Pertemuan saya dengan Abdullah Sam (Pengasuh Pesantren Rakyat Sumberpucung Kabupaten Malang) kali ini mengamati area kebun dan kolam ala kadarnya, khas desa, milik Pak Amin–saya tidak tahu persis nama lengkapnya. Saya menuliskan sebuah inspirasi hasil perjumpaan saya dengan Abdullah Sam setelah mondar-mandir di sekitar kolam (Jawa: jomblangan) Sumberpucung. Pembicaraan yang sangat bermutu terjadi. Saya, Abdullah Sam, Pak Amin, istrinya dan anaknya. Awalnya saya dipameri pisang jenis Cavendhis yang ditanam belum genap satu tahun tetapi sudah berbuah penuh. Jika perawatannya bagus, buahnya seharusnya bisa lebih banyak. Namun, pisang ini hanya mengandalkan cara tanam ala kadarnya dan hanya dikasih pupuk kandang saja.

Bibit cavendhis diperoleh dari Yayasan Damandiri untuk pengembangan kegiatan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). Hal yang paling menarik adalah pertama saat diberi bibit cavendhis, sejumlah penduduk mencibir dan menolak, buat apa dan untuk apa. Penerimaan terhadap kegiatan baru sering terjadi di masyarakat. Termasuk penanaman pisang cavendhis. Abdullah Sam mencoba menyiasati berkolaborasi dengan pak Amin, hanya meminta lahannya ditanami saja. Akhirnya, bibit cavendhis bisa ditanam dan berbuah tidak sampai satu tahun. Masyarakat butuh bukti. Mereka cenderung tidak yakin terhadap penawaran perubahan. Sebagai mobilisator komunitas, perlu kiranya kita berkolaborasi terhadap orang-orang yang memiliki trust dengan kita terlebih dahulu. Orang yang memahami untuk tidak berpikir pragmatis, tetapi orang yang terbuka diajak melakukan percobaan-percobaan sederhana.

Setelah terbukti, ternyata pisang ini tidak kalah buahnya dengan pisang biasa. Pisang ini lebih cepat berbuah (masa berbuahnya lebih pendek) daripada pisang biasa. Mereka kemudian mulai merespon dan menaruh minat untuk menanam pisang cavendhis tersebut, tetapi sayang bibit sudah tidak ada. Konstruksi pengetahuan dan pengalaman masa lalu serta kebiasaan bertani bagi masyarakat tidak mudah diubah. Ini yang disebut dengan zona nyaman. Melihat pengalaman ini, perubahan itu dimulai bukan dengan cara massif (banyak orang), tetapi lebih dulu kita berusaha menemukan dan mengajak orang per-orang yang kooperatif mau maju. Praktik seperti ini diterapkan Adullah Sam. Mengawali penanaman cavendhis ini, tidak serta merta diterima langsung. Abdullah Sam bahkan harus memberi jasa agar lahan pak Amin bisa ditanami bibit pisang. Meski begitu, responnya tetap pasif. Peluang seperti ini tetap perlu diciptakan ditengah banyak pendudukan yang tidak mau bergabung. Kesempatan dan peluang kecil untuk perubahan perlu diketahui dengan jeli karena bujukan pertama cukup sulit bagi penduduk, namun ketika sudah melihat hasilnya, penduduk perlahan-lahan percaya terhadap apa yang kita sodorkan setelah ada bukti nyata.

Secara psikologis, perubahan masyarakat bersifat modeling dan evolusioner. Membangun pengetahuan baru pada masyarakat membutuhkan bukti konkrit bukan ekspektasi yang didasari oleh penjelasan abstrak, tetapi kita perlu memasuki dunia subyektif penduduk meskipun orang-per-orang. Kekeliruan terbesar pemberdaya masyarakat ketika mendapat penolakan dari masyarakat, biasanya langsung menilai bahwa masyarakat itu masih berpendidikan rendah. Tidaklah demikian bagi Albdullah Sam. Abdullah Sam melakukan terobosan bersekutu dengan pak Amin agar lahannya bisa ditanami cavendhis untuk memahamkan masyarakat. Setelah terbukti, penceritaan cavendhis dikembangkan dari mulut ke mulut.

Pisang cavendhis yang sudah berdiri tegak dan siap dipanin menjadi bukti tidak terbantahkan. Dari sini pengetahuan praktis bisa langsung diobservasi (diamati) oleh penduduk. Berdasarkan bukti ini penduduk baru diajak mengonstruksi tentang pisang cavendhis. Perlahan pengamatan baru ini menjadi pengetahuan baru yang menggeser pengetahuan lama penduduk. Di sinilah perubahan evolusioner terjadi dibarengi dengan bukti yang observable (bisa diamati). Ada istilah “seeing is believing.” Apa artinya ? Seseorang akan mau mengubah dirinya jika dia mengetahui lebih dahulu perubahan itu ada dan bias dilakukan atau terbukti, baru seseorang menjadi lebih percaya. Dari sinilah pengetahuan dibangun. Jadi, kalau ada yang terburu-buru menilai masyarakat menolak perubahan karena pendidikannya rendah, maka pelaku pemberdayaan sebaiknya melakukan bujukan/pengaruh dengan membangun pengetahuan dari dalam masyarakat, bukan lantas memaksakan teks pengetahuan dari pikiran kita, buku-buku dari sekolah atau perguruan tinggi untuk kita jadikan pengetahuan pertama bagi penduduk. Mulailah dari pengetahuan seadanya dari dalam masyarakat itu sendiri.

Sumber belajar di luar kelas

Cavendhis yang sudah berbuah adalah bukti atas pengetahuan yang kita miliki di awal, tetapi kini pengetahuan itu bukan lagi abstrak. Pengetahuan pisang cavendhis dapat diamati langsung dari dalam masyarakat itu sendiri dan menjadi pengetahuan baru yang menggeser pengetahuan lama. Apalagi ketika keunggulan cavendhis bisa kita kembangkan dari satu keunggulan ke keunggulan lainnya, mulai dari pembibitannya sampai produksi hasil pertaniannya.

Dari sinilah sumber pengetahuan komunitas bisa dibangun untuk mendorong keunggulan pertanian dan hasil pertanian. Tetapi sayangnya, sejauh ini petani masih ditempatkan sebagai pengguna rekayasa bioteknologi, semacam pisang cavendhis sehingga mereka masih saja sebagai subyek pasif, yakni sebagai penanam dan bukan orang yang terlibat secara kolaboratif dalam pengembangan transformasi bioteknologi pertanian. Mereka masih sebatas konsumen. Oleh karena itu, lokasi tanam cavendhis seharusnya adalah lokasi darimana sumber pengetahuan itu dibangun melalui prinsip kolaboratif dan kemitraan.

Panen cavendhis di Sumberpucung boleh jadi sebuah transformasi, tetapi ketiadaan keterlibatan sumber-belajar lain bagi pengembangan bioteknologi dan teknologi hasil pertanian menyisakan jarak pengetahuan antara hasil rekayasa bioteknologi dan teknologi hasil pertanian yang lahir dari pusat-pusat uji coba laboratorium dengan pengguna langsung di lapangan.

Penasaran dengan perkembangan terkini pisang cavendhis, saya kemudian browsing di internet. Pisang ini ternyata menjadi andalan ekspor di beberapa Negara, termasuk Indonesia, dan hampir semua konsumsi pisang dunia tergantung pada jenis cavendhis. Cavendhis menjadi komoditas tunggal untuk konsumsi dunia. Kini, kasus hama telah menyerang cavendhis dan dikhawatirkan pisang unggulan dunia ini akan musnah akibat hama yang menyerang di sejumlah negara pengekspor cavendhis. Nah, di Sumberpucung, cavendhis masih bisa berbuah. Kenyataan ini menolak fakta cavendhis punah dari sudut desa pertanian Sumberpucung. Di sini sebenarnya antitesis dunia itu layak dikembangkan dan seharusnya menjadi pusat penelitian-penelitian berbasis komunitas desa petani.

Menimbang perkembangan ini, Abdullah Sam sebenarnya telah memulai transformasi yang menggedor mitos bahwa satu-satunya sumber pengetahuan adalah sekolah atau kelas dan laboratorium yang tidak bisa ditembus oleh masyarakat awam. Abdullah Sam dengan teknik kolaboratif bersama pak Amin telah merintis sebuah praksis (tindakan pembebasan) pengembangan sumber-pengetahuan dari dalam komunitas, bukan dari ruang-ruang kelas yang dipaksakan sebagai barang jadi dan masyarakat sebagai konsumen saja atau mengikuti ilmu dari kelas-kelas perguruan tinggi.

Saya tunjukkan bukti. Setelah kami memetik satu tundun (Jawa) cavendhis, ada diskusi lanjutan mengenai peluang-peluang “kekinian” mengembangkan berbagai varietas tanaman unggulan. Kami sempat membahas perkembangan ketela pohon yang dapat dipanen hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Pak Amin yang menceritakan bahwa dia sedang dalam proses mencoba menanam ketela pohon tersebut.

Diskusi ini gayung bersambut. Sampailah ide dari Abdullah Sam yang kemudian menawarkan pembudidayaan lele untuk wisata perikanan dengan menggunakan lahan yang dimiliki pak Amin.

Kombinasi dalam mengelola lahan pertanian di pekarangan pak Amin merupakan aktifitas yang produktif dan penuh uji coba. Secara tidak disadari, kami melakukan diskusi untuk mengelola lahan pertanian agar bisa ditanami produk-produk mutakhir (kekinian). Perbincangan ini merupakan bukti praktik belajar masyarakat untuk melakukan perubahan demi inovasi bidang pertanian.

Lahan pak Amin adalah laboratorium praksis. Tempat ini sebagai medan belajar masyarakat. Kami mendiskusikan beberapa peluang pengembangan bidang pertanian. Ada uji joba yang didasari oleh sensitifitas intuitif, mencoba hal baru yang dipikirkan dan mengaplikasikannya. Ketika berhasil, itu buah pelajaran yang ditemukan dari hasil uji coba. Independen. Jika tidak berhasil ya sudahlah. Toh, selalu ada hal-hal yang dipelajari mengapa uji coba menjadi berhasil atau belum berhasil. Perkumpulan dan diskusi seperti itu menjadi bagian dari proses membangun praduga, mencoba dulu, berhasil atau belum dan lalu dikembangkan secara berkelanjutan. Inilah miniatur masyarakat belajar. Sebuah cara belajar yang tidak melulu dibangun dari bilik-bilik kelas di sekolah atau perguruan tinggi.

Inovasi tidak lagi mengandalkan kelas formal. Jagongan dan cangkrukan menjadi aktitifitas diskusi menggali informasi, mengurai untuk menekuni proses, meninjau kembali hasil sampai mengelola inspirasi menjadi tindakan, tentu didampingi camilan dan beberapa cangkir kopi. Dari sinilah sekolah perubahan dimulai, bukan dari dalam kelas formal.

Saya hanya membayangkan, ini adalah miniatur belajar. Kolaborasi dunia sekolah (seperti saya), pak Amin, Abullah Sam dan beberapa anggota masyarakat adalah sebuah sekolah yang isinya diskusi kecil kelas. Tembok-tembok kelas sebaiknya didobrak agar tembok itu tidak mengisolasi realitas. Kelas ideal yang progresif adalah kelas perjumpaan relasi berkolaborasi antara sekolah, pak Amin (praktisi), Abdullah Sam (penggerak komunitas), yang menjadikan lahan perjumpaan seperti itu sebagai praksis kelas pembebasan.

Saya teringat, inilah sekolah pembebasan dan warna “deschooling society” dari Ivan Illich yang menggugat sekolah tidak lagi menjadi praktik pembebasan. Pertemuan saya, Abdullah Sam dan pak Amin adalah miniatur dari “deschooling society,” masyarakat tanpa sekolah. Sepertinya secara provokatif bisa saya sampaikan bahwa perjumpaan ini bisa menjadi salah satu pilihan sekolah baru sebagai antitesis sekolah bergedung yang telah dimitoskan yang semakin memperumit lahirnya perubahan sekolah yang revolusioner. Nampaknya, peluang di depan mata ini harus disadari oleh para pemangku pendidikan, terutama di kampus atau sekolah.

Bagi yang berminat mengembangkan pisang cavendhis atau varietas pertanian unggul, yuk melakukan gerakan deschooling society melalui Pesantren Rakyat Sumberpucung Kabupaten Malang. Silahkan hubungan saya di twitter saya, @mahpoer. Kita bisa lahirkan ilmuan desa ala orang desa.

Joyogrand,  Sabtu, 16 Juli 2016