Tulisan ini saya ambil dari press release hasil penelitian saya yang saya pertahankan di sidang penguji promosi doktor di Program Doktor Psikologi Universitas Gadjahmada Yogyakarta dan diberi apresiasi “Sangat Memuaskan”.  Tulisan ini tidak memberi gambaran lengkap pembahasan hasil penelitian, tetapi hanya secuil dari hasil yang saya sajikan untuk kebutuhan pemberitaan. Pada saat hasil ini saya sajikan pada 1 Oktober 2013, bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila, disertasi ini adalah satu-satunya disertasi yang menggunakan metode riset aksi yang disebutnya dengan pendeketan penelitian tindakan partisipatoris. Semoga dapat memberi inspirasi. Untuk mendownload versi pdf silahkan klik di link berikut Press release disertasi

Latar Belakang

Persoalan salah perlakuan, pengabaian dan budaya asuh yang tidak suportif menjadi bagian persoalan pengasuhan anak di daerah miskin (77% rawan kemiskinan) seperti dusun Sidorame. Usaha membangun kesadaran pengasuhan terasa lambat karena bantuan lebih konsumtif. Pendekatan komunitas adalah satu pilihan memecahkan masalah tersebut. Masyarakat diajak mandiri. Potensi kearifan lokal yang terabaikan direkonstruksi dan dikembangkan untuk memecahkan masalah pengasuhan yang sedang dihadapi.

Namun tidak selamanya kemiskinan menciptakan masyarakat tergantung terhadap bantuan dan dimarjinalkan dari beragam akses pemberdayaan. Penelitian ini adalah alternatif pemberdayaan komunitas ditengah krisis bantuan yang tidak memberdayakan tentang perbaikan kualitas pengasuhan anak. Melalui pendekatan penelitian tindakan partisipatoris, konsep dan tindakan intervensi dibangun dari pengetahuan lokal masyarakat. Pengetahuan masyarakat yang digali dari key person lokal mampu direkonseptualisasi menjadi gagasan pengasuhan positif sebagai bahan belajar bersama pada program SR Sangu Akik (Sekolah Rakyat Ngasuh Anak Sing Becik), sebuah program yang dirancang bersama komunitas untuk wadah pembelajaran masyarakat menjadi orang tua yang terampil mengasuh anak.

Penutupan sangu akik

Hasil Penelitian

Temuan penelitian ini menghasilkan lima strategi pengasuhan anak berbasis komunitas yang digunakan sebagai perspektif lokal menyelesaikan masalah pengasuhan anak. Lima strategi berikut adalah konsep lokal masyarakat. Setelah dilakukan tindakan penelitian partisipatoris, keberdayaan masyarakat mampu dibangun dari dalam komunitas melalui program belajar masyarakat yang disebut SR Sangu Akik (Sekolah Rakyat Ngasuh Anak Sing Becik). Hasil keberdayaan itu ditandai adanya perubahan terhadap pengasuhan anak yang dijelaskan sebagai berikut yakni ;

Berpikir positif tentang pendidikan. Menjadikan orang tua optimis, dan memiliki tekad mendukung anak sekolah. Dulu pemikiran ini tertutup oleh kalimat usang sehingga anak dinilai berdasarkan kebutuhan pragmatis ekonomi, seperti, buat apa sekolah yang tinggi toh akhirnya tetap menjadi petani. Kalau dasarnya anak tidak pandai (bodoh), dibiayai berapapun juga tidak berhasil. Perspektif ini mampu direkonstruksi dan melahirkan perubahan positif 67,44 % terhadap arti penting pendidikan. Orang tua mampu menyikapi keterbatasan ekonomi dan bertekad mendukung pencapaian pendidikan anak-anaknya meskipun mengalami keterbatasan.

Pembiasaan. Menjadikan orang tua mampu menciptakan lingkungan suportif belajar anak, dan orang tua berusaha terus menjadi teladan bagi anaknya. Pembiasaan membawa perubahan pengasuhan 61,80%. Orang tua bisa menciptakan ketenangan belajar termasuk membebaskan anak dari gangguan televisi di saat belajar. Sebelum terlibat di SR Sangu Akik orang tua tidak tahu kalau belajar membutuhkan ketenangan. Orang tua semakin sadar diri bahwa keteladanan adalah kunci membiasakan anak menjadi pribadi yang semakin baik. Meskipun keteladanan ini sulit diubah, namun orang tua semakin berhati-hati di hadapan anak.

Memberi dorongan. Menjadikan orang tua berdaya dengan perubahan 65.08 %. Orang tua mengetahui cita-cita anak dan memiliki tekad yang kuat mendukung kemauan anak. Dulu orang tua tidak tahu-menahu cita-cita anak sehingga hanya pasrah pada keadaan. Sekarang orang tua menjadi peduli dan perhatian dalam mendampingi anak pada saat-saat belajar dengan lebih rutin dan telaten. Sebelumnya orang tua mengabaikan, sibuk dengan pekerjaan, dan tidak tahu bagaimana caranya agar anak selalu belajar. Mereka hanya menyuruh tetapi tidak berperan mendampingi anak. Jika menasihati pun dengan cara kasar, mendampingi pun jarang (kolo-kolo). Orang tua sekarang mampu menjadi pendukung, menyediakan sumberdaya sosial untuk belajar dan nasihat yang diberikan sudah semakin santun.

Kebebasan terarah. Pernyataan perubahan yang dirasakan subyek tidak masif (34,44%). Hal ini karena sebagian besar partisipan memiliki pengalaman positif (positive deviance) mengarahkan anak. Adapun perubahan yang terjadi, orang tua terbuka dan mampu mengarahkan anak tanpa konflik. Mereka semakin bisa menjadi konsultan dan pembimbing anak. Orang tua pada akhirnya menjamin hubungan sosial anak dan memberi pengawasan untuk membantu kematangan sosial anak. Sebelumnya anak sering dimarahi jika berbeda dengan orang tua. Meski diberi kebebasan tetapi dulu tanpa pengawasan dan lebih sering melarang anak, namun sekarang kebebasan dijamin dengan diperkuat pengawasan terhadap anak. Kebebasan terarah menciptakan hubungan hangat minim konflik karena hubungan dialogis orang tua anak. Orang tua juga menjadi paham agar anak tidak terlibat kerja berat karena sadar tugas anak belajar.

Pengasuhan anak tanpa kekerasan. Makna perubahan yang dirasakan mencapai 66,67%. Orang tua semakin terlatih untuk mengontrol emosi marah dan belajar menghilangkan hukuman/pendisplinan dengan kekerasan. Sulit mengubah kebiasaan, namun meskipun masih berat tetapi orang tua terus berproses mengurangi kata-kata pekok, goblok, mendo, ndablek dan sebagainya yang menguat di masyarakat dan tindakan yang mengarah kekerasan seperti nggitik (memukul) anak. Usaha untuk mengubah kebiasaan ini antara lain karena adanya pengetahuan, usaha melatih diri, mengurangi kata-kata kasar dan tidak melakukan kekerasan. Mereka akhirnya menyadari kalau kata buruk menjadi doa dan tidak melakukan kekerasan karena anak membutuh kedekatan penuh kasih sayang. Kalau anak terus mendapat kekerasan, kapan dia memperoleh kasih sayang.

Perubahan itu menjadikan komunitas berdaya dalam memberikan layanan pengasuhan anak melalui program SR Sangu Akik. Selain itu SR Sangu Akik menjadi kekuatan lokal yang menunjukkan, meskipun masyarakat miskin, pengelolaan layanan berbasis komunitas yang tepat sasaran akan mampu menopang perubahan ke arah yang lebih baik, asalkan bantuan yang diberikan memberdayakan masyarakat.

Kapasitas komunitas juga semakin bagus. Mereka juga akhirnya mampu melanjutkan SR Sangu Akik ke tahap berikutnya secara semi-mandiri. Dalam arti kata, kelompok pendamping mampu mengorganisir kelanjutan SR Sangu Akik meskipun masih membutuhkan keterlibatan peran pendukung lainnya. Mereka menemukan cara kalau sebelumnya tidak tahu arah (grudak-gruduk).

Keberhasilan pengelolaan SR Sangu Akik adalah aksi pemberdayaan menganut prinsip pendekatan pengembangan komunitas yang ditemukan memiliki tiga kekuatan. Pertama, menguatnya interes kolektif mendorong kesadaran sosial sehingga SR Sangu Akik dapat dilaksanakan semi mandiri secara berkelanjutan oleh kelompok masyarakat. Kedua, kemampuan para pendamping lokal yang ditopang oleh kohesifitas sosial (kebersamaan) dengan istilah kompak. Kader lokal berkembang menjadi subyek yang terus belajar (becoming expert-leaner), terlatih menjadi pendamping lokal, fasilitator dan pemateri meskipun tanpa program pelatihan. Mereka tidak sebagai instrumen pembangunan tetapi subyek pemberdayaan. Ketiga, Hubungan dalam ekologi pengasuhan anak berbasis komunitas yang memberdayakan bersifat interdependensi dan setara. Ia juga ditopang adanya dukungan sosial, material, profesional, kelembagaan dan kebijakan. Masyarakat dengan kondisi kemiskinan tinggi pada kenyataannya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri asalkan didukung oleh kekuatan bersama.

Selain itu, pendekatan community development yang partisipatoris justru mampu mengembalikan kearifan lokal masyarakat yang semakin hilang ditutupi problematika praktis dan pendekatan instrumental yang menciptakan ketergantungan. Spirit kearifan lokal yang mampu direkonstruksi sebagai basis kesadaran pengasuhan anak ternyata masih ada dan berlaku untuk membangkitkan praktik-praktik pengasuhan anak secara positif. Pertama, optimism dan tekad adalah kearifan lokal pengasuhan yang membebaskan orang tua dari sikap pesimisme karena keterbatasan ekonomi dalam mendukung anak. Kearifan lokal ini lahir dari gagasan, meskipun orang tuanya bodoh tetapi jangan sampai anaknya bodoh. Begitu juga spirit meskipun orang kecil jika ditopang dengan optimisme dan ketekadan batin maka akan juga bisa melahirkan generasi yang sukses. Spirit ini terangkum dalam semut ireng pranakan sapi, tunggak jarak mrancak tunggak jati, kebo nusu gudel dan anak iku lanjarane uwong tua. Kearifan lokal ini menjadi dasar motivasi orang tua untuk terus survive melaksanakan tugas-tugas pengasuhan terutama untuk berpikir positif tentang pendidikan, pembiasaan dan kemampuan memberi dorongan pada anak.

Kedua. Harmoni (hubungan selaras) adalah kearifan lokal sebagai penjelas orang tua yang selalu telaten dan sabar dalam mengasuh anak. Mengasuh anak perlu kesesuaian batin. Sikap telaten dan sabar merupakan kunci agar orang tua ramah dalam membimbing tumbuh kembang anak. Orang tua mampu mawas diri yang didasari oleh keyakinan dan pemahaman agama sehingga orang tua mampu meregulasi emosi dalam mengasuh anak. Harmoni/keselarasan menata kesesuaian batin orang tua anak yang tidak lagi mengucapkan kata-kata jelek/kasar/memukul karena itu ibarat doa. Selain itu, nasihat bijak penting menggantikan cara-cara menasihati dengan kasar dan memukul karena anak lebih mudah dikondisikan. Pemahaman agama tentang dibolehkannya memukul perlu dipahami memukul sebagai aktifitas memberi nasihat dengan kata-kata baik.

Kesimpulan dan saran

Berdasarkan pendekatan penelitian partisipatoris ini disadari bahwa yang membuat masyarakat miskin terpuruk, termasuk kualitas pengasuhan anak, karena bantuan yang umum terlalu bersifat charity dan topdown. Bantuan tersebut tidak menganut prinsip pengembangan komunitas. Hasil penelitian ini merupakan antitesis bahwa bantuan yang berprinsip pada pengembangan komunitas lebih menjawab pemberdayaan kualitas pengasuhan anak dan menjamin hak-hak anak lebih progresif ketimbang charity atau kuncuran dana konsumtif.

Hal ini menjadi saran atau rekomendasi bagi para pengambil kebijakan dan pemberi bantuan, meskipun kucuran dana berlangsung masif, suatu misal seperti adanya jaminan sekolah gratis, namun ketika keberdayaan pengasuhan terus terabaikan maka anak-anak akan selalu berada dalam resiko putus sekolah, resiko salah perlakuan, pengabaian anak dan tidak terjaminnya hak-hak perkembangan anak menjadi semakin lebih baik. Oleh kesadaran pengasuh dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan orang tua niscaya sebagai barometer pemberdayaan pengasuhan guna meningkatkan kualitas hidup anak-anak kelak.