakan atau dendam pada anak. Kondisi ini dikeluhkan oleh seorang ibu. Bagaimana menghilangkan efek tersebut. Elok HS menawarkan solusi agar orang tua pun latihan meminta maaf. Relakan hati meminta maaf pada anak, karena kesalahan orang tua dalam mengasuhpun tidak bisa dianggap remeh. Pengalaman meminta maaf ini menjadi kesadaran baru untuk role-model memperbaiki kesalahan dan berpeluang sebagai salah satu resolusi orang tua anak. Cara ini juga dilakukan Elok HS pada anak-anaknya. Dia memeluk anaknya dan memintta maaf terhadap kesalahan yang dilakukan meski cara ini dielak oleh anaknya, tetapi dia tetap saja melakukannya. Latihan meminta maaf ini juga saya lakukan, meski rasanya canggung karena biasanya sikap dan meminta maaf dilakukan oleh anak sebagai ciri bakti (birr al-walidain).

Padahal sebagaimana dikisahkan oleh seorang peserta, jejak-jejak kesalahan orang tua dalam mengasuh anak boleh dibilang cukup banyak, bahkan ada yang menimbulkan luka pada anak. Untuk mengajak anak berbuat baik, dia perlu role-model terdekat. Meminta maaf adalah teknik uswah dalam resolusi penyembuhan trauma. Melalui cara meminta maaf, anak ditunjukkan perilaku terpuji orang tua yang mengakui kesalahan. Anak merasa dihargai dan meningkat pikiran positif anak karena orang tua tidak selamanya benar. Melalui penghayatan ini diharapakan anak pun mau memaafkan dan menyadari ruang hati terbuka orang tua dan anak akan menopang saling memahami dan menghapus jejak rasa benci yang mampu mengusir dendam anak. Meminta maaf bukan persoalan gengsi karena merekonstruksi paternalisme pengasuhan, tetapi resolusi untuk saling memahami guna menghapus kebencian dan meningkatkan kualitas kedekatan (bersambung. Ditulis oleh Mohammad Mahpur].