Tumpah ruah masyarakat saat lebaran seperti karnaval tanpa panduan dan seragam. Ritual hilir mudik, berjubel dalam kendaraan, bertumpuk barang dan orang adalah warna warni lalu lintas di jalanan besar jalur panjang. Bagi yang berduit, mudah saja booking online transportasi dengan beberapa keistimewaan. Bagi yang ekonomi pas-pasan mereka berusaha menyiasati alat transportasi dengan berbagai cara. Jutaan orang terdorong menuju kampung halaman. Di jalan-jalan antar kota antar propinsi terjadi titik kemacetan. Moment lebaran menjadi agenda rutin bagi sebagian besar masyarakat muslim Indonesia, khususnya yang sangat mencolok adalah di Jawa.

Ada apa sebenarnya ? Hari suci yang diakui pemerintah ini menjadi ritual tahunan dan menyedot berbagai keterlibatan praktik sosial-ekonomi dan politik negeri ini. Pemerintah pun diuji kredibilitasnya dalam kerangka political will menghadapi momen lebaran, mulai dari kebijakan fluktuasi harga bahan pokok, transportasi darat, laut dan udara, keamanan dan lain sebagainya.

Saya berusaha menelisik dengan mengajukan pertanyaan apa motif dasar yang mendorong laju pergerakan orang-orang dalam mudik lebaran. Saya berusaha mendekati dengan pandangan psikologi positif. Psikologi positif yang dimaksud adalah melihat kejadian dan nilai mudik lebaran dari sudut pandang yang baik-baik sehingga dapat dikeluarkan penjelasan psikologis terhadap peristiwa yang baik tersebut. Sebuah dorongan yang bernilai positif dari aktifitas mudik karena bagaimanapun pemerintah tidak bisa menghalau laju mudik lebaran. Pandangan saya ini akan saya perkuat dengan data survey melalui media sosial twitter. Survey ini bersifat terbatas, hanya satu item dan responnya terbatas klik pengguna media sosial twitter yang kebetulan bersedia mengeklik pertanyaan saya yang terunggah di twitter.

Keluarga; Basis kerinduan tidak tergantikan
Kita pernah mendengar sountrack sinetron keluarga cemara yang pernah hit di tahun 90-an. “Harta yang paling berharga, adalah keluarga.” Pepatah bijak pun mengatakan, sejauh burung terbang, dia akan kembali ke sarangnya.” Keluarga adalah pusat kembali bagi masyarakat Indonesia. Boleh jadi ini dapat membenarkan konsep masyarakat Asia lebih condong pada cara hidup kolektifisme.

Keluarga adalah mikrosistem perkembangan manusia, begitu Bronfenbrenner, ahli perkembangan menyebutkan bagaimana manusia tumbuh bersifat interdependen. Interdependensi yang paling dini dan terbatas tetapi penting adalah ayah dan ibu yang mengasuh kita. Kualitas hubungan orang tua dan anak pada mikrosistem menentukan kualitas perkembangan anak. Mikrosistem inilah yang menjelaskan bahwa manusia pada seluruh perkembangan dini hidupnya dibentuk melalui lembaga informal keluarga. Di sinilah persaudaraan dini terbentuk dan sangat berharga bagi perkembangan manusia. Bahkan identitas diri seseorang dibentukpun dari cara keluarga menstimulasi anak-anak membentuk konsep dirinya.

mudik lebaran sedemikian massif ? Nampaknya bukan sebuah penjelasan tradisi lebaran semata. Lebaran adalah sebuah kesempatan yang digunakan orang-orang untuk kembali ke masa lalu ? Sebuah sejarah yang diidamkan setiap orang. Mereka berjuang kembali ke masa lalu, menemukan kembali entitas masa lalu dengan media masa kini, lebaran. Survey yang saya lakukan, 67 % responden melakukan mudik dengan dorongan ingin berkumpul bersama keluarga. Relasi persaudaraan yang dibentuk oleh masa lalu adalah relasi dalam keluarga. Inilah basis kerinduan yang tidak tergantikan.

Ini juga mencerminkan hubungan keluarga membekas sepanjang hayat. Keluarga memberikan kelekatan aman (secure attachment) yang membekas dan tidak terlupakan. Masa-masa pengasuhan dan hidup dengan saudara kandung melekat menjadi bagian dari biografi setiap orang yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Lebaran menjadi reproduksi kilat masa lalu tersebut meskipun hanya dengan hitungan hari. Semua orang yang mudik memburu momen itu.

Urutan yang kedua sebesar 22 % pemudik lebaran ingin menunjukkan darma bakti pada orang tua. Ada istilah sungkem, hormat keberkahan pada orang tua. Orang tua adalah metafisika kesuksesan, nasib baik dan bagian dari personalisasi setiap diri. Orang tua memiliki kekuatan kedua setelah tuhan. Bakti pada orang tua merupakan bukti keutamaan diri. Ada aura mistik dan keyakinan seseorang pada orang tua. Oleh karena itu, pulang kampung adalah merebut darma anak pada orang tua agar terus ada. Bahkan, meski sudah mati, mereka berdoa ke makam orang tua menjelang hari raya idul fitri.

Melengkapi dorongan lain mudik adalah merebut kembali kerinduan akan kampung halaman (11 %). Ini adalah perpanjangan dari sweet memories manusia urban. Saya ibaratkan seperti lanskap mentality. Dasar berpijak setiap orang dibentuk dan dijalani dari kecil di kampung. Mereka hidup memenuhi sudut tanah kampung yang didiami semasa dia dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua. Setiap orang mengalami masa-masa pertumbuhan dari rumah orang tua dan interaksi sosialisasi keluar rumah, seperti dengan tetangga, teman, perkumpulan sekolah masa anak-anak. Setiap orang memiliki ruang istimewa di setiap teritori hidupnya di kampung. Dan cara hidup ini juga sangat menentukan jati diri seseorang.

Kerinduan kampung halaman menjadi tidak terbantahkan karena lanskap masa kecil adalah bangunan pribadi yang sangat membekas dan tidak menghilang pada pertumbuhan manusia. Saya katakan demikian karena sampai matipun kampung halaman tetap menjadi pilihan peristirahan terakhir. Ada beberapa kasus yang ditemui, seseorang yang sudah meninggal, mereka dimakamkan kembali ke kampung halamannya. Kampung halaman tetap sebuah magnit yang tidak bisa dihapus dari memori seseorang. Ia bercokol begitu kuat hingga dibela sampai ajal.

mudik3

Ekpresi kebahagiaan saat berkumpul bersama keluarga Jombang

Menemukan kebahagiaan kolektif dalam keluarga
Dibalik masifikasi mudik lebaran tersembunyi imbalan subyektif setiap orang. Kebahagiaan. Ini boleh jadi nilai subyektif yang masih tersisa pada masyarakat urban. Mudik adalah kembali melengkapi mekanisme subyektif kebahagiaan keluarga. Urbanisasi tak mampu memutus mata rantai keluarga. Masyarakat urban terhubung dengan masa lalunya di desa. Tidak bisa dipungkiri bahwa kota-kota besar sebagian besar diisi oleh pendatang dari desa untuk mengais kehidupan barunya.

Survey 2 menggunakan media twitter

Survey 2 menggunakan media twitter

Saya telah melempar survey di twitter melalui satu pertanyaan, apa yang paling membahagiakan saat berkumpul dengan keluarga di hari lebaran? 58 persen responden memilih melepas kangen bersama keluarga. 25 persen mengunjungi kerabat, 8 persen memilih cerita sukses dan berlibur bersama.

Kerinduan terhadap keluarga terjawab pada saat mudik. Tidak bisa dipungkiri lagi, memang magnet berkumpul bersama keluarga adalah jawaban mendapatkan kebahagiaan setiap orang. Perjumpaan dengan anggota keluarga asal menjadi momentum setiap orang untuk melepas kangen. Perpisahan yang lama dengan orang tua, saudara dan kerabat kembali menyatu dan saling berbagi kerinduan. Mereka menarasikan balutan kesuksesan dan aneka cerita mulai dari cerita masa lalu, perkembangan kehidupan dari satu orang ke orang lain, sukses merintis karir sebagai tanda suksesnya anak turun sebuah keluarga.

Mudik melampaui materialisme untuk mendapatkan kebahagiaan. Harga dari sebuah kebahagiaan tidak harus dibayar setara dengan jasa atau uang yang dikeluarkan seseorang. Oleh karena itu sangat dimaklumi jika keluarga pemudik berusaha mengeluarkan uang tidak semestinya untuk pulang ke kampung halaman. Mereka sedang berjuang mengangeni keluarga dan kerabat. Kebahagiaan menjadi tujuan. Berkumpul dengan keluarga, melepas kangen (kerinduan), saling berkunjung ke saudara dan kerabat dekat menjadi salah satu bentuk-bentuk kebahagiaan tersendiri.

Keluarga memiliki peranan penting dalam mengaktifasi kebahagiaan seseorang. Keluarga adalah fundasi positif untuk menciptakan kebahagiaan. Ia adalah mimpi, imajinasi, kenangan, dan relasi positif yang menciptakan kehidupan seseorang di kemudian hari. Bagi para pemudik yang kembali ke masa lalu, ke orang tua, ke keluarga, berarti mereka dibesarkan dalam relasi keluarga yang sehat. Ia dipenuhi dengan memori masa lalu positif dan penuh makna. Makanya, masa lalu ini diburu dan digeluti oleh para pemudik untuk menajamkan aneka memori masa lalu yang menggemberikan.

Inilah kiranya jawaban, mengapa indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia jauh lebih tinggi dari kebahagiaan masyarakat Singapura. Orang Indonesia bisa melampaui materialisme untuk merajut kebahagiaan. Boleh jadi, ini yang disebut pepatah, “mangan ora mangan sing penting kumpul.” Selalu ada cara agar orang bisa mudik, tidak selalu ditentukan oleh kekayaan atau kepemilikan harta. Keluarga dan masa lalu mengangenkan akan digeluti bersama keluarga.

Itulah spirit mudik yang saya maknai. Bagaimana dengan anda? [Mohammad Mahpur]