Sajian ini adalah sambungan tulisan saya mengenai perpsektif sepak bola anak. Edisi kedua ini saya peruntukkan menggali perspektif sepak bola sebagai kebiasaan yang lahir dari rahim Nusantara. Indonesia. Sangat mungkin, dari nusantara inilah, pesepak bola berbakat bisa lahir dan jika ditemukan untuk kemudian digodok menggunanakan sistem kepelatihan yang baik, bukan tidak mungkin dari Indonesialah pemain dunia tidak mustahil akan lahir, tutur Pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri, yang juga diamini pelatih mental Guntur Cahyo, saat bertemu di Malang akhir tahun 2013 lalu. Berikut lanjutan tulisan saya.

Praktik Budaya

Kelahiran bakat sepak bola dalam negeri sangat erat dengan kepedulian semua masyarakat menyediakan ruang publik untuk bermain sepak bola agar sepak bola dapat selalu menjadi olah raga pilihan di kampung-kampung. Tidak hanya itu, kalaupun toh di sekolah atau di lembaga pendidikan, di masjid, di halaman rumah pun selalu ada pengakuan ruang publik untuk bermain bola bagi anak—anak, maka di sinilah sepak bola dibangun dari sudut pandang budaya.

Sepak bola direproduksi menjadi praktik antropologi kemasyarakatan. Ia hadir dan dimainkan sebagai bagian dari ekspresi kegembiraan dan kegemaran. Dunia sepak bola tidak hanya dunia seleksi dan menggantungkan diri pada SSB sebagai satu-satunya penyangga untuk memunculkan pemain berbakat nasional. Oleh karena itu di sini ruang publik yang tersedia untuk bermain sepak bola jangan dihabisi untuk kepentingan usaha atau profit pengembangan perumahan.

Pembudayaan sepak bola dapat hadir di berbagai kegiatan masyarakat, baik yang bersifat sebagai permainan pilihan bagi anak-anak, aktifitas penggunaan waktu senggang oleh para remaja di kampung atau event perlombaan yang diselenggarakan oleh masyarakat sendiri. Begitu juga di sekolah-sekolah, di pesantren, atau di pusat belajar masyarakat, misalnya. Sepak bola tetap hidup dan dihargai sebagai bagian pilihan ekstra kurikuler, kegiatan olah raga pilihan, atau ketersediaan ruang dan sarana yang dapat dimanfaatkan anak-anak ketika waktu istirahat atau waktu libur.

Sepak bola mengalir bersama kedalam jantung kegiatan masyarakat. Sepak bola bukan semata prkatik kompetisi yang berbiaya mahal. Bukan pula doktrin kapitalis yang berorientasi pada lahirnya profesi dengan bayangan keuntungan. Sepak bola adalah ruang ekspresi gerak tubuh kolektif. Sepak bola ada karena masyarakat tidak saja menggemari, memraktikkan, mereproduksinya kedalam permainan keseharian, atau waktu-waktu rileks tetapi ia bagian dari nadi proses hidup sehat masyarakat.

Sepak bola tetap terjaga sebagai praktik budaya. Ia hadir sebagai habitus (kebiasaan) yang dihargai masyarakat karena praktik budaya sepak bola adalah kebutuhan kolektif warga akan budaya sehat. Namun, semuanya akan menjadi kegiatan budaya manakala kehadiran sepak bola juga disadari oleh orang-orang penting seperti tokoh masyarakat, orang tua, pemangku kepentingan di tingkat desa, para guru, bahkan ustadz/kyai untuk selalu menjaga dan melestarikan sepak bola.

Pembudayaan sepak bola juga ditentukan oleh pemihakan para orang-orang tersebut. Mereka dalam praktik budaya adalah soko guru di masyarakat. Artinya, pembudayaan sepak bola bukan dibiarkan kedalam dinamika kemasyarakatan sendiri tetapi peran para tokoh (orang yang peduli) tersebut memberikan penguatan dan menjamin adanya ruang ekpresi. Suatu misal, tetap menjaga agar ruang publik sepak bola di pojok-pojok kampung tetap terawat dengan baik. Bahkan ruang publik itu tetap ada ditengah gempuran semakin rawan seiring kepentingan pembangunan.

Ruang publik sekaligus ruang budaya sepak bola di sebuah kampung

Ruang publik sekaligus ruang budaya sepak bola di sebuah kampung

Sepak bola menjadi praktik budaya. Ia adalah budaya permainan. Utamanya setiap anak dan para remaja memiliki kesempatan bergembira dengan sepak bola. Berdasarkan praktik budaya ini talenta sepak bola akan selalu ada dan dapat ditemukan di seantero nusantara. Guntur Cahyo mengatakan, peran penemuan bakat atau talenta sepak bola sebenarnya dapat dimulai dari sini. Dari ruang-ruang eksperimentasi budaya masyarakat yang selalu gemar bermain sepak bola. Para guru, para ustadz, para tokoh masyarakat yang peduli dengan sepak bola, mereka bisa berpartisipasi untuk mengondisikan, mengawasi, dan memelihara melalui berbagai cara. Dan dari sinilah sebenarnya calon pesepakbola berbakat bisa lahir dari nusantara.

Talenta lahir dari tindakan orisinalitas. Sepak bola sebagai praktik budaya adalah ruang dan kesempatan yang tercipta secara mandiri mewadahi munculnya bibit pesepak bola berbakat dari lingkungan alamiah. Hal ini memperlebar kesempatan munculnya pesepak bola berbakat dari seantero nusantara. Inilah istimewanya Indonesia. Semakin terbuka pembudayaan sepak bola, peluang munculnya pesepakbola berbakat sejak dini akan semakin terbuka dan meluas. Kemunculan ini tidak hanya tergantung dari lahirnya pesepak bola bentukan SSB karena biasanya SSB terbatas pada akses kota dan kalangan mampu. Sepak bola kampung baik yang bersifat permainan atau kompetisi ala kampung adalah modal Indonesia untuk merangsang lahirnya pesepak bola berbakat. Maka dari itu, penemu bakat pesepak bola nusantara tidak hanya tanggung jawab pelatih profesional yang mapan.

Para penemu bakat unggul pesepak bola nusantara dengan demikian dapat juga melibatkan peran para tokoh lokal (desa, kampung, kota), para guru sekolah, ustadz dan bahkan kyai-kyai kampung, para tokoh yang peduli, serta orang tua yang sehari-hari bisa mengamati gerak-gerik para pemain di tingkat lokal masing-masing. Orang-orang seperti inilah yang juga penting mengetahui, jeli dan tanggap ketika melihat ada gejala anak-anak berbakat yang bermain bola dalam kesehariannya. Boleh jadi mereka juga terlibat untuk sekedar memberi arahan, mengondisikan dan jikalau perlu sesekali memanggil pelatih profesional untuk sedikit memberikan sentuhan ketrampilan tanpa menghilangkan kegemaran mereka untuk tetap memainkan sepak bola sebagai praktik budaya.

Orang-orang penting seperti itu menurut Guntur Cahyo, pelatih mental TIMNAS U-19 adalah sosok penting yang perlu juga mendapatkan wawasan sepak bola. Untuk itu, beberapa profesional yang peduli sepak bola seperti kalangan akademisi atau beberapa ahli, alangkah baiknya juga melibatkan mereka sebagai orang yang memahami sepak bola secara sederhana. Kepedulian ini dapat ditempuh misalnya dengan kegiatan anjang sana, dalam bentuk pengabdian masyarakat bagi akademisi atau memperkuat komunikasi guru-guru olah raga (SSB) ke sejumlah kampung di nusantara.

Jika peluang praktik budaya ini disadari dan sepak bola menjadi kegiatan budaya lokal yang terus bertransformasi, tak bisa dipungkiri jika pesepak bola Indonesia kedepan akan diisi oleh pemain terbaik. Ini menjadi peluang jangka panjang jika Indonesia ingin menjadi pemain dunia di masa mendatang. Dari sinilah Indonesia memulai.

Apakah anda orang yang peduli dan mau menjadi penyangka di kampung-kampung ? Kepedulian anda menjadi penting untuk melahirkan pesepak bola berbakat untuk Indonesia.