Anak kecil membutuhkan perkembangan sosial yang baik. Salah satunya adalah menjalin hubungan dengan sebayanya. Hubungan itu dimaknai sebagai proses sosialisasi dalam rangka menumbuhkan kematangan sosial anak. Hubungan sosial dapat bervariasi, baik dalam bentuk hubungan bermain, berteman, hubungan antar-tetangga, atau saudara dalam keluarga.

Bagi anak-anak, sosialisasi yang sehat tumbuh dari hubungan interpersonal yang seimbang dan setara. Namun demikian tidak selamanya hubungan antardua anak atau lebih berjalan normal. Peristiwa-peristiwa kecil dapat muncul menyulut pertengakaran. Suatu contoh berebut permainan, grouping (saling melokalisasi dalam suatu kelompok), mencoba mengambil peran-peran sosial yang akhirnya menyebabkan sikap protagonis dan antagonis dalam hubungan pertemanan. Pertengkaran terjadi juga karena munculnya bullying akibat konflik antar-anak dalam hubungan sebaya seperti mengejek, mengolok-olok, sampai melakukan tindak kekerasan dalam berbagai bentuk.

Pertengkaran dapat terjadi karena reaksi emosional sebagai konsekuensi munculnya perbedaan di antara mereka (anak-anak). Pertengkaran terjadi sebagai reaksi gagalnya menjalin hubungan kooperatif dan ketrampilan berbagi anak-anak. Dalam hal ini dapat dicontohkan anak-anak seringkali berebut mainan, berebut peran, identifikasi peran dalam bentuk grouping (bolo-boloan). Untuk kasus ini pertengkaran lebih disebabkan oleh ketidaksetabilan peran yang menyebabkan kerentanan sikap dan emosi anak-anak dalam melatih diri bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Pada kasus ini orang tua perlu terlibat aktif dalam mengelola pertengkaran antar-anak karena mereka membutuhkan pendampingan di saat hubungan anak mengalami ketegangan. Orang tua dituntut terampil dalam mendampingi, memberi penjelasan, melerai dan memastikan ketegangan emosi akibat perbedaan anak dalam bersosialisasi sehingga pertengkaran dapat dikelola sebagai proses belajar mengelola konflik sejak dini.

Sikap ini akan mendidik dan mengenalkan anak untuk semakin matang mengenali dan mengelola perbedaan. Di sini dibutuhkan sikap bijak orang dewasa untuk mampu mendudukkan pertengakaran sebagai bagian dari proses mematangkan jiwa sosial anak. Orang dewasa (orang tua) ketika melihat pertengakaran juga perlu belajar bersikap dengan bijak, adil dan mampu membimbing anak-anak kedalam bentuk-bentuk penjelasan edukatif dan mencerahkan. Sikap yang tepat orang dewasa dalam menghadapi pertengkaran anak akan menjadi petunjuk atau model bagi anak bagaimana mereka diberi contoh untuk mengelola perbedaan dalam bersosialisasi. Bagi orang dewasa, setidaknya mereka perlu melatih mengelola konflik agar pertengkaran anak dapat disikapi secara bersama-sama dengan anak melalui pendekatan mendamaikan dan pantang kekerasan.

Perilaku lain yang patut diwaspadahi menyangkut pertengakaran anak adalah praktik bullying. Yakni praktik kekerasan hubungan sebaya dalam berbagai bentuk seperti munculnya ejekan, pelebelan negatif, intimidasi kolektif terhadap anak-anak inferior, sampai penyerangan dan berbagai bentuk kekerasan dalam hubungan sebaya.

Jika pertengkaran anak merupakan bagian dari praktik bullying, maka orang dewasa, seperti orang tua atau guru di sekolah dituntut untuk responsif (peka) karena perilaku ini bersifat laten dan tidak semata karena instabilitas emosi anak yang temporer. Perilaku bullying pada anak yang menyulut pertengkaran merupakan manifestasi kekerasan atau agresifitas yang bersifat destruktif. Sikap orang dewasa pada kasus ini tidak semata sebagai mediator atau jalan tengah tetapi perlu mendampingi anak untuk melatih menyembuhkan kecenderungan perilaku bullying dengan membiasakan perilaku pertemanan secara kooperatif, rekreatif, dan menyenangkan.

Sebagai catatan akhir, sikap orang dewasa menghadapi pertengkaran anak antara lain ;

  1. Orang dewasa tidak boleh larut pada emosi anak yang sedang bertengkar. Sikap ini membiasakan orang dewasa lebih berpikir jernih dan mendekati anak dengan bijaksana dan seimbang. Tidak berat sebelah. Dekati anak-anak yang sedang bertengkar dengan sentuhan kelembutan, kasih sayang dan mengelola komunikasi verbal secara persuasif. Sikap demikian akan menjadi penyejuk emosi anak ketika menghadapi ketegangan hubungan sosial anak.
  2. Hindari memihak pada salah satu anak tetapi gunakan pengelolaan konflik dengan suasana hati empati. Anak membutuhkan model kelekatan untuk memediasi pertengkaran. Sikap ini akan memberikan contoh bahwa ketegangan tidak perlu diselesaikan dengan kekerasan.
  3. Pertengkaran dapat terjadi karena hubungan yang jenuh karena terlalu lama dalam berinteraksi. Untuk itu orang dewasa perlu merefresh hubungan tersebut dengan memodifikasi hubungan atau menyarankan untuk istirahat guna menormalkan emosi anak.
  4. Orang tua perlu mewaspadai bahwa pertengkaran anak yang tidak dapat dikelola dengan baik akan melahirkan perilaku bullying. Jika tidak diindahkan anak akan belajar menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan perselisihan. Oleh karena itu orang dewasa perlu peka dan terampil dalam mengelola pertengkaran anak agar anak diberi contoh pengambilan keputusan dalam situasi ketegangan secara bijaksana dan mendamaikan emosi anak. Jika anak didampingi dengan benar, mereka juga dilatih untuk memecahkan masalah mereka dengan teman-temannya secara positif.
  5. Mengajari meminta maaf. Jika karena satu sisi dari anak mengalami kesalahan sehingga muncul pertengkaran, alangkah baiknya orang tua mengajari anak-anak untuk selalu meminta maaf. Kesediaan meminta maaf membelajari kebesaran hati anak untuk jujur, rendah hati dan selalu diajari berpikir positif dalam menghadapi perbedaan.

Pertengkaran yang terjadi pada anak kecil memang seringkali terjadi sebagai bagian dari dinamika proses sosialisasi anak. Pertengkaran anak kecil tidak perlu direaksi dengan emosional dan menyalahkan satu dari dua anak yang bertengkar. Mereka membutuhkan keteladanan dalam menyelesaikan konflik dalam hubungan sosial. Ketika mereka diajari dengan cara-cara damai maka mereka akan belajar menyikapi ketegangan dengan sikap damai dan terbuka, tetapi jika mereka diajari menyelesaikan dengan cara reaksioner dan penuh caci maka, mereka akan menjadi anak yang tidak peduli dengan pasangan bergaulnya. Oleh karena itu, peran orang dewasa dalam hal ini adalah mengawasi dan mampu mengelola hubungan sebaya anak secara kooperatif, komunikatif, setara, empati dan penuh kelekatan karena penalaran moral anak masih tergantung pada bagaimana lingkungan memberikan keteladanan daripada sikap rasional dalam menyikapi ketegangan hubungan sebayanya.