Selama TIMNAS U-19 latihan di Batu bulan November 2013 sampai Januari 2014, saya berkesempatan lebih dekat berkomunikasi dengan para pelatih, lebih khusus ke mental coach, Guntur Cahyo. Kedekatan ini karena jejaring pertemanan sekaligus kedatangan dia sebagai narasumber psikologi olah raga di fakultas psikologi, tempat saya bekerja. Hubungan berlanjut selama ada pemusatan latihan di Batu. Pertemuan ini melahirkan wacana kritis mengenai sepak bola dan psikologi. Pembicaraan ini lebih pada sepak bola anak-anak. Yah, tidak lain membicarakan pembibitan pesepak bola nasional yang handal. Pembiacaraan kami sampai ke dunia kepelatihan hingga sepak bola sebagai sebuah budaya masyarakat yang perlu dilestarikan. Pada catatan ini, saya akan menguraikan keduanya secara berseri.

Kesalahan kepelatihan

Sepak bola menjadi salah satu olah raga bergengsi. Apalagi di era informasi global. Perubahan ini semakin mempengaruhi para orang tua pecinta bola. Syahdan, orang tua pecinta bola tak jarang juga turut bergeliat mendorong ke anak-anak yang berminat mengembangkan bakatnya bermain bola. Mereka kemudian berbondong-bondong mengirim anak-anak memasuki Sekolah Sepak Bola (SSB). Di Malang, SSB sudah menjamur di mana-mana. Anda yang tinggal di kota ini, kita akan jumpai anak-anak yang dikirim ke beberapa SSB di Malang. Mulai dari SSB setingkat kelurahan hingga ke SSB ternama di Malang.

Apa yang perlu dikritisi di sini. Orang tua dan pelatih perlu memahami, bagaimanapun anak-anak yang dikirim ke SSBmasih anak-anak. Mereka pun selayaknya diperlakukan sesuai usia perkembangannya. Jangan sampai anak-anak ini tereksploitasi hanya karena obsesi orang tua dan demi nama kebesaran tim atau SSB. Ketika ini terjadi, anak-anak menjadi alat bagi obsesi tersebut. Mereke dipaksa bermain sebaik mungkin, didisiplinkan sedemikian rupa, diatur dengan ketat, jam latihan yang diforsir dan bahkan terlibat kompetisi yang tanpa kompromi. Jika demikian SSB akan berubah menjadi monster yang mengorbankan hak-hak anak.

Situasi inipun sungguh terjadi, bukan tanpa bukti. Peristiwa tersebut saya dapat dari suatu kisah seorang pelatih sepak bola anak yang kebetulan satu tempat kerja. Dia mengatakan, kadang memang dalam sebuah kompetisi sepak bola anak, mereka terlibat pertandingan yang over dosis. Dalam sehari kompetisi misalnya, tim anak-anak terkadangikut bertanding lebih dari empat kali. Kondisi demikian bertentangan dengan perkembangan anak yang sehat. Anak tereksploitasi untuk target pertandingan. Ia menjadi instrumen kepentingan di luarkemampuan dan kebutuhan anak. Percampuran obsesi orang tua, keinginan pelatih, dan citra lembaga yang ingin disematkan pada anak tanpa sengaja telah mendikte bentuk-bentuk bias perlakuan yang salah dalam proses kepelatihan.

Menurut mental coach Guntur Cahyo dan head coach Indra Safri, masih banyak sistem kepelatihan pada SSB lokal yang salah kaprah dalam memperlakukan anak. Mereka tetap menekankan kepelatihan di SSB, terutama bagi siswa anak-anak, tetapi perlu menempatkan anak sebagai layaknya anak-anak. Sudut pandang pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi tolak ukur. Pelatih butuh memahami dimensi perkembangan anak. Keikutsertaan anak dalam SSB tidak selamanya dipukul rata kedalam tujuan karir sepak bola. Ada kalanya anak tidak musti dibentuk ketrampilan sepakbolanya untuk diproyeksikan menjadi pemain profesional tetapi sebagai wahana penyaluran hobi, kesenangan dan mematangkan pertumbuhan fisik dan perkembangan sosial anak. Kepelatihan berarti menciptakan peluang anak untuk memperoleh pengalaman yang beragam, inklusif, sederhana dan dalam proses belajar yang asyik serta menyenangkan. Anak akhirnya memperoleh kesempatan menyalurkan kesenangannya dan pada suatu waktu juga memperoleh lingkungan yang mendukung ketrampilan anak.

Sudut pandang ini saya temukan juga pada program TESCO. Sebuah program mengasah ketrampilan setelah sekolah di Inggris. Kepelatihan sepak bola tidak semata-mata meningkatkan kemampuan mengolah bola tetapi juga memfasilitas anak-anak yang ingin bergembira bersama teman-teman mereka.

Dunia anak dan kepelatihan menyenangkan

Menurut Guntur, pada posisi demikian pelatih sebagai fasilitator memahami latihan bola sebagai media memaksimalkan kegembiraan dalam nuansa emosi kolektif. Sedikit diselingi teknik-teknik pun juga boleh. Atau dalam posisi demikian, permainan bola dijadikan sebagai alat menilai talenta. Biarlah permainan bola berjalan natural. Pelatih tidak perlu mengontrol kedalam teknik yang amat jlimet. Cukup dikondisikan dalam keteraturan natural.

Sepak bola adalah permainan. Bagi anak-anak, pendekatannya pun juga disesuaikan dengan perkembangan anak-anak. Bermain sepak bola dengan begitu bukanlah kompetisi layaknya sepak bola dewasa. Tidak boleh dilupakan bahwa sepak bola juga bagian dari praktik/media bermain anak-anak. Perspektif perkembangan demikian penting dipahami oleh seorang pelatih dan tentu bagi orang tua.Pendekatan demikian justru akan mengasah talenta anak lebih natural. Belum saatnya bermain bola bagi anak-anak dikendalikan dengan pendekatan kepelatihan layaknya usia remaja. Teknik melatik ketrampilan olah bolanya pun tidak perlu ketat dan penuh disiplin tinggi yang menyebabkan anak justru jenuh sehingga membatasi ruang gerak bebas mereka. Begitulah pendapat seorang mental coach TIMNAS U-19 yang juga diamini head coach Indra Safri.

Guntur menegaskan, pertandingan sih boleh saja. Tetapi jangan diukur seperti kompetisi profesional. Ukuran pertandingan menurut dia, yang penting mengumpulkan gol terbanyak sehingga nuansa kegembiraan tetap terjaga. Menjaga suasana bermain dalam perspektif anak-anak adalah ibarat diktum pendidikan “bermain sambil belajar”. Begitulah kiranya perspektif Guntur mengenai kepelatihan pada SSB anak-anak. Dari sinilah bibit pesepakbola justru lahir dari bakat natural (alamiah) dan menurutnya jauh lebih menjawab penilaian untuk menemukan sejatinya bakat anak-anak calon pesepak bola handal di kemudian hari.

Saya sendiri menilai perspektif Guntur ada benarnya. Kemerdekaan anak yang terjamin melahirkan bakat sepak bola secara orisinil. Tugas pelatih untuk kategori sepak bola anak-anak adalah mengondisikan rasa suka dan bakat itu berkembang sesuai dengan naluri anak. Pelatih merangsangnya dengan cara-cara yang menggembirakan. Untuk itu, pelatih ada baiknya juga mencoba berdiskusi dengan para psikolog yang konsen pada dunia psikologi olah raga sepak bola anak.

Kepelatihan di SSB anak menjadi tempat memandu bakat anak. Program yang diutamakan adalah merangsang bakat berkembang semakin baik. Bakat menjadi semakin terasah ketika anak difasilitasi berbagai pengalaman yang merangsang bakat. Merangsang bakat sepak bola anak tidak sama dengan kompetisi kejuaraan. Tidak selamanya anak dituntut memenangkan kompetisi karena memang tidak semua mampu dipaksa untuk satu tujuan, yakni menang. Kepelatihan adalah modal yang disediakan untuk anak agar anak memiliki kesempatan menyalurkan kesukaannya secara baik dan menjawab perkembangan anak. Soal anak itu berbakat dan akan diproyeksikan sebagai pesepakbola bertalenta, tentu perlu dilatih sesuai dengan porsi perkembangan anak dan tetap membebaskan anak dari berbagai bentuk eksploitasi atasnama kompetisi (Mohammad Mahpur/bersambung).